Yati Tinggalkan Tiga Balita

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Jumat, 17 Mei 2019 - 12:52:13 WIB   |  dibaca: 1993 kali
Yati Tinggalkan Tiga Balita

DUKA MENDALAM: Anak pertama Yati, Muhamad Dandi di pusara ibunya di Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang, Kamis (16/5).

SERANG - Kematian Yati (30), warga Kampung Cisaat, Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, tidak hanya mengagetkan keluarga. Namun juga membuat kaget warga sekitar. Betapa tidak, ibu lima orang anak itu harus meregang nyawa justru di tangan orang yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Toni dan Sarna di Kampung Beji, Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang. Toni merupakan ayah tiri dari Yati sedangkan Sarna tidak lain adalah ibu kandung Yati yang menjadi korban pembunuhan yang dilakukan suaminya bernama Taufik pada Rabu (15/5), yang dilakukan di rumah kontrakannya di Kampung Cisaat, di desa dan kecamatan yang sama.

Di rumah yang kini dihuni 14 orang itu, mata Sarna terlihat sembab akibat banyaknya air mata yang keluar. Sedangkan anak Yati yang paling tua yaitu Muhamad Dandi (19) hanya bisa termenung dan diam di bagian sudut rumah sambil mengelus-ngelus kepala Putri Asila (5), adiknya yang ketiga. Berbeda dengan Dandi, Eka Melviani (15) anak kedua Yati terlihat berusaha tegar walaupun sesekali meneteskan air mata.

Sambil memangku adiknya yang masih balita yakni Liyan (3), dan Linda (1,5), Eka menjawab setiap pertanyaan yang diberikan rombongan dari Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) dan Pusat Pelayanan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Serang, serta dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten yang datang untuk memberi semangat kepada anak-anak Yati.

Secara detil Eka menceritakan kejadian yang tidak mungkin dilupakan seumur hidupnya itu. Siang itu sekitar pukul 11.00 WIB, Eka mengaku sedang bersih-bersih rumah namun tiba-tiba adiknya Liyan dan Linda menangis sambil teriak-teriak dari dalam kamar.  "Pas denger Liyan sama Linda nangis, saya langsung lari keluar lewat pintu belakang takut si bapak masih ada. Begitu saya masuk lagi Liyan sama Linda lagi ngacak-ngacak darah mamah. Mungkin maksudnya suruh bangun," kata Eka, Kamis (16/5).

Perempuan yang tahun ini lulus SMP itu tidak menyangka akan terjadi peristiwa yang menyebabkan ibunya harus pergi untuk selamanya. Eka yang juga sudah satu tahun ikut dengan ibunya itu menyadari jika hubungan kedua orangtunya sudah tidak bagus. "Kalau bertengkar mah sering. Kemarin (Rabu-red) Liyan dan Linda sama sekali tidak mau minum susu sama makan, nangis terus," ujarnya.

Kematian Yati juga dirasakan cukup mendalam oleh Sarna sebagai ibu kandungnya. Sarna mengaku mengetahui anaknya jadi korban pembunuhan dari tetangga di kampungnya. "Saya lagi di sawah pas denger Yati dibunuh saya langsung pulang sampai rumah saya langsung pingsan. Kalau suami sekarang lagi di sawah," katanya.

Sarna menceritakan, hubungan perkawinan antara Yati dengan Taufik sudah berlangsung sekitar empat tahun. Pernikahan keduanya dilakukan secara siri dan tidak diketahui oleh pihak keluarga. "Enggak tahu (pernikahan dilaksanakan kapan-red), tahu-tahunya Yati datang ke rumah bawa hewan (Taufik-red) itu," ucapnya.

Pertemuan antara Yati dengan Taufik terjadi saat Yati mencari suami ketiganya yang merupakan bapak dari anak ketiganya yaitu, Putri Asila ke Palembang. "Jadi suami ketiga Yati itu orang Palembang juga pas lahir Putri baru 10 bulan dia pergi begitu saja. Akhirnya sama Yati dicari ke Palembang, bukannya ketemu, pulang-pulang malah bawa hewan (Taufik-red) ini," ujarnya.

Sedangkan pertemuan Yati dengan suami ketiganya tersebut terjadi di Balaraja, Tangerang saat Sarna bekerja di sana. “Yati anaknya lima, Muhamad Dandi, dan Eka Melviani anak dari suami kedua, Putri Asila dari suami ketiga, Liyan dan Linda anak dari suami yang keempat ini. Kalau dengan suami yang pertama enggak punya anak. Suami pertama orang Gumulung, Pabuaran, dan suami kedua orang Sukaraja, tetangga desa,” tuturnya.

Sarna mengungkapkan, setelah berpisah dengan suami keduanya, Yati sempat bekerja menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke Malaysia kurang lebih sekitar lima tahun lamanya. “Iya pernah kerja di Malaysia tapi lupa berapa tahunnya. Kalau tidak salah ada bangsanya (sekitar-red) lima tahun. Sebagai orang tua saya berharap kalau pelaku ini ditemukan minta dihukum mati,” katanya.

Sementara itu, tempat lokasi kejadian pembunuhan masih dipasangi garis polisi dan suasana di sana sepi meski posisi rumah berada di sisi jalan. Hanya di sebelah rumah itu terdapat dua orang petukang bangunan yang sedang mengerjakan pagar rumah. Salah satu mereka adalah Juhdi. Juhdi menceritakan bagaimana peristiwa pembunuhan itu terjadi.“Saya sudah sebulan bekerja di sini, hampir tiap hari yang ada pertengkaran tidak pernah ada tawa. Yang diributkan masalah ekonomi terus, bahkan suaminya pernah kedengaran ngancam istrinya mau dibunuh,” kata Juhdi.

Juhdi menuturkan, sebelum kejadian berlangsung, pelaku duduk di depan rumah yang dikontraknya kemudian masuk rumah dan terjadi pembunuhan sadis tersebut. “Pelaku itu pernah ngontrak di Curug Goong, terus di Sukaraja, terakhir di sini. Tapi setiap ngontrak diusir terus, di rumah Pak Haji Iyad ini juga sudah empat bulan enggak dibayar kontrakannya,” ungkapnya.

Pelaku yang dikenal sangar itu membawa kabur motor Beat tua milik pacar anaknya yang sedang direparasi di bengkel tidak jauh dari rumah yang mereka kontrak. “Jadi pelaku ini langsung mengambil motor yang ada di bengkel kebetulan kuncinya ngegantung. Kelihatannya memang semuanya sudah direncanakan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua P2TP2A Kabupaten Serang Ratu Anisa Lalu mengaku telah berkoordinasi dengan pihak sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) yang ada di desa tersebut. “Kalau kami dari P2TP2A ingin memastikan anak korban tetap bisa sekolah. Untuk yang masih kecil-kecil ini agar diajak bermain ke PAUD. Saya minta ke P2TP2A kecamatan untuk terus memantau perkembangannya,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Padarincang AKP Syarif Hidayatullah mengatakan hingga saat ini polisi masih mencari Taufik yang melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor milik pacar anak tirinya usai diduga membunuh istrinya"Dari semalam masih kita cari. Anggota masih memburu tersangka," katanya kepada Banten Raya, kemarin.

Menurut Syarif, kepolisian belum bisa menyebutkan kemungkinan pelaku melarikan diri ke kampung halamannya di Palembang, Sumatera Selatan. Namun kepolisian sudah memiliki petunjuk, dan saat ini masih dalam perburuan."Larinya kemana, belum bisa kita informasikan. Tunggu hasilnya saja nanti," ujarnya.

Lebih lanjut, Syarif mengungkapkan sudah ada beberapa saksi yang diperiksa oleh penyidik. Namun untuk jumlahnya dirinya belum mengetahui secara detail. Sebab saat ini kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian itu sudah ditangani Polres Serang Kota. "Kasusnya dilimpahkan ke Polres, tapi sudah ada yang diperiksa," ungkapnya.

Selain fokus perburuan pelaku, Syarif menambahkan kepolisian juga akan memberikan pendampingan kepada anak-anak korban yang mengalami trauma, setelah melihat secara langsung kondisi ibunya pasca di bunuh."Kondisi anak sehat. Ada (pendampingan), nanti dari Polres," ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, Yati (30), warga Cisaat Telaga Bakti, RT 04/01, Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang tewas digorok dengan golok oleh suaminya Taufik, saat sedang tertidur di dalam kamar, Rabu (16/5). Pembunuhan sadis itu diduga dipicu keributan rumah tangga akibat kondisi ekonomi. (tanjung/darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook