Barang Bukti Korupsi Senilai Rp 40 Miliar Dicuri

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 28 Mei 2019 - 15:14:51 WIB   |  dibaca: 727 kali
Barang Bukti Korupsi Senilai Rp 40 Miliar Dicuri

HILANG: Barang bukti KM Kayu Eboni tengah bersandar di Perairan Salira. Saat ini, kapal sitaan negara itu dilaporkan telah hilang dicuri.

SERANG-  Barang bukti korupsi titipan Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat berupa Kapal Motor (KM) Kayu Eboni senilai Rp 40 miliar yang berlabuh di Perairan Puloampel, Kabupaten Serang raib dicuri. Kasus tersebut kini telah dilaporkan ke Polda Banten dengan dugaan tindak pidana pencurian dengan pemberatan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Banten Raya, pencurian barang bukti KM Kayu Eboni itu terjadi pada Kamis (23/5) sekitar pukul 21.30. Sebelumnya barang bukti yang dalam keadaan black out atau mati mesin dititipkan ke PT Archo Cipta Mandiri, di Perairan Puloampel.

Hari itu, dua kapal tugboat dengan nama lampung Neolitus 01, dan Dragon Net II merapat ke lambung KM Kayu Eboni yang tengah dijaga dua orang petugas dari perusahaan yang menerima titipan barang bukti tersebut. Saat merapat, tujuh orang yang tidak diketahui identasnya naik ke atas KM Kayu Eboni.

Di sana ketujuh orang itu kemudian meminta izin kepada kedua petugas tersebut untuk menarik kapal sitaan Kejari Jakarta Pusat tersebut. Ketujuh orang itu kemudian memotong rantai kapal dengan menggunakan alat potong las. Selanjutnya dua kapal tugboat itu menarik kapal itu dengan menggunakan tali tambang ke arah Perairan Salira.

Saat dilakukan penarikan paksa tersebut, diduga ada dua kapal patroli yang ikut melakukan pengawalan. Atas kejadian itu, Kasi Pidsus Kejari Jakarta Pusat Ista Catur Widisusilo melaporkan kejadian itu ke Mapolda Banten pada 24 Mei 2019 dan peristiwa itu telah menyebabkan kerugian negara Rp 40 miliar.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan RI Agung Mukri membenarkan adanya laporan dugaan pencurian barang bukti korupsi sitaan Kejari Jakarta Pusat tersebut. Pencurian itu dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai pemilik kapal."Barang bukti itu Kapal Eboni sudah diambil oleh negara, dititipkan ke PT PANN untuk perawatan dan kita masih proses lelang. Ternyata ada yang mengaku-ngaku pemilik yang sah dengan menunjukan dokumen-dokumen," katanya kepada Banten Raya melalui sambungan telepon selulernya.

Meski begitu, Mukri mengaku kurang mengetahui barang bukti KM Kayu Eboni dalam perkara kasus korupsi apa. Namun dirinya memastikan kapal tersebut disita negara dan dalam proses pelelangan. "Artinya kita dalam tahap lelang, sudah kita laporkan ke Polda Banten. Bisa tanyakan ke Kasipidsus Pusat, bilang dari saya," katanya.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Edy Sumardi membenarkan adanya laporan tersebut ke Polda Banten dan kini laporan itu sudah dilimpahkan ke Ditrektorat Kriminan Umum (Ditkrimum) Polda Banten. "Iya ada (laporan), sudah di Krimum," katanya.

Untuk diketahui, KM Kayu Eboni merupakan sitaan negara dalam kasus pemberian kredit oleh PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) ke PT Meranti, atas dugaan tindak pidana berupa mark up dalam pemberian fasilitas keuangan negara untuk pembelian kapal yang dilakukan oleh PT Meranti Maritime dan PT Meranti Bahari.

Pada 2011, PT PANN mengucurkan kredit kepada perusahaan Group PT Meranti Maritime untuk pengadaan kapal Kapal KM Kayu Putih. Namun dalam perjalanannya Kapal KM Kayu Putih ternyata tidak layak jalan dan tidak bisa beroperasi. Pembayaran cicilan kredit pun akhirnya mengalami kemacetan. Lalu Kapal KM Kayu Putih ini dikembalikan dalam kondisi tidak baik.

Saat itu utang tercatat yang belum dibayar kepada PT PANN mencapai USD 18 juta dan Rp 21 juta dengan jatuh tempo pembayaran pada 2015 lalu. Saat bersamaan PT Meranti Bahari, anak perusahaan dari PT Meranti Maritime juga mendapat kucuran kredit dari PT PANN untuk membiayai pengadaan kapal KM Kayu Ramin sebesar USD 27 juta dan Kapal KM Kayu Eboni sebesar USD 27 juta. Dan yang dijadikan jaminan hanya kapal yang dibiayai tersebut tanpa disertai jaminan lainnya.

Tak hanya itu, PT PANN juga mengucurkan kembali kredit baru kepada PT Meranti Bahari sebesar USD 9 juta untuk operasional eks pengadaan kapal Kayu Putih yang sudah dikembalikan sebelumnya. Bahkan tahun 2015 setelah itu PT PANN Pembiayaan Maritime kembali mengucurkan dana talangan tunai sebesar USD 4 juta untuk operasional PT Meranti Maritime.

Dari sini dugaan bancakan uang negara itu terjadi. Sebab pemberian dana talangan oleh PT PANN Pembiayaan Maritim diduga telah melanggar Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor: 29/POJK.05/2014 tentang Penyelengaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan dan menyebabkan kerugian negara Rp 1,3 triliun. (darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook