Tampak Megah dari Luar, Kurang Terawat dari Dalam

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 23 Mei 2019 - 13:13:41 WIB   |  dibaca: 144 kali
Tampak Megah dari Luar, Kurang Terawat dari Dalam

BERSIAP BERIBADAH : Jemaah memasuki Musala PIR di lantai teratas pasar di Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (22/5).

KOTA SERANG- Pasar Induk Rau (PIR) sangat terkenal bagi warga Kota Serang dan sekitarnya. Konon semua kebutuhan rumah tangga tersedia di sana. Selain urusan belanja, pengelola pasar juga menyediakan musala untuk tempat beribadah. Seperti apa kondisinya? Berikut laporannya.

Cukup mudah menemukan musala PIR. Dari akses jalan PIR cukup mendongakan kepala ke lantai teratas. Musala pun akan terlihat. Cirinya adalah bangunan dengan kubah di atasnya. Fisiknya sangat mencolok, berwarna hijau dan putih serta memiliki ukuran yang besar. Tampilannya sangat megah jika dilihat dari bawah.

Untuk sampai ke sana bisa dilalui dari seluruh akses pintu masuk PIR. Ingat, ini pasar yang dikelola pihak ketiga. Masuk ke sana artinya harus mengambil tiket parkir dan bayar saat keluar. Dari semua jalur masuk, akses termudah adalah melalui Jalan Lingkar atau jalan yang biasa dipenuhi pedagang buah-buahan.

Kondisi jalan cukup becek. Sangat wajar jika kendaraan menjadi dipenuhi kotoran ketika keluar dari sana nantinya. Setelah melewati pintu masuk lalu lurus ke sebuah tanjakan untuk mencapai rooftop PIR. Yang malas berjalan? tenang, akses ini bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Posisi musala ada di pojok barat. Dekat dengan kantor pengembang PIR. Lagi-lagi dari posisi saat baru sampai ke rooftop musala terlihat keren dan luas. Selain bangunan utama, musala juga terdapat bagian yang menyerupai pendopo atau ruang terbuka dengan sejumlah tiang penyangga. Musala juga sudah dilindungi dengan pagar berwarna hijau. Tak ketinggalan beduk berukuran besar juga tersedia.

Coba mendekat dan terus mendekat, kondisi asli mulai terlihat. Warna hijau yang terlihat rapi dari jauh ternyata sudah pudar karena tertutup debu yang cukup tebal. Bagian pendopo yang terlihat sejuk dengan lantai berwarna gelap kondisinya tak jauh berbeda.

Jika sudah ada niatan bersantai merebahkan badan di sana, sebaiknya urungkan niat itu. Mengapa? Itu dikarenakan lantai juga dipenuhi debu. Bahkan tak sedikit terlihat tapak alas kaki yang masih basah. Sementara untuk lahan parkir, jangan khawatir karena di roof top maka areanya cukup luas.

Lantaran sedang bulan ramadan saat masuk ke dalam banyak orang di sana. Tapi banyak orang di sini untuk beristirahat. Ada rebahan, mengobrol dan duduk sambil memainkan gawainya. Bahkan ada juga yang tidur terlelap.“Bangun pak, bangun. Mau waktunya salat ashar,” ujar seorang wanita pengelola toilet musala.

Butuh usaha untuk membangunkan si pria karena mungkin saking lelapnya. Si pria baru bangun pada usaha yang ketiga kalinya. Memang suhu di dalam ini sangat sejuk. Hawanya seolah mengajak untuk memejamkan mata.

Sejuk memang tapi kondisi bangunan dari dalam nampaknya belum bisa mengimbangi kesan pertama saat melihat musala dari kejauhan. Lagi-lagi lantainya penuh debu. Atap banyak yang berlubang dan shaf pria dan wanita hanya dipisahkan oleh papan triplek dengan sejumlah tambalan.

Meski demikian, fasilitas musala cukup lengkap. Dari sajadah, mukena dan kitab suci Al Quran tersedia di sini. Pun demikian dengan tempat wudu dengan akses air yang baik dilengkapi dengan toilet. Sayang, untuk toilet jika ingin menggunakannya harus merogoh uang Rp2.000. Akan tetapi memang kondisinya cukup nyaman untuk ukuran toilet di sebuah pasar.

Dengan segala kondisinya tersebut nyatanya tak memengaruhi tempat ibadah itu sepi jemaah. Ketika azan berkumandang, perlahan musala menjadi penuh baik oleh pembeli maupun para pedagang PIR. Pasokan air di tempat wudu yang memadai membuat antrean tak terlalu menumpuk.

Salah seorang pedagang PIR Muhammad Nasir mengungkapkan, meski kebersihan musala kurang terjaga namun hal itu tak terlalu dipermasalahkan para pedagang. Justru mereka berterima kasih masih disediakan fasilitas musala. Baginya, yang terpenting mereka yang berada di PIR bisa beribadah.  

Walau memang dia juga tak menafikan jika dirinya ingin musala itu bisa lebih terjaga kebersihannya. “Ya biar lebih khusuk lagi ibadahnya,” ujarnya sambil tertawa.Dia berharap, pengembang pasar bisa lebih memerhatikan kondisi musala. Ayah dua anak itu menyarankan agar ada pembatasan orang yang bisa masuk di jam-jam tertentu. Dia mencontohkan, pembatasan dilakukan selepas waktu salat Isya. Kondisi gelap malam hari membuat siapa yang berbuat tanpa tanggung jawab sulit terpantau.

PIR hingga saat ini memang masih berputar pada isu kekumuhannya. Akan tetapi hal itu bisa diatasi jika ada kesadaran kolektif. Pengembang bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan juga pembeli dan pedagang bisa tutur menjaga semua yang telah disediakan. (JERMAINE A TIRTADEWA)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook