Daftar PPDB Sampai 4 Jam

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Selasa, 18 Juni 2019 - 15:17:33 WIB   |  dibaca: 489 kali
Daftar PPDB Sampai 4 Jam

HARUS SABAR : Pelajar antre mendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kota Serang, Jalan KH Abdul Fatah Hasan, Kecamatan Serang, Kota Serang, Senin (17/6). Pendaftaran PPDB akan berlangsung hingga Sabtu (22/6).

SERANG – Orang tua murid yang mendaftarkan anaknya di SMKN 1 Kota Serang mengeluhkan lamanya proses pendaftaran selama proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) berlangsung. Ada yang menunggu selama tiga jam tetapi ada juga yang sampai empat jam.

Vera, warga Pabuaran, Kabupaten Serang, yang mendaftarkan anaknya ke SMKN 1 Kota Serang, mengaku telah datang ke sekolah sejak pukul 07.00. Meski datang pagi namun ia mendapatkan nomor antrean ke-101. Empat jam kemudian atau pukul 11.00 barulah ia berhasil mendaftarkan anaknya ke sekolah pilihan anaknya tersebut.“Nunggu dari jam 07.00 baru beres jam 11.00,” ujar Vera, Senin (17/6).

Vera menyatakan bahwa selama proses pengunduhan formulir pendaftaran secara daring (online) melalui website SMKN 1 Kota Serang, sebenarnya ia merasakan tidak ada masalah. Semua berjalan lancar tanpa kendala.

Situs yang dituju stabil dan tidak ada gangguan sebagaimana pernah terjadi tahun sebelumnya saat server PPDB dihandle oleh Pemprov Banten. Ia pun bisa mengunduh formulir pendaftaran secara cepat lalu mengisinya. “Proses lamanya waktu menyerahkan formulir dan verifikasinya aja,” kata Vera.

Ketua PPDB SMKN 1 Kota Serang Lilis Latifah mengatakan, proses PPDB memang memakan waktu yang tidak singkat. Waktu yang diperlukan untuk menginput data siswa yang mendaftar adalah 1 orang sekitar 15 menit. Lamanya proses input data terjadi karena banyak kolom yang harus diisi oleh petugas penginput data. “Kami memiliki tim penginput data. Ada 10 orang penginput data,” katanya.

Karena waktu input data relatif lama, sementara animo masyarakat sangat banyak, maka sekolah mengatur proses pendaftaran dengan membagikan momor antrean yang dibatasi hanya 300 nomor. Nomor antrean itu sudah dibagikan sejak pagi. “Untuk menginput 300 data itu saja bisa sampai sore,” kata Lilis.

Lilis mengatakan bahwa pembatasan nomor antrean 300 dilakukan agar pendaftar tidak membludak. Berkaca dari pengalaman tahun lalu, total ada 1.200 pendaftar yang mendaftarkan diri ke SMKN 1 Kota Serang.  Apalagi waktu pendaftaran masih lama karena PPDB berlangsung 17-22 Juni.

Ia mengimbau wali murid mendaftarkan anaknya pada akhir pendaftaran karena biasanya relatif sepi.  “Kuota untuk siswa baru tahun ini 576 siswa yang akan dibagi ke 16 kelas,” katanya seraya menambahkan bahwa di tiap kelas terdapat 36 siswa.

Terkait pendaftaran, ia mengatakan orang tua murid atau murid yang tidak bisa mengunduh formulir secara daring di internet bisa datang ke sekolah dan akan dibantu proses pengunduhannya. Ini dilakukan guna mempermudah orang tua atau wali murid yang kesusahan selama proses PPDB.

Antrean juga terjadi di SMAN 1 Kota Cilegon. Hidayat, salah satu orang tua calon siswa, Warga Bendungan, mengaku mengantre nomor urut pendaftaran di SMAN 1 Cilegon sejak pukul 05.30 WIB. Meski sejak pagi ia mendatangi sekolah, baru pukul 09.00 WIB Ia bisa melakukan registrasi pendaftaran. “Ya dari pagi. Kami antre sama yang lain, pas saya datang ke sini juga sudah ada banyak orang,” katanya.

Jarak rumahnya ke SMAN 1 Cilegon yang mencapai 2 kilometer membuatnya optimis anaknya masuk SMAN 1 Cilegon, meskipun nilai anaknya tidak terlalu tinggi. “Meski NEM-nya tidak terlalu tinggi tapi saya optimis diterima karena masih satu kecamatan di Kecamatan Cilegon saya di Kelurahan Bendungan SMA 1 Cilegon di Kelurahan Ciwaduk, jaraknya 2 kilometer,” ujarnya.

Dengan sistem zonasi, kata Dayat, pihaknya merasa diuntungkan karena bisa masuk SMA Negeri 1 Cilegon. “Jarak rumah saya kan dekat dan kuota zonasi kan cukup besar yaitu 90 persen,” tuturnya.

Dian April, warga Desa Harjatani, Kabupaten Serang, mengatakan, adanya sistem zonasi yang diterapkan dalam PPDB SMA, membuat ia tidak bebas memilihkan sekolah untuk anaknya yang akan masuk ke SMA. “Anak saya yang pertama sudah sekolah di SMA Negeri 1 Cilegon, masuknya tahun 2017.

Adiknya juga pengen masuk SMA Negeri 1 Cilegon mengikuti kakaknya, tapi ini tidak masuk zonasi karena beda kota,” kata Dian ditemui di halaman SMA Negeri 1 Cilegon.Dian akan mencoba jalur prestasi akademik sebab, nilai Ujian Nasional (UN) SMP anaknya cukup tinggi. “Ini saya mau cari informasi untuk jalur prestasi akademik,” ujarnya.

Dian memunyai alasan mengapa berkeinginan menyekolahkan anaknya di Cilegon. Meski domisilinya berada di Kabupaten Serang, berdasarkan google maps, dari rumahnya yang berada di Harjatani, jarak ke SMA Negeri 1 Cilegon hanya sekitar 6 kilometer. Sementara, jika harus bersekolah di SMA Negeri Kramatwatu, Kabupaten Serang, jaraknya justru lebih jauh yakni sekitar 8 kilometer. “Lagian ke SMA 1 Cilegon aksesnya lebih mudah kalau dari rumah saya,” ungkapnya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kota Cilegon Asep Mansur mengatakan, sistem zonasi ini bisa membuat kualitas pendidikan merata. Sehingga, fasilitas sekolah dan kualitas guru harus dibuat rata. “Jadi untuk mencari sekolah tidak perlu jauh-jauh,” ujarnya.

Di Cilegon sendiri ada lima SMA negeri yaitu SMA Negeri 1 Cilegon, SMA Negeri 2 Cilegon, SMA Negeri 3 Cilegon, SMA Negeri 4 Cilegon, dan SMA Negeri 5 Cilegon. “SMA 1 Cilegon menerima 20 kelas, SMA 2 ada 12 kelas, SMA 3 ada 9 kelas, SMA 4 ada 7 kelas, dan SMA 5 ada 8 kelas. Masing-masing kelas maksimal 36 siswa, jadi se-Cilegon kapasitas siswa baru untuk SMA 1.656 siswa. Kalau yang tidak tertampung di SMA bisa ke SMK atau ke swasta,” paparnya.

Di Pandeglang, sejumlah orangtua siswa juga tampak memadati halaman sekolah untuk antre mendaftarkan anaknya. Salah satunya tampak di SMKN 2 Kabupaten pandeglang. Halaman SMKN 2 dipenuhi ratusan siswa didampingi orangtuanya. Beberapa diantara mereka rela antre sejak pagi hingga sore hari.

Para pendaftar yang awal datang, dengan seksama harus membaca alur pendaftaran yang ada di papan pengumuman, sambil menunggu giliran dipanggil oleh panitia untuk mengikuti tes potensi akademik sebagai syarat PPDB SMK.

Yayah (47), salah seorang wali murid mengatakan, pihaknya sudah sejak pagi menunggu antrean bersama anaknya untuk mengikuti tes PPDB. "Saya datang kesini (SMKN2-red) jam 07.00, tapi sampai sekarang jam 08.40 anak saya belum juga dipanggil panitia untuk ikut tes online. Katanya, sih nomor antrean anak saya terlalu jauh karena dapat nomor 42," kata Yayah, kemarin.

Dia menilai sistem tersebut membuat warga ribet. "Ribet juga sih. Apalagi saya kan kurang begitu faham apa itu PPDB. Tapi berkat ada tetangga yang tahu mengenai informasi PPDB, akhirnya saya bareng-bareng daftarkan anak kesini. Kemarin baru ngambil nomor antrean, dan hari ini (kemarin-red) anak saya baru ikut tes PPDB," keluhnya.

Kepala SMKN 2 Pandeglang, Ade Firdaus menjelaskan, pada hari pertama pendaftaran, sudah sekitar seribuan siswa yang mengikuti tes potensi akademik. "Sampai hari ini (kemarin-red) sudah dinomor 1.050 lebih. Untuk pendaftar, kami tidak berlakukan kuota. Mau berapa pun silahkan. Namun nanti akan kami seleksi karena kuota penerimaan siswa baru tahun ini hanya 648 orang untuk semua kompetensi keahlian dengan 18 rombel masing-masing 36 siswa," jelasnya.

Ade menyebutkan, bagi siswa yang lolos pemberkasan PPDB online akan melaksanakan tes tulis pada 24 Juni mendatang. Sementara hasilnya akan dipadukan dengan nilai Ujian Nasional (UN). Sebab, setiap bidang kompetensi, memiliki nilai standar yang berbeda-beda. "Pendaftaran PPDB mulai 17 Juni hingga 22 Juni. Setelah itu, nanti akan kami lakukan seleksi pada 24 Juni dan 29 Juni, karena pada 15 Juli nanti sudah mulai proses penerimaan," paparnya. (tohir/yanadi/gillang)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook