Pungli Pinjaman Uang Sudah Berlangsung Lama

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 25 Juni 2019 - 15:30:12 WIB   |  dibaca: 115 kali
Pungli Pinjaman Uang Sudah Berlangsung Lama

PERSIDANGAN PUNGLI: Kedua saksi kasus pungli pinjaman bank pada UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan memberikan keterangan saat sidang di PN Serang, kemarin.

SERANG- Pungutan liar (pungli) untuk administrasi pengajuan pinjaman ke Bank Jabar Banten (BJB) di UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Kecamatan Taktakan, Kota Serang telah berlangsung lama.

Hal itu terungkap dalam sidang dugaan pungli dengan agenda keterangan saksi-saksi untuk terdakwa Adang Suganda (guru SD di Kecamatan Taktakan), dan bendahara UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan Edy Purwanto, di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Senin (24/6).

Saksi dari guru SDN 1 Kecamatan Taktakan Yulmi mengatakan, pungutan liar (pungli) pinjaman aparatur sipil negara (ASN) pada BJB untuk UPT Dinas Dindikbud Taktakan sudah terjadi sejak lama, jauh sebelum terdakwa Edy Purwanto dan Adang Suganda ditangkap polisi."Saya sudah dua kali mengajukan pinjaman, dulu juga diminta uang, sebelum zamannya Pak Adang dan Pak Edy," katanya saat bersaksi dalam siang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Muhammad Ramdes.

Meski mengetahui praktek pungli itu sudah berlangsung lama, namun dirinya tidak mengingat kepada siapa memberikan uang administrasi pinjaman bank untuk pertama kalinya.
"Saya lupa, tapi untuk Pak Adang saya ngasih Rp 1 juta, itu juga untuk biaya materai. Saya mengajukan pinjaman Rp 200 juta," ungkap Yulmi dalam sidang yang dihadiri JPU Kejari Serang Subardi.

Saksi lainnya, pemberi uang kepada Adang, Asep mengaku hanya diperintahkan mertuanya, Nuriyah (guru SDN Ranca Telas) untuk mengantarkan uang ke terdakwa Edy. Uang tersebut diberikan karena baru saja pencairan uang pinjaman di BJB. Uang itu diberikan secara bertahap kepada terdakwa Adang dan Edy. "Pertama Rp 600 ribu dan kedua Rp 400 ribu ke Pak Adang," ungkapnya.

Untuk diketahui, pungli berkedok biaya administrasi itu terungkap saat operasi tangkap tangan (OTT) digelar petugas Satreskrim Polres Serang Kota, 23 Oktober 2017. Sesuai surat dakwaan, perkara itu bermula pada 17 Oktober 2017. Awalnya, salah satu guru SD bernama Mujeni berniat mengajukan pinjaman ke BJB. Mujeni menemui bendahara pembantu gaji UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan Edy Purwanto di kantornya. Edy kemudian mengarahkan Mujeni agar berkoordinasi dengan Adang.

Keesokan harinya, Adang Suganda menemui saksi Mujeni untuk mengonfirmasi permohonan kredit. Saksi Mujeni mengutarakan niatnya untuk mengajukan pinjaman Rp 220 juta, dengan mendatangi kediaman Adang sambil membawa berkas persyaratan pinjaman.

Adang kemudian menyerahkan blangko pinjaman bank untuk diisi oleh Mujeni. Sembari mengisi blanko, Mujeni menanyakan biaya administrasi yang harus dikeluarkan. Adang Suganda mengatakan untuk biaya administrasi Rp 1,5 juta. Namun Mujeni merasa keberatan dan meminta agar nilainya dikurangi.

Saat proses pencairan kredit, Adang Suganda dihubungi Edy Purwanto untuk mengingatkan biaya administrasi, dan Adang menemui Mujeni di luar kantor BJB KCP Rau. Dia menagih biaya adminsitrasi kepada Mujeni sebesar Rp 1,5 juta. Praktik pungli tersebut ternyata telah berulangkali dilakukan kedua terdakwa. Berdasarkan data pengajuan kredit di BJB, KCP Rau periode Januari-Oktober 2017, ada 60 ASN yang berprofesi sebagai guru SD mengajukan pinjaman.

Puluhan ASN itu juga terkena pungli berkedok biaya administrasi. Nilainya bervariasi mulai dari Rp 800 ribu hingga Rp 1,7 juta. Total uang pungli yang terkumpul sebesar Rp 53 juta lebih. Dari hasil pungli itu Adang menerima bagian sebesar Rp 43 juta lebih. Sementara Edi sebesar Rp10 juta.

Atas perbuatannya, kedua terdakwa dijerat melanggar pasal 12 huruf e undang-undang 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal  64 ayat (1) KUHP atau kedua pasal 11 dengan undang-undang yang sama. (darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook