Persediaan Daging Sapi Defisit 2.160 Ton

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Sabtu, 25 Mei 2019 - 11:07:13 WIB   |  dibaca: 206 kali
Persediaan Daging Sapi Defisit 2.160 Ton

PASTIKAN HIGIENIS : General Manajer PT TUM Heroe Sinbad (paling kanan) dan Kepala Distan Banten Agus M Tauchid (ketiga dari kanan) memantau proses pemotongan sapi di Feedlot PT TUM Kawasan Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Kamis (23/5) malam.

SERANG – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mencatat ketersediaan atau stok daging merah untuk lebaran di Banten masih mengalami defisit. Dari total kebutuhan daging sapi 7.076 ton, kini baru tersedia sebanyak 4.916 ton.

Kepala Distan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, secara umum terdapat empat periode kebutuhan dominan akan daging sapi yaitu Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha dan Tahun Baru. Adapun untuk periode terdekat jelang Idul Fitri, ketersediaan daging merah masih mengalami kekurangan.

“Kami akui kebutuhan daging sapi untuk Idul Fitri defisit 2.160 ton atau 8.788 ekor,” ujarnya kepada awak media saat menggelar monitoring ke perusahaan penggemukan dan peternakan sapi (Feedlot) PT Tanjung Unggul Mandiri (TUM) Kawasan Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Kamis (23/5) malam.

Ia menuturkan, jika dilihat dari kebutuhan, diprediksi minimal daging sapi yang harus tersedia adalah sebanyak 7.076 ton atau setara 28.785 ekor sapi. Akan tetapi saat ini yang baru tersedia baru di angka 4.916 ton atau setara 19.997 ekor sapi.“Sebenarnya untuk stok Banten sudah surplus tapi untuk sapi yang siap potong jumlahnya masih lebih kecil dari kebutuhan. Sapi-sapinya masih dalam proses penggemukan atau belum siap potong,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, dia tetap meyakini, harga daging merah di pasaran masih akan tetap stabil hingga Idul Fitri. Saat ini harga daging sapi di pasaran berada pada kisaran Rp115.000. “Sementara untuk lebaran bisa mencapai Rp140.000, masih stabil. Kami juga meminta kepada beberapa feedlot untuk menambah stok. Intinya ingin suplai ada, barang ada,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini sebagian masyarakat sudah memahami perihal naiknya harga daging sapi jelang lebaran. Sebelumnya, banyak yang beranggapan kenaikan harga daging sapi dikarenakan penimbunan.

“Sekarang karena ada proses edukasi, jadi sudah paham. Kalau dulu sering masyarakat terjebak harga daging sapi bergejolak, harga daging sapi mahal. Mahal yang mana? Karena harga Rp120.000 per kilogram (dipasaran) ada, Rp200.000 ada, bahkan ada yang Rp300.000 atau Rp50.000 juga ada. Tergantung dagingnya,” tuturnya.

Selain memantau persediaan sapi yang ada di sana, tim Distan juga secara langsung memantau proses pemotongan sapi. Mereka ingin memastikan jika daging yang dihasilkan memiliki kriteria aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).

General Manager PT TUM Heroe Sinbad mengatakan, untuk kebutuhan Idul Fitri diprediksi jumlah pemotongan sapi akan meningkat menjadi 7.000 ekor. Jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya, jumlah sapi yang dipotong oleh PT TUM hanya mencapai 3.500 hingga 4.000 ekor. “Jadi menjelang lebaran ada kenaikan 33 persen,” ucapnya.

Ia mengatakan, pemotongan sapi PT TUM bekerja sama dengan 25 rumah potong hewan (RPH). Sapi yang ada di kandang PT TUM merupakan sapi jenis Brahman Cross asal Australia. “Kalau di sini (RPH yang dikunjungi tim Distan) hanya 10-15 ekor per malam,” tuturnya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook