BPOM Temukan Makanan Mengandung Pewarna Tekstil

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 16 Mei 2019 - 12:26:04 WIB   |  dibaca: 132 kali
BPOM Temukan Makanan Mengandung Pewarna Tekstil

BERBAHAYA: Petugas BPOM Serang bersama Dinkes Kota Serang bersama Koordinasi dan Pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Korwas PPNS) Polda Banten menemukan zat pewarna sintetik yang mengandung rodhamin B yang digunakan untuk memproduksi terasi saat operasi penindakan pabrik terasi udang cap bangau terbang di Lingkungan Sukadana I RT 004/003 Kelurahan Kasemen, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (15/5).

SERANG- Petugas Balai Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) di Serang kembali menemukan makanan berbahan zat berbahaya berupa zat rhodamin B atau pewarna makanan. Zat ini terdapat pada pacar cina kering yang dijual di pasar Karangantu, Kecamatan Kasemen.

Staf Inspeksi pada Bidang Pemeriksaan BPOM Serang Sigit Mulyono mengatakan bahwa petugas memeriksa 22 sampel makanan olahan dari pasar Karangantu. Hasilnya 21 makanan olahan negatif mengandung bahan berbahaya. Sementara 1 makanan yaitu pacar cina kering mengandung rhodamin b atau pewarna tekstil. Zat ini berbahaya bagi kesehatan tubuh."Bila dikonsumsi secara terus-menerus dan berlebihan zat ini bisa memicu adanya gangguan kesehatan berupa kanker, gangguan ginjal, dan lainnya," kata Sigit di Karangantu, Kamis (15/5).

Sigit mengungkapkan bahwa makanan yang mengandung pewarna tekstil biasanya memiliki warna yang sangat mencolok. Meski begitu untuk memastikan adanya rhodamin B tetap dibutuhkan adanya pemeriksaan, baik menggunakan pemeriksaan cepat (rapid test) bahkan menggunakan pemeriksaan di laboratorium.

Ia mengatakan produsen makanan sesungguhnya bisa menggunakan pewarna makanan yang bisa dengan mudah didapatkan di toko-toko bahan makanan. Pewarna makanan itu biasanya memiliki kode BPOMRIDN. Pewarna makanan yang dijual tersebut sesungguhnya lebih aman bagi kesehatan, sehingga para pedagang seharusnya memilih pewarna makanan bukan pewarna pakaian.

Selama pemeriksaan kemarin, petugas memeriksa sampel makanan di antaranya adalah tahu putih, tahu kuning, bakso ikan, bakso daging sapi, cireng, terasi, dan nuget. Pemeriksaan dilakukan hanya pada makanan-makanan yang sering kali ada penyimpangan.

Widiawati Diani dari Puskesmas Kasemen mengatakan bahwa ia ikut dalam pemeriksaan makanan olahan dengan petugas BPOM hanya mendampingi BPOM Serang. Dengan adanya temuan makanan olahan yang mengandung zat berbahaya ini maka pihaknya akan sosialisasikan kepada masyarakat agar lebih hati-hati dalam memilih makanan olahan yang dijual bebas di pasaran.

Sementara di lokasi terpisah, BPOM Serang bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang serta Koordinasi dan Pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Korwas PPNS) Polda Banten juga menemukan zat pewarna sintetik yang mengandung rodhamin B yang digunakan untuk memproduksi terasi. Temuan tersebut saat operasi penindakan pabrik terasi udang cap bangau terbang, di Lingkungan Sukadana I RT 004/003 Kelurahan Kasemen, Kecamatan Serang.

Dalam operasi penindakan terdapat 224 kardus dengan isi per kardusnya sebanyak 120 bungkus (pcs) produk yang sudah siap didistribusikan. Kemudian bahan kemas, label dan alat-alat produksi lainnya. Termasuk pewarna yang diduga pewarna sintetik.

“Ditemukan di sini, produk sudah jadi ada 224 kardus, dalam satu kardus ada 120 pcs, kemudian kami juga menemukan bahan kemas, label dan alat-alat produksi lainnya, termasuk pewarna yang diduga pewarna sintetik atau yang mengandung rodhamin B. Kami amankan semua untuk diproses selanjutnya,” kata Staf Bidang Penindakan Balai Besar BPOM Serang Puguh Jayanarto kepada awak media ditemui di lokasi.

Ia juga menyebutkan bahwa untuk kode Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) yang tertera pada label terasi tersebut adalah fiktif atau tidak terdaftar. Karena itu seharusnya yang tercantum adalah Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bukanlah kode Depkes RI seperti yang telah dicantumkan.

“Ini hasil pengawasan kami di lapangan, setelah melakukan sampling di pasar-pasar tradisional. Kemudian kami uji tes laboratorium dan ternyata positif mengandung rodhamin B. Untuk kode Depkes RI ini juga adalah fiktif dan tidak terdaftar. Jadi, kalau industri rumahan seperti ini bukan Depkes, tapi PIRT,” ucap dia.

Puguh menuturkan, tempat pengolahan pabrik tersebut belum memenuhi kaidah atau tata cara produksi pangan yang baik. Karena kurangnya kebersihan dan sanitasi pada pembuatan. Kemudian ia menjelaskan, dari sisi pekerja pun tidak ada yang menggunakan alat keselamatan (safety). Sehingga, banyak pelanggaran dan prosedur yang tidak sesuai dengan seharusnya.

Berdasarkan keterangan dari pemilik pabrik, ia mengatakan, bahwa mereka tidak mengetahui kalau pewarna yang digunakan merupakan bahan pewarna yang dilarang. “Pabrik ini juga sudah cukup lama dan produknya telah lama beredar di pasaran. Pemilik juga mengaku tidak mengetahui kalau pewarna itu berbahaya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan tindaklanjut dari pengawasan yang dilakukan BPOM Serang di sejumlah pasar tradisional yang ada di Kota Serang. “Sebelumnya kami melakukan pengawasan dan melakukan uji lab. Dalam pengujian, produk tersebut mengandung pewarna sintetik yang berbahaya, yaitu rodhamin B. Kemudian, berdasarkan hasil pengawasan dilapangan selama ini, hasilnya hampir seratus persen positif,” jelas Puguh. (tohir/harir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook