Tiga Guru Cabuli Tiga Siswi

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Jumat, 14 Juni 2019 - 14:20:17 WIB   |  dibaca: 1552 kali
Tiga Guru Cabuli Tiga Siswi

SERANG - Tiga oknum guru sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang diduga mencabuli tiga orang siswinya yang masih berada di bawah umur. Kasus ini terungkap dari laporan Bunga (bukan nama sebenarnya) kepada petugas kepolisian yang melaporkan dugaan pemerkosaan yang dilakukan oleh OM, salah seorang guru SLTP tersebut. Pemerkosaan dilakukan di ruang laboratorium komputer sekolah pada 15 Maret 2019 sekitar pukul 10.00 atau saat jam istirahat sekolah.

Dari laporan tersebut terungkaplah bahwa ternyata dua rekan Bunga yakni Melati dan Mawar juga disetubuhi oleh dua guru berbeda pada waktu yang sama saat Bunga diperkosa. Artinya, saat kejadian, tiga orang guru menyetubuhi tiga siswinya pada saat bersamaan di tempat yang sama. Kasus ini saat ini ditangani Unit Perlindungan, Perempuan dan Anak (PPA) Polres Serang.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Banten Raya, kejadian bermula saat Bunga diajak Melati dan Mawar untuk jajan di kantin sekolah. Namun dalam perjalanan, Mawar dan Melati malah belok masuk ke ruang laboratorium komputer sambil mengajak Bunga. Di dalam ruangan sudah ada OM, DA dan AS.

Ketiga guru tersebut awalnya membahas persoalan mata pelajaran. Namun lama-kelamaan, pembahasan menjurus ke arah yang lain. Singkat cerita, Mawar diajak DA mencari posisi untuk melakukan persetubuhan. Begitu pula dengan Melati yang bersama AS mencari tempat melakukan hubungan seksual di dalam laboratorium itu.

Bunga sempat menolak ajakan OM. Namun OM memaksa korban dengan cara menarik tangan korban dan memaksa membuka pakaian bunga, hingga terjadi persetubuhan. Setelah kejadian itu, Bunga melarikan diri, kabur dari laboratorium.

Setelah beberapa bulan terjadi, kasus pemerkosaan yang menimpa Bunga itu kemudian diketahui orangtuanya. Selanjutnya pada 11 Juni 2019, ibu kandung Bunga melaporkan kejadian itu ke Unit PPA Polres Serang.

Kasatreskrim Polres Serang AKP David Chandra Babega membenarkan adanya laporan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh guru SLTP terhadap muridnya. Kasus tersebut saat ini masih dalam tahap penyelidikan. "Iya betul, nanti konfirmasi ke Kanitnya saja," katanya.

Sementara itu, Kanit PPA Polres Serang Ipda Deni Hartanto mengaku belum bisa memberikan keterangan lebih detil, atas kasus pencabulan anak di bawah umur tersebut. "Mohon waktu, masih dalam proses," katanya singkat.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten Muhammad Uut Lutfi membenarkan, kronologis kejadian yang diperoleh Banten Raya berdasarkan penelusuran yang diterimanya. Diungkapkannya, hingga saat ini pun korban masih dalam keadaan trauma.  

“Memang kemarin (12/6) saya dari LPA termasuk P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) Kabupaten Serang dan dari Dinas Sosial Kabupaten Serang mengunjungi salah satu korban. Memang kondisinya masih trauma. Saat ini ada di suatu tempat yang memang itu sementara dirasa aman,” ujarnya saat dihubungi Banten Raya, kemarin.


Menurutnya, meski masih trauma namun secara perlahan kondisi psikologinya sudah mulai membaik karena peran aktif keluarga korban. “(Korban) sudah tidak sekolah, sudah selesai (tamat di jenjang SMP) mau ke jenjang SMA, tapi ya masih trauma. Ketika saya tanya apa permintaannya, dia cuma bilang kalau bisa itu pelaku ditangkap,” katanya.  

Disinggung apakah laporan yang dibuat korban karena dirinya kini sedang mengandung, Uut mengaku belum mengetahuinya. Sampai saat ini pihaknya masih terus menggali informasi lebih dalam.“Terkait dengan itu kita masih menelusuri apakah mengandung atau tidak. Kembali lagi, saya kira keberanian dari si anak bercerita kepada orang tua dan orang tua juga langsung menindaklanjuti ke kepolisian,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut LPA juga menyoroti sejumlah hal. Pertama adalah tempat kejadian perkara (TKP) yang berlokasi di area sekolah. Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak, diterangkan lingkungan sekolah adalah tanggung jawab sekolah. Pihak sekolah harus menjaga dan melindungi agar tidak terjadi kekerasan di lingkungan sekolah.

“Artinya sekolah punya tanggung jawab dalam hal kasus ini. Harapan kami ke depan, karena kepolisian lebih fokus pada proses penyelidikan dan penyidikan nanti dari LPA kami akan mendatangi sekolah. Kami ingin melihat bagaimana pihak sekolah merespon dari kasus yang terjadi,” ujarnya.

Selain penanganan psikologi korban, kata dia, pihaknya bersama P2TP2A dan Dinas Sosial Kabupaten Serang akan memberikan pendampingan selama proses hukum hingga ke pengadilan. Bahkan kasus tersebut sudah mendapat respon dari Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah yang langsung membentuk sebuah tim termasuk kuasa hukum di dalamnya.

“Ini memang kejadian luar biasa, dilakukan oleh tiga orang guru terhadap siswi dan itu dilakukan di lingkungan sekolah pada jam sekolah. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Kami terus koordinasi, mendorong kepolisian untuk segera mengamankan yang diduga pelaku,” tuturnya.

Uut berharap, kasus tersebut terus diproses hingga ke pengadilan dan pelaku dijerat dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016. “Ini ancamannya lebih berat karena dilakukan oleh guru. Itu bisa ditambah 1/3 dari ancaman pidana. Kami mendorong pihak penegak hukum untuk memvonis yang betul-betul mengedepankan asas keadilan,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang Asep Nugrahajaya mengaku sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Ia tak pernah menyangka hal memilukan itu bisa terjadi di lingkungan sekolah. Pihaknya, kata Asep, saat ini sedang mengusut kasus tersebut, dan berjanji akan melakukan tindakan tegas. (dewa/darjat/fikri)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook