Harga Ditentukan Pembeli, Usai Lebaran Digratiskan

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Senin, 13 Mei 2019 - 13:37:51 WIB   |  dibaca: 286 kali
Harga Ditentukan Pembeli, Usai Lebaran Digratiskan

UNTUNG BESAR: Sobari sedang memetik timun suri di lahan samping rumahnya, di Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Minggu (12/5).

KABUPATEN SERANG - Timun suri menjadi salah satu buah yang banyak diburu pembeli saat bulan Ramadan sebagai salah satu menu buka puasa. Timun suri yang sudah banyak dikenal di antaranya timun suri asal Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, karena rasanya yang berbeda.

Jika kita kebetulan sedang melewati Jalan Raya Serang-Pandeglang, tepatnya di Kecamatan Baros saat bulan Ramadan kita akan melihat tumpukan timun suri di sepanjang sisi jalan tersebut. Pemandangan seperti itu sebenarnya biasa ditemukan di tempat-tempat lain termasuk di perkotaan namun jumlahnya tidak sebanyak di Kecamatan Baros.

Di Kecamatan Baros, penjual timun suri jaraknya sangat berdekatan antara 30 sampai 100 meter, terlebih di tempatnya timun suri dihasilkan seperti di Kampung Cipacung, Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, dimana timun suri dijual hampir di setiap depan rumah warga. Timun suri yang dijual disana masih segar karena baru dipetik dari sawah.

Salah satu petani timun suri di Kampung Cipacung, Desa Sidamukti yang berhasil diwawancarai adalah Sobari. Di rumah Sobari, sedang berlangsung transaksi jual beli timun suri dengan jumlah yang cukup banyak. Pembelinya merupakan para pengepul atau istilah masyarakat Baros adalah pengrewed yang juga masyarakat sekitar yang dipercaya oleh pembeli dari Tangerang dan Jakarta untuk belanja.

Bagian kiri belakang rumah Sobari dikelilingi sawah yang seluruhnya ditanami timun suri. Keseluruhan tanaman timun suri Sobari seluas 1.400 meter persegi. “Iya lagi panen timun puan (timun suri-red). Alhamdulillah walaupun baru jam 10.00 WIB sudah habis terjual, soalnya sebagian sudah ada yang pesen,” kata Sobari, Minggu (12/5).

Bulan Ramadan bagi masyarakat Baros menjadi berkah tersendiri karena masyarakat bisa memperoleh penghasilan tambahan dari menanam timun suri. Para petani pun sudah mengetahui kapan benih timun suri harus ditanam sehingga saat masuk puasa, tanamnya sudah bisa dipanen.“Petani di sini nanamnya pas awal bulan Rajab atau dua bulan sebelum puasa. Kalau tidak terkena hama cantrang insya Allah pas masuk puasa sudah bisa dipanen,” ujarnya.

Seperti pada umumnya tanaman lain, timun suri juga butuh perlakuan khusus agar pohonnya subur sehingga menghasilkan buah yang banyak. “Sama seperti tanaman lain harus diberi pupuk yang cukup terus disemprot pohonnya agar tidak tidak diserang hama cantrang. Pas pertama nanam, benih diusahakan tidak terendam air karena bisa-bisa akan busuk,” ungkapnya.

Adapun biaya yang dikeluarkan untuk menanam timun suri tidak terlalu besar karena petani hanya membeli pupuk dan obat untuk menyemprot tanaman. “Untuk yang saya ini (1.400 meter-red) kurang lebih biayanya Rp5 juta sampai 7 juta,” katanya.

Pria yang mengaku sudah bertani timun suri sejak usia 12 tahun itu menuturkan, hasil panen timun suri bervariasi tergantung kesuburan tanaman, namun jika dirata-ratakan dari miliknya seluas 1.400 meter untuk sekali panen menghasilkan 5 sampai tujuh kuintal atau 500 sampai 700 kilogram untuk sekali panen.

“Untuk panennya tiga hari sekali kalau biar tuanya serentak, bisa juga tiap hari dipanen tapi enggak bisa sekaligus. Kemudian untuk hasilnya kalau panen pertama 5 kuintal panen selanjutnya pasti turun,” tuturnya.

Usia tanaman timun suri sendiri biasa bertahan sampai tiga bulan lebih, namun biasanya pada 25 Ramadan, tanaman sudah tidak produktif lagi. Sehingga ketika memasuki bulan 1 Syawal masyarakat bebas mengambil ke sawah orang lain tanpa harus membayar.“Kalau setelah Lebaran masyarakat bebas ngambil karena masyarakat di sini menganggapnya timun suri itu hanya untuk dijual bulan puasa saja,” paparnya.

Untuk penjualan, petani di Desa Sidamukti tidak mengalami kesulitan karena pada pembeli datang sendiri, baik dari Serang dan sekitarnya maupun dari masyarakat luar Banten. Pada tahun ini harga timun suri terbilang cukup bagus karena tidak berbarengan dengan musim durian atau rambutan.

“Untuk harga sekarang ini paling rendah Rp2.500 per kilogram tapi kadang sampai Rp3.000 per kilogram. Jadi kalau dirata-ratakan untungnya per hari untuk tanaman seluas 1.000 meter, Rp2.500 kali 500 kilogram, kurang lebih Rp1.250.000 per hari,” katanya.

Untuk timun suri sendiri harganya ditentukan oleh pemborong. Jika sedang laris, dan stok di pasar sedang berkurang, pemborong membelinya dengan harga yang tinggi. “Kalau yang belinya buat dimakan, kita yang nentuin harganya. Kalau untuk dijual lagi biasanya mereka yang ngasih harga ke kita,” ucapnya.

Pria yang mengaku memiliki sampingan sebagai guru Silat Cimande itu mengungkapkan, pembeli timun suri di kampungnya berasal dari Kota Serang Tangerang, Jakarta, Bogor, dan Bandung, Jawa Barat. Para pemborong sendiri jarang sekali memberi timun suri yang ukurannya besar karena mereka mengganggap kurang bagus.

“Kalau yang sudah mateng bertahan paling sehari, makanya yang beli orang-orang sekitar sini. Tapi kalau yang masih mentah tapi sudah tua bisa bertahan sampai tiga hari, yang masih mentah ini yang dikirim ke luar kota,” ujarnya.

Namun kebanyakan petani timun suri di Desa Sidakmuti tidak menanam di sawah miliknya, melainkan milik orang lain yang kebanyakan tinggal di Jakarta sehingga petani harus memberikan sebagian hasilnya kepada pemilik sawah.“Kebanyakan sih mengelola saja, cuman bedanya kalau nanam timun puan, pemilik lahannya yang penting ada rasa, walaupun alakadarnya. Tapi kalau padi harus dibagi dua sama pemilik lahan,” ungkapnya.

Tidak hanya di desanya, pria berusia 57 tahun itu mengatakan, hampir sebagian masyarakat di Kecamatan Baros pada bulan Rajab menanam timun suri sebagai penghasil tambahan. “Untuk bibitnya kita bikin dari timun puan yang sudah benar-benar tua, kita keringkan untuk ditanam tahun depan,” tuturnya.

Buah yang memiliki warna kulit kuning, putih, dan hijau tersebut di Kecamatan Baros disebut timun puan karena berbeda dengan timun suri yang dihasilkan dari daerah lain.“Kalau timun puan dari Baros teksturnya lebih halus. Terus kalau dibelah enggak berair. Kalau ada timun puan dibelah berair, pasti itu bukan dari Baros,” katanya.

Terpisah, Zulkifli, pedagang timun suri di Kota Serang mengatakan, timun yang dijualnya berasal dari Baros. Timun dijualnya per buah sehingga keuntungan yang diperolehnya lebih besar dari biaya saat ia beli. “Kalau saya beli 1 kilogram Rp2.500 terus saat ecer atau per biji saya bisa menjual sampai Rp5.000 sampai Rp10.000,” ujarnya.

Pria yang menjual dagangannya di Jalan Raya Serang itu mengaku jika sedang laris bisa menjual dagangannya sampai 50 kilogram setiap harinya. “Yang namanya jualan enggak nentu sih, kadang ada yang tiba-tiba datang beli banyak, kadang mah sehari paling beberapa orang soalnya yang jualan banyak,” tuturnya.(TANJUNG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook