Yang Penting Masih Bisa Kumpul dengan Anak dan Cucu

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Senin, 10 Juni 2019 - 11:41:55 WIB   |  dibaca: 282 kali
Yang Penting Masih Bisa Kumpul dengan Anak dan Cucu

SEDIH : Karimah harus merayakan Idul Fitri di huntara Kampung Citanggok, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Minggu (9/6).

PANDEGLANG - Puluhan anak-anak penyintas tsunami yang tinggal di hunian sementara (huntara) Kampung Citanggok, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang terlihat asyik bermain di depan rumah berdindingkan GRC (beton serat kaca).

Memasuki H+4 Idul Fitri, suasana di huntara lebih ramai dari pada biasanya. Sanak saudara para penyintas tsunami berdatangan untuk bersilaturrahmi. Tidak ada makanan istimewa seperti yang biasanya terhidang saat lebaran. Namun mereka tetap bahagia bisa kumpul bersama keluarganya.

Seperti yang dialami Karimah (51). "Iya pas lebaran ditengok anak ke sini (huntara-red). Keponakan juga pada ikut kesini. Kebetulan anak juga pada tinggal di Kecamatan Carita, jadi gak terlalu jauh main ke sini," kata Karimah ditemui di huntara, Minggu (9/6).

Karimah menilai lebaran tahun 2019 berbeda dengan tahun 2018 lalu lantaran tinggal di huntara. "Biasa saja sih. Ya, kan kalau lebaran tahun lalu mah masih punya rumah, sekarang rumahnya sudah ambruk diterjang gelombang laut. Tapi gak apa-apa lebaran di sini juga yang penting bisa kumpul sama anak dan cucu," imbuhnya.

Dia sangat terharu bisa kumpul bersama anak-anaknya, meski saat bencana tsunami menerjang dia harus kehilangan rumah hingga peralatan rumah tangga. "Pas lebaran anak pada bawa semur daging dan kue. Biar pun tinggal di huntara saya sudah sangat bersyukur alhamdulillah bisa lebaran sama anak," kata perempuan yang menjual gado-gado ini.

Senada dikatakan Nurhayati yang kehilangan sebagian sanak saudaranya akibat tsunami akhir tahun 2018 lalu. "Sebelum bencana alam terjadi, suasana rumah (saat Idul Fitri) ramai. Tapi ini betul-betul sedih gak bisa kumpul sama keluarga gak seperti kayak tinggal di rumah sendiri, tapi ya mau gimana lagi kita hanya bisa tinggal di huntara," tuturnya.

Menurutnya, biasanya saat lebaran sering kali memasak makanan yang menjadi kegemaran keluarganya, yakni semur daging sapi. Tak ketinggalan, membuat kue kering yang menjadi kesukaan keluarga saat lebaran. "Memang saya buat makanan tapi cuma sedikit," katanya.

Dia menuturkan, rumah yang ditinggali bersama keluarganya menjadi puing setelah tsunami melanda. Beruntung ia dan keluarganya selamat. "Alhamdulillah saya dan keluarga masih selamat, hanya rumah saja yang rusak," terangnya.

Camat Labuan Atep Purnama menyebutkan, dari laporan yang pihaknya terima, ada beberapa penyintas tsunami yang merayakan lebaran Idul Fitri di huntara hingga ke rumah keluarganya. "Dari laporan ada yang lebaran di huntara dan ada juga yang pulang ke rumah orangtuanya, tapi kebanyakan lebaran disitu," singkat Atep. (YANADI)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook