68 Terduga Teroris Ditangkap

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Sabtu, 18 Mei 2019 - 12:17:49 WIB   |  dibaca: 313 kali
68 Terduga Teroris  Ditangkap

PREVENTIF : Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal (kanan) didampingi Karo Penmas Brigjen Dedi Prasetyo (kiri) saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (17/5).

JAKARTA— Kelompok teror masih menjadi ancaman serius. Sepanjang 2019 Polri memastikan telah menangkap 68 terduga teroris degan berbagai rencana aksi. Peningkatan jumlah terduga teroris yang ditangkap begitu drastis jelang 22 Mei, mengalami kenaikan hampir 100 persen dibanding bulan lalu, April.

Sesuai data Polri, pada Januari ditangkap empat terduga teroris. Lalu, satu terduga teroris pada Februari. Maret mengalami peningkatan dengan 20 terduga teroris, April ada 14 terduga teroris yang ditangkap.

Pada Mei jumlah terduga teroris yang ditangkap mencapai 29 orang. Total ada 68 terduga teroris yang ditangkap. Delapan di antaranya meninggal dunia dalam proses penangkapan, baik karena melawan petugas atau melakukan bom bunuh diri, seperti kejadian bom Sibolga.

Kadivhumas Polri Irjen M. Iqbal mengatakan, yang menjadi fokus penangkapan pada Mei dengan 29 orang tersangka. Mereka ditangkap di berbagai daerah, seperti, Bekasi, Karawang, Tegal, Nganjuk, Bitung, Madiun, Sukoharjo, Grobodan dan Jakarta. ”Mereka terhubung dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD),” tuturnya.

Kelompok tersebut memiliki rencana memanfaatkan pergerakan massa saat 22 Mei. Dengan sasaran petugas keamanan dan massa. ”Maka, tindakan preventif strik dilakukan,” jelas mantan Wakapolda Jatim tersebut.

Menurutnya, dalam penangkapan tersebut didapatkan sejumlah barang bukti, yakni lima bom rakitan, empat pucuk pistol dan sejumlah panah. ”Ini bisa dilihat, botol biang parfum digunakan sebagai bom,” tuturnya.

Sementara salah seorang terduga teroris Dede Yusuf alias Jundi alias Bondan mengakui target penyerangan saat 22 Mei. Dia menuturkan, memang menargetkan serangan pada 22 Mei dengan bom remote control. ”22 Mei dipilih karena ada kerumunan massa,” ujarnya.

Serangan saat 22 Mei merupakan bagian dari keyakinannya bahwa demokrasi merupakan syirik akbar, yang membatalkan keislaman. Menurutnya, dengan aksi ini bisa melepaskan dirinya dari kesyirikan tersebut. ”Itu tujuannya,” tuturnya.

Iqbal menambahkan, bila aksi teror terjadi saat massa berkumpul, bisa jadi jumlah korban begitu banyak. Maka, Polri tidak akan pernah underestimate, termasuk untuk memastikan bahwa kelompok yang ingin menyerang saat aksi 22 Mei ini sudah tidak berkeliaran. ”Memang Densus 88 Anti Teror terus bekerja memastikan masih ada atau tidak yang bebas,” ujarnya.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, Polri menyiagakan 32 ribu personel gabungan dalam rangka mengamankan penetapan pemilu di 22 Mei yang juga dibarengi dengan aksi unjuk rasa. "Setiap bentuk gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) terus digiatkan, salah satunya upaya penegakan hukum aksi terorisme yang menjadi musuh kita bersama. Karena, bukan tidak mungkin potensi kerusuhan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut," tutur Dedi.

Terpisah, Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri Irjen Condro Kirono menjamin penetapan hasil Pemilu oleh KPU berlangsung aman dan damai. Namun bukan berarti pihak TNI-Polri mengendurkan pengawasan, terutama di media sosial. "Kami menjamin keamanan penetapan Pemilu 2019. Dan saat pelaksanaan nanti, kami pun telah menyiapkan kekuatan maksimal sudah disiagakan juga di Jakarta, kemudian di objek-objek vital. Namun itu untuk antisipasi," kata Condro. (fin)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook