Keterwakilan Perempuan di Dewan Minim

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Rabu, 15 Mei 2019 - 12:35:48 WIB   |  dibaca: 118 kali
Keterwakilan Perempuan di Dewan Minim

Dua staf DPRD Kota Tangsel sedang mengobrol di ruang lobi, Selasa (14/5).

KOTA TANGSEL- Keterwakilan 30 persen anggota legislatif perempuan di DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak terpenuhi. Namun jumlah Caleg perempuan terpilih  mendekati angka ambang batas, yakni 13 orang. Artinya, meningkat drastis dari tahun 2014 lalu yang selalu berada dibawah angka 10 orang.

Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Kota Tangsel, nama-nama bakal anggota dewan perempuan di DPRD Tangsel adalah Li Claudia Chandra, Paramitha Masayu, (Gerindra), Sri Lintang Rosi, Shanty Indriaty dan dr Shinta (PKS), Marlena, Nurhayati Yusuf, (Demokrat), Eva Puspita, Syariah (Golkar), Putri Ayu, Made Laksmi, Ledy M P Butar Butar (PDIP), Rohani Amin (PKB).

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Djaka Badranaya mengapresiasi keterpilihan caleg perempuan ini. Meskipun, kata dia, belum memenuhi 30 persen. “Itu sangat positif mereka bisa terpilih, dan jumlahnya juga mendekati 30 persen” kata Djaka kepada wartawan melalui telepon, Selasa (14/5).

Djaka mengungkapkan, sebagai anggota dewan perempuan, mereka kelak harus menunjukkan eksistensi kinerja sehingga tidak dipandang sebelah mata. “Utamanya, menyuarakan kaum perempuan dan kepentingan rakyat Tangerang Selatan,” ungkapnya.

Dihubungi terpisah, salah seorang caleg perempuan yang diprediksi lolos, Li Claudia Chandra menegaskan, dirinya melihat masih banyak hal yang harus diperbaiki di Kota Tangsel, terutama soal kebijakan-kebijakan pro perempuan. “Perempuan bukan hanya sebagai pelengkap 30 persen kuota yang ditetapkan undang-undang, namun harus tampil lebih menyuarakan aspirasi politik,” ungkapnya.

Li Claudia menambahkan, sudah dua periode keterwakilan perempuan di legislatif Tangerang Selatan masih kurang dari kuantitas maupun kualitas. Sehingga sampai hari ini tidak keluar kebijakan-kebijakan yang benar benar pro perempuan. “Saya menilai, saat ini kebijakan yang pro terhadap perempuan sangat minim, sehingga perlu ada perubahan untuk melahirkan banyak kebijakan yang pro terhadap perempuan.

Apa lagi kita sama-sama tahu kalau saat ini perempuan bukan lagi sebagai objek pasif saja dalam pembangunan daerah, tetapi sudah sangat aktif. Sehingga perlu ada regulasi khusus yang bisa mendukung setiap pergerakan perempuan di Kota Tangsel agar memberikan warna lebih baik bagi kota kita ini,” pungkasnya. (imron).

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook