Artis dan Aktivis Bisa Jadi Calon Alternatif

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Senin, 17 Juni 2019 - 14:38:49 WIB   |  dibaca: 157 kali
Artis dan Aktivis Bisa Jadi Calon Alternatif

SERANG – Kemunculan sosok artis dan aktivis anti korupsi yang digadang bakal maju di Pilkada Serentak 2020 dinilai bisa menjadi pilihan alternatif masyarakat. Bahkan, mereka bisa menggunakan ketenarannya untuk mengoptimalkan pencalonannya pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Seperti diketahui, ada empat daerah di Banten yang akan menggelar pilkada pada 2020 yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Cilegon. Informasi yang dihimpun, sudah ada pula sosok-sosok tenar yang digadang akan maju.

Di Kabupaten Pandeglang ada nama Krisyanto, vokalis Band Jamrud itu sudah menyatakan dirinya siap maju. Keinginannya diungkapkan saat menggelar jumpa pers di Desa Kadu Ronyok, Kecamatan Cisata Kabupaten Pandeglang, Sabtu (15/6).

Sementara di Kota Tangerang Selatan ada sosok aktivis anti korupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan. Ade akan berhadapan dengan Wakil Walikota Tangerang Selatan Benjamin Davnie yang juga digadang akan mencalonkan diri.

Sementara di dua daerah lainnya santer dikabarkan sejumlah politikus akan maju. Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Demokrat Banten di Kabupaten Serang. Sementara Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya Banten Helldy Agustian di Kota Cilegon.

Pengamat politik dari UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten Saeful Bahri mengatakan, kehadiran sosok artis dan aktivis menjadi warna tersendiri pada pilkada kali ini. Mereka bisa menjadi alternatif pilihan masyarakat selain calon yang berlatar belakang seorang politikus.“Bisa saja jadi (pilihan) alternatif. Sebagai salah satu alternatif pilihan, saya kira harus direspon baik, harus direspon positif oleh publik siapapun tokoh yang hadir,” ujarnya, Minggu (16/6).

Mantan komisioner KPU Provinsi Banten itu menuturkan, meski bukan dari kalangan politikus yang memiliki infrastruktur politik namun keduanya sudah memiliki modal awal yang baik. “Apalagi ini tokoh yang setidaknya menjadi tokoh publik, artis kan tokoh public. ICW juga bagian aktivis penegakan hukum, ya kita juga sudah tahu record-nya (rekam jejak-red),” katanya.

Meski demikian, kata dia, calon alternatif juga masih memiliki pekerjaan rumah yang tak mudah. Sebab, ketenaran yang mereka miliki hanya diketahui oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi yang baik. Sementara untuk pemilu, masyarakat adalah penentunya sehingga sudah barang tentu sosok mereka harus dikenal dari segala latar belakang.

“Dari situ dulu. Ya bisa jadi untuk level masyarakat atas, masyarakat yang terpapar dengan media informasi, koran, pasti tahu mereka.  Tetapi kalau masyarakat awam, saya rasa bisa jadi enggak kenal mereka. Sementara pemilih kita yang masyarakat awam juga angkanya relatif besar,” ungkapnya.

Lebih jauh dipaparkan Saeful, kelemahan itu lah yang justru mampu ditutupi oleh calon petahana yang akan menjadi lawan mereka. Oleh karenanya, jika memang mereka serius maka sudah seharusnya dari sekarang memainkan elektabilitasnya.

“Intinya siapapun tokoh publik yang mau nyalon baik itu artis, tokoh pergerakan atau tokoh apapun harus membangun komunikasi politik mulai dari sekarang. Tentunya saja selain komunikasi politik juga membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh publik seperti kiai, ulama itu juga penting,” tuturnya.

Disinggung apakah untuk memuluskan pencalonannya mereka harus menggandeng seorang politikus sebagai pasangannya, Saeful tak membantahnya.“Pertanyaannya dia maju mau lewat apa, lewat jalur gabungan parpol atau lewat perseorangan.  Apalagi mereka itukan bukan (kader) parpol, tergantung juga. Di dalam parpol juga pasti mereka misalnya punya kandidat. Sekali ini soal komunikasi politik,” ujarnya.

Komisioner KPU Provinsi Banten Eka Satyalaksmana mengatakan, tahapan Pilkada Serentak 2020 akan dimulai pada September 2019. Adapun bertindak sebagai pelaksanannya adalah KPU kabupaten/kota masing-masing dengan sumber pembiayaan dari APBD daerah penyelenggara.

“KPU Banten sifatnya hanya melakukan koordinasi, konsolidasi. Melakukan monitoring tahapan penyelenggaraan pilkada. Teknis pelaksanaan itu di kabupaten/kota. Sama halnya untuk anggaran juga bersumber dari APBD masing-masing kabupaten/kota,” katanya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook