Banjir Bandang Terjang Empat Kecamatan

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Jumat, 24 Mei 2019 - 11:51:16 WIB   |  dibaca: 269 kali
Banjir Bandang Terjang Empat Kecamatan

TAK DISANGKA : Salah seorang santri di Pondok Pesantren Raudhatul Muhajirin di Kampung Kalawijo, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira memunguti kitab yang terselamatkan dari banjir bandang, Kamis (23/5).

RANGKASBITUNG - Banjir bandang setinggi dua meter memporak porandakan 10 desa di empat kecamatan di Kabupaten Lebak, Rabu (22/5) sekitar pukul 18.00 WIB. Desa-desa tersebut antara lain Desa Margaluyu, Maraya, Sukamarga, dan Desa Sindang Sari di Kecamatan Sajira. Kemudian Desa Cikarang, Leuwicoo, Sekarwangi, dan Desa Sukanegara di Kecamatan Mundang. Desa Sangiang Jaya, Kecamatan Cimarga, serta Desa Margawangi di Kecamatan Leuwidamar.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi mengatakan, banjir bandang datang saat warga baru saja berbuka puasa. "Data kerusakan sementara sebanyak 29 unit rumah rusak berat, 27 unit rusak ringan, tiga unit jembatan rusak, 3 ponpes rusak berat, dua unit majelis taklim dan satu unit sekolah dasar. Serta sebanyak 209 unit rumah terendam," katanya kepada Banten Raya, kemarin.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya langsung berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Gunung Halimun terkait dengan musibah tersebut. Iti menengarai banjir bandang terjadi karena adanya kerusakan di hulu sungai Gunung Halimun. "Ada kemungkinan terjadi penggundulan hutan. Mari evaluasi ke depan sehingga ke depan tidak ada banjir susulan, mari kita bahu-membahu membangun bersama," katanya saat meninjau korban banjir bandang di Kampung Kalawijo, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira.

Sementara itu, pantauan Banten Raya di Kampung Kalawijo, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira, banjir merusak hampir seluruh bangunan yang ada, terutama Pondok Pesantren Raudhatul Muhajirin. "Waktu kejadian banjir, pas buka puasa. Baru juga makan tiga suap, air datang. Saya langsung berlarian bareng temen menyelamatkan diri ke tonggoh (ke dataran lebih tinggi)," kata Amsor salah seorang santri Ponpes Raudhatul Muhajirin.

Amsor mengaku tidak menyangka akan terjadi banjir bandang. Sebelum berbuka puasa, ia bersama rekan-rekannya duduk santai di belakang musala sambil melihat air sungai yang saat itu tengah meluap berwarna keruh pekat. "Pas masuk waktu buka puasa, baru juga menyantap hidangan satu sampai tiga suap, air sungai yang disertai suara gemuruh tiba-tiba naik cepat hingga setinggi dua meter. Seketika kami semua langsung berlari tanpa membawa barang apa-apa terkecuali hanya sehelai pakaian yang dikenakan saja karena takut terbawa air," katanya.

Amsor bersyukur dirinya bersama puluhan santri lainnya berhasil menyelamatkan diri. Sementara pondok tempat dirinya menimba ilmu, hancur porak-poranda karena diterjang banjir bandang."Termasuk pakaian, serta sebagian kitab, dan sejumlah handphone milik temen juga hilang. Barang berharga yang berhasil diselamatkan hanya pakaian yang saat ini dipakai," katanya.

Amsor masih trauma dengan kejadian itu. "Kami semua selamat dan masih dapat melaksanakan sahur bersama yang makanannya dari pemberian warga," katanya.Eman, warga Kampung Babakan Padik, Desa Sukanegara, Kecamatan Muncang, yang rumahnya hancur terkena banjir bandang mengatakan, kejadian seperti itu baru pertama kali ini terjadi.  "Kalau sebelum-sebelumnya juga banjir tapi tidak sampai merusak. Ini mah sampai-sampai warung tempat berjualan hanyut semua tidak tersisa," katanya.

Lebih lanjut Eman mengaku, tidak dapat menyelamatkan barang dagangannya karena takut terbawa arus banjir."Soalnya gardu listrik roboh, bikin ngeri. Lantaran kena air mengeluarkan percikan api serta suara dentuman kayak peletasan sehingga boro-boro mau nyelamatin barang-barang takut kesetrum," katanya.

Lebih lanjut Eman mengatakan, selain warung miliknya, banyak rumah warga lain bernasib sama. "Rumahnya rata dengan tanah yang tersisa hanya tinggal lantai keramiknya saja. Ada dua orang ibu-ibu terbawa hanyut namun dapat selamat setelah tersangkut di pohon kecapi dan satunya lagi di bambu apus," katanya.

Dua orang ibu-ibu yang hanyut merupakan warga Kampung Cibunar. "Katanya hendak menyelamatkan mesin penggilingan. Padahal sudah dilarang karena mesinnya berat tapi tetap bersikeras, akhirnya terbawa hanyut. Sama warga yang satu sempat ditolong mengenakan tali tambang namun putus dan hanyut hingga akhirnya tersangkut di pohon bambu, dan baru ditolong lagi saat air sungai sudah surut sekitar pukul 22.00 malam," katanya.SKPD di Kabupaten Lebak. (purnama)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook