Belajar Otodidak, Kini Punya Anak Polisi dan Taruna

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Jumat, 26 April 2019 - 12:53:59 WIB   |  dibaca: 540 kali
Belajar Otodidak, Kini Punya Anak Polisi dan Taruna

PATUT DITIRU : Rasan (baju biru) tengah serius memperbaiki perahu, Kamis (25/4).

TANGERANG - Mempunyai pekerjaan tetap menjadi impian banyak orang, namun tidak bagi Rasan (63), warga Kampung Karang Serang, Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang. Ia memilih menjadi tukang bengkel perahu dengan bermodalkan ilmu yang didapatkan secara otodidak dan peralatan sederhana seperti palu dan gergaji, bapak empat anak ini mampu menyekolahkan tiga anaknya hingga lulus kuliah di taruna pelayaran dan satu anaknya menjadi polisi.

Perahu berukuran besar terparkir di pinggir muara Sungai Cirarab, tepatnya di Kampung Karang Serang, Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Kamis (25/4) sekitar pukul 09.00 WIB. Nampak kondisinya sudah usang. Kayunya lapuk serta terdapat lubang di beberapa sudutnya.

Dengan kondisi seperti itu, nelayan tak mungkin memakainya untuk melaut. Bagi nelayan yang tak mampu, biasanya mereka membiarkan perahu rusaknya tergeletak di pinggir pantai hingga menjadi bangkai. Kemudian, hancur secara perlahan tergerus oleh ombak pantai. Atau mereka bongkar lalu dimanfaatkan untuk memuat berbagai benda.

Namun bagi nelayan yang memiliki dana, mereka memperbaiki perahunya ke Rasan. Tak hanya menerima jasa servis perahu, ternyata Rasan juga mampu membuat perahu. Di sela-sela memperbaiki perahu, Rasan menuturkan, dirinya sudah hampir 30 tahun lebih menjadi tukang bengkel perahu tradisional berbekal pengetahuan yang didapatnya dari sang paman sewaktu masih bermukim di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta. “Dulu awalnya saya tinggal di Pulau Tidung, Kepulauan seribu. Saya belajar memperbaiki perahu dari Paman saya.

Saya ikut dia memperbaiki dan membuat perahu, dengan begitu lama kelamaan saya bisa tahu cara-caranya. Kemudian saya pindah ke Tangerang, di sini saya sudah 30 tahun lebih,” ujar pria lulusan Sekolah Dasar (SD) ini.

Tak seperti di bengkel modern yang sudah menggunakan mesin untuk pengerjaannya, Rasan menggarap perahunya itu secara tradisional dan menggunakan alat-alat sederhana seperti palu dan gergaji. Menurut Rasan, selain ada orang  yang meminta jasa memperbaiki perahu, dirinya sering juga diminta untuk membuat perahu.

Langkah untuk membuat perahu ia mulai dari memilih kayu. Kata Rasan, kayu yang biasa digunakan adalah kayu mentru karena lebih bertahan lama ketimbang jati. Di lahan seluas 10×20 meter, kayu dipotong menggunakan gergaji. Kemudian permukaannya dihaluskan dengan mesin ketam.

Selanjutnya, agar dapat melengkung sesuai keinginan, maka kayu dipanaskan di atas api yang ditahan dengan pemberat. Rasan tak sendiri dalam bekerja. Dia dibantu dua pegawainya yakni  Sobirin dan Budi. Untuk membuat  perahu besar, ketiganya butuh waktu selama tiga bulan. Sedangkan untuk membuat sampan, mereka Cuma perlu waktu satu hari.

Rasan mematok harga Rp80 juta untuk perahu berukuran besar dan Rp2 juta untuk sampan. “Alhamdulilah pemesan lumayan setiap hari ada saja nelayan yang ingin servis perahu. Dan pemesan perahu pun bukan hanya dari Tangerang saja ada juga yang pesan dari kepulauan Seribu. Kalau ukuran besar sudah rapi dicat itu Rp80 juta belum sama mesin, kalau sampan 1 hari juga bisa langsung jadi,” ujarnya.

Rasan mengungkapkan, sebenarnya bisa saja dia berhenti dan menikmati masa tuanya. Sebab, selain profesi yang dia tekuni saat ini, Ia memiliki usaha lainnya hasil jadi dari ngebengkel perahu. “Entah kenapa saya sudah terlalu nyaman menggeluti bidang ini. Dan saya juga merasa kasihan dengan pegawai saya kalau usaha ini berhenti mereka nanti makan apa. Anak-anak sudah bilang ke saya untuk berhenti mereka bilang saya sudah tua. Hitung-hitung saya olahraga juga karena kalau saya diam saja badan saya sakit,” ujarnya.

Rasan menambahkan, lewat pekerjaan membuat dan servis perahu, dirinya dapat menyekolahkan tiga anaknya hingga lulus kuliah dan satu anaknya menjadi seorang polisi yang bertugas di Kepolisian Metro Jaya. Dia ingin anaknya-anaknya mengenyam pendidikan tinggi. Tidak seperti dirinya yang hanya lulus SD.

“Alhamdulilah tiga anak saya sudah lulus kuliah semua, dan semuanya mengambil jurusan kelautan. Satu anak saya jadi polisi. Saya tidak mau mereka bekerja seperti saya, mereka harus sukses jangan seperti bapaknya,” tutupnya.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Karang Serang, Slamet Riyadi mengaku kenal akrab dengan Rasan. Slamet menilai Rasan merupakan tukang bengkel perahu yang ulet dan rajin hingga mampu menjadikan anaknya  taruna pelayaran dan polisi. “Sebetulnya, dia (Rasan) disuruh berhenti sama anak-anaknya jadi tukang bengkel perahu, tapi tidak mau,” kata Slamet di kantor Desa Karang Serang.

Selain mampu menjadikan anaknya taruna pelayanan dan polisi, kata Slamet, dari hasil membengkel perahu itu, Rasan memiliki toko sembako di depan rumahnya. Sebetulnya, kata Slamet, dengan mengandalkan toko sembako itu, Rasan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa tua. “Perjalanan hidup Rasan ini tentu bisa dicontoh oleh warga khususnya warga Desa Karang Serang, dengan kerja ulet dan rajin, bisa mampu menyekolahkan anak-anaknya dan membangun toko sembako,” katanya.(IMRON ROSADI)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook