Petani Kesulitan Cari Tenaga Pemanen

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Selasa, 28 Mei 2019 - 15:46:48 WIB   |  dibaca: 384 kali
Petani Kesulitan Cari Tenaga Pemanen

KEKURANGAN TENAGA : Puluhan alat pertanian di halaman kantor Distan Kabupaten Serang siap untuk didistribusikan kepada kelompok tani, Senin (27/5).

SERANG - Sejumlah lahan pertanian padi di Kabupaten Serang telah memasuki masa panen, namun padi-padi tersebut tidak dapat dipanen karena para petani kesulitan mencari tenaga pemanen terutama dari kalangan anak muda yang lebih memilih untuk bekerja di pabrik. Sedangkan untuk mesin pemanen padi operatornya mayoritas dari masyarakat di luar Kabupaten Serang.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan,? dengan kurangnya tenaga panen tersebut, para petani saat ini banyak yang meminta alat panen berupa alat perontok padi. “Jadi (petani) pada mengeluh minta alat panen, tenaga panen yang muda mudanya kan sudah gak ada,?” kata Zaldi, Senin (27/5).

Ia mengungkapkan, banyak laporan yang masuk dari petani, akibat minimnya tenaga pemanen padi, banyak padi yang dibiarkan mengering di pohonnya. Zaldi menyebut persoalan minimnya tenaga pemanen itu mulai muncul akhir-akhir ini.“Ada laporan ke saya kemarin itu ada dua hektar gabah yang tidak dipanen,? dibiarkan di lahan sampai ketuaan. Kemudian di Kramatwatu ada sekitar 1,5 hektar, Pontang 2 hektar dan Tanara 2 hektar, itu baru satu dua petani yang ngobrol-ngobrol, belum semuanya. Jadi mau tidak mau kita mulai sekarang harus beralih ke mekanisasi,” ujarnya.

Zaldi menuturkan, bantuan alat pertanian dari pemerintah untuk alat panen padi dan mesin pemipil jagung hanya 15 unit dan masih jauh dari kebutuhan para petani. “Untuk alat perontok padi itu ada ratusan se Kabupaten Serang, tapi kan sawah di Kabupaten Serang ada puluhan ribu hektar, jadi gak kekejar,” ungkapnya.

Persoalan lain, lanjut Zaldi, petani di Kabupaten Serang masih kekurangan untuk operator mesin alat pertanian sehingga kebanyakan didatangkan dari Lampung dengan cara dibayar oleh para petani. “Di kita mayoritas menggunakan operator dari Lampung. Biasanya petani membayar mereka Rp500.000 per hektar. Petani di kita belum begitu menguasai teknologi,” tuturnya.

Namun pihaknya akan memberikan pelatihan kepada para anak muda di Kabupaten Serang untuk menjadi operator alat pertanian sehingga tidak harus mendatangkan lagi dari Lampung. “Kalau operatornya dari Lampung begitu mereka pulang mesin enggak ada yang mengoperasikan. Kita akan mencari orang yang mau dan mencintai pertanian untuk dilatih menjadi operator,” katanya. (tanjung)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook