Lulusan SMK Akan Dapat Sertifikat Keahlian

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Senin, 24 Juni 2019 - 14:32:07 WIB   |  dibaca: 370 kali
Lulusan SMK Akan Dapat Sertifikat Keahlian

SERTIFIKASI: Kepala Dindikbud Banten, Kosasih S (dua dari kiri) saat menghadiri Diklat Asesor Kompetensi, kemarin.

SERANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten menyatakan, ke depan lulusan SMK akan mendapat sertifikat kompetensi. Hal itu dilakukan dalam memberikan keyakinan kepada persusahaan jika lulusan SMK mempunyai kompetensi yang dibutuhkan oleh industri.

Kepala Dindikbud Banten, E. Kosasih Samanhudi mengungkapkan, ke depan lulusan SMK harus mempunyai sertifikat. Namun begitu, untuk menjamin lulusan yang mempunyai komptensi, para guru SMK juga haru dibekali khususnya keahlian menjadi asesor.“Jadi diklat kali ini adalah membentuk asesor dengan melibatkan seluruh guru SMK se Banten,” kata Kosasih saat ditemui wartawan usai membuka acara Diklat Asesor untuk guru-guru SMK se Banten di salah satu hotel di Kota Serang, kemarin.

Dijelaskan Kosasih, yang ,melatarbelakangi diadakannya acara tersebut adalah, hasil survey Badan Statistisik Nasional (BPS) yang mengungkapkan jika tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten didominasi lulusan SMK.“Ini sangat ironis. Makanya, dengan acara ini kita juga melakukan terobosan salah satunya dalam mengurangi pengangguran melalui peningkatan komptensilulusan SMK. Makanya kita langung undang juga Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” jelasnya.

Panitia kegiatan, Suba’i yang juga menjabat sebagai Kepela Sekolah SMK Negeri 7 Kota Serang mengakui jika lulusan SMK belum banyak diterima di industri-industri. Salah satunya terganjal kompetensi.“Maka itu, agar siswanya mempunyai komptensi tinggi. Maka sekolah harus mempunyai lembaga sertifikasi profesi (LSP). Dan syarat untuk membentuk LSP adalah membentuk calon asesor,” kata Suba’i.

Ia mengungkapkan, ke depan setiap program studi akan mempunyai minimal dua asesor yang dipilih dan dilatih dari kalangan guru. “Seperti sekarang kita datangkan guru-guru SMK se Banten dengan latar belakang program studi yang berbeda dan nanti langsung diuji oleh BNSP. Kalau dulu kan industri yang datang ke SMK untuk melakukan juji kompetensi,” jelasnya.

Ke depan, yang berhak meluluskan uji komptensi siswa yakni LSP yang ada di setiap SMK di Banten. “Nanti sesuai jurusan. Kaya bisnis manajemen itu akuntansi, manajmen perkantoran dan lain-lain. Sedangkan untuk teknologi itu teknik permesinan dan para siswanya harus wajib bersertifikasi,” ujarnya.

Terkait belum adanya keseuan antara dunia pendidikan dan industri (link and match), ia menilai, pihaknya telah membangun hubungan antara sekolah dengan industri. Meski begitu, jumalh lulusan SMK terus bertambah tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan.

“Bayangkan setiap tahun ada 72 ribu lulusan SMK dengan jumlah lapangan pekerjaan yang masih terbatas. Dan masalah kedua itu, industri minta lulusan yang mempunyai komptensi. Makanya ke depan setiap lulusan SMK harus mempunyai sertifikat komptensi,” katanya.

Diketahui,  Badan pusat statistik (BPS) Banten, merilis jumlah pengangguran terbuka di Provinsi Banten dari Februari 2017 - Februarii 2019. Dari angka pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan pada tahun 2019, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi angka paling tinggi dibanding tingkat pendidikan lainnya.

Angka presentase pengangguran sesuai pendidikan pada tahun 2019 antara lain, Sekolah dasar (SD) 5,45 persen, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 7,13 persen, Sekolah Menengah Atas (SMA) umum 10,06 persen, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 11,65 persen, Diploma I/II/III 3,87 persen dan lulusan universitas 5,69 Persen.

Dari data di atas, menunjukkan tingkat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) patut dipertanyakan. Pasalnya, lulusan yang seharusnya siap bekerja malah menduduki tingkat tertinggi angka pengangguran menurut tingkat pendidikan di Banten. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook