Listrik di Huntara Mahal

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Rabu, 15 Mei 2019 - 13:12:47 WIB   |  dibaca: 177 kali
Listrik di Huntara Mahal

MASIH TERHIMPIT : Warga korban tsunami beraktivitas di hunian sementara di Kampung Citanggok, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Selasa (14/5).

LABUAN - Korban bencana tsunami yang tinggal di hunian sementara (huntara) di Kampung Citanggok, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang mengeluhkan biaya listrik yang cukup mahal. Nurhayati, salah seorang pengungsi mengaku kewalahan membayar listrik. "Kendalanya pembayaran listrik mahal. Kan listrik ini pakai token pulsa satu KWh (kilowatt jam) yang digunakan oleh tiga rumah. Baru berapa hari saya sudah bayar Rp50 ribu. Padahal, kemarin baru beli," keluh Nur ditemui saat menjemur pakaian miliknya, Selasa (14/5).

Nur berharap pemerintah daerah bisa menangani keluhan tersebut. Sebab, jika tidak ditangani akan memberatkan warga, mengingat semenjak rumahnya rusak diterjang bencana tsunami akhir tahun 2018 lalu hingga kini belum punya pekerjaan tetap. "Kalau gak dibenerin, kami takut pembayaran listriknya kewalahan. Terlalu mahal, bagi saya. Apalagi suami saya hanya bekerja sebagai nelayan, dan belum pergi melaut," harapnya.

Sejak biaya listrik mahal, kata Nur, biaya untuk kebutuhan sehari-hari harus dikurangi. Sementara untuk memenuhi kebutuhan tersebut pihaknya harus bekerja serabutan. "Kadang saya jualan ikan di TPI (tempat pelelangan ikan) Labuan buat kebutuhan sehari-hari, itupun hasilnya tidak terlalu banyak. Paling hanya cukup untuk makan dan biaya jajan anak," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Maryati, pengungsi huntara lainnya. Kata dia, mahalnya biaya listrik disebabkan karena penggunaannya dilakukan secara bersama-sama. "Ya, benar biaya listrik mahal. Karena kan KWh listrik yang kami pakai itu gak dipisah, tapi satu KWh tiga rumah. Makanya, pemakaian juga ada yang banyak dan tidak," imbuhnya.

Menurutnya, keluhan itu harus mendapatkan penanganan dari pemerintah daerah. "Dari informasi yang saya terima kami akan tinggal di huntara sampai dua tahun. Ini kan sangat lama, jadi kami berharap biaya listrik ini gak terlalu mahal," katanya.

Camat Labuan Atep Purnama mengatakan, sudah mendapatkan laporan keluhan biaya listrik mahal. Saat ini pihaknya sedang mencari solusi agar biaya itu tidak terlalu memberatkan. "Memang tiga huntara ini satu KWh dua paket sekitar 900 watt. Bukan yang biasa sekitar 450 watt, tapi nanti kita bicarakan dengan PLN mencari solusinya bagaimanaa," jelasnya.

Atep memastikan penanganan listrik akan secepatnya dilakukan. Pihaknya berencana melakukan rapat koordinasi dengan para korban tsunami. "Mudah-mudahan minggu depan juga sudah normal. Sekarang kita mau musyawarah dulu. Karena kalau KWh listrik ini dipecah agak susah, karena kalau wattnya kita turunkan atau satu paket satu rumah takut tidak cukup," terangnya. (yanadi)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook