Komnas HAM Selidiki Penyebab Kematian KPSS

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 16 Mei 2019 - 12:24:22 WIB   |  dibaca: 133 kali
Komnas HAM Selidiki Penyebab Kematian KPSS

PANTAU: Anggota Komnas HAM Amiruddin menyambangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Serang, Jalan KH Abdul Fatah Hasan, Kota Serang, Rabu (15/5).

SERANG- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membentuk tim untuk mendalami penyebab meninggalnya para penyelenggara pemilu 2019. Pemantauan ini pun dilakukan di beberapa KPU yang banyak memakan korban jiwa pada pemilu 2019.

Demikian disampaikan oleh Komisioner Komnas HAM RI Amiruddin Alrahab usai mendatangi kantor KPU Kota Serang, Ciceri, Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (15/5).

Amiruddin mengatakan, kedatanganya ke KPU Kota Serang hanya untuk mengetahui kronologi penyelenggara pemilu bisa meninggal. Tetapi, kata Amiruddin, keterangan pun langsung ditanyakan kepada keluarga korban pemilu 2019.“Jadi kita ingin tahu penyebab meninggalnnya korban pemilu 2019. Karena kita ingin memastikan secara langsung, penyebab dan akibat korban meninggal dunia,” kata Amiruddin kepada Banten Raya.

Ia menuturkan, hasil yang didapat dari keterangan keluarga korban, ternyata beliau kelelahan dan mengalami sakit. Akan tetapi Amiruddin masih akan mencari tahu keterangan dari korban-korban pemilu 2019 di kabupaten dan kota lain di Banten. “Ini kan baru Kota Serang, dan belum menyeluruh. Jadi kita belum bisa menyimpulkan secara pasti penyebab meninggalnnya para penyelenggara pemilu 2019 di Banten,” tutur dia.

Amiruddin juga menjelaskan, untuk daerah-daerah yang menjadi lokasi pemeriksaan korban pemilu 2019 yaitu, Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat. “Kelima provinsi ini sangat penting, karena korban pemilu 2019 sangatlah banyak. Bahkan bisa dikategorikan sebagai peristiwa besar,” jelasnya.

Sementara itu, Anak dari Alm Ulum Supriyadi, korban pemilu 2019 Chandra  Kirana mengakui telah di interogasi oleh Komnas HAM mengenai penyebab awal meninggal ayahnya. “Saya jelaskana saja, jadi awalnnya ayah saya sakit setelah bertugas. Sebelum bertugas mah sehat walafiat. Setelah tugas ngeluh sakit kepala, karena kurang tidur,” ungkap dia.

Chandra pun menerangkan, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ayahnya mengalami tensi darah yang tinggi yakni hingga 160-180. "Penyebabnnya mah kurang tidur dan masuk angin. Jadi kita berharap, tahun depan penyelenggaraan pemilu tidak digabungkan seperti ini. Karena sangat melelahkan,” harapannya.

Di tempat yang sama, Komisioner KPU Kota Serang Iip Patrudin menyambut baik kedatangan Komnas HAM ke kantornya untuk mengetahui rekam jejak anggota KPPS yang meninggal dunia dan sakit.“Tadi Komnas HAM ada beberapa pertanyaan dilontarkan kepada keluarga korban, Pak Ulum alias Pulung. Silsilah sebelum apakah betul penyebab meninggal dunia akibat gara-gara bertugas di KPPS, sebelum menjadi tugas KPPS apa, kemudian nanya sakit itu apa memang bawaan atau sebab saat bertugas menjadi KPPS. Kemudian komnas hanya menggali itu terkait dengan apakah dari KPU itu ada makan ketika pelaksanaan hari H," ujarnya.

Chandra menjelaskan, saat itu stok makan cukup. Misalnya ada snack, bahkan ada kopi dan segala macam kebutuhan lain. Ia pun menyampaikan bahwa pihaknya telah melaporkan data korban penyelenggara pemilu yang menjadi korban sebanyak dua orang dan ada sekitar kurang lebih 25 orang yang sakit.

“Alhamdulillah kita paling cepat, sudah disampaikan ke KPU RI. Minggu depan sebelum pleno KPU RI 22 Mei yang didahulukan adalah Jabodetabek. KPU RI menjanjikan sebelum tanggal 22 Mei santunan sudah masuk, sudah diserahkan kepada keluarga korban,” jelasnya. (harir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook