26 WNA Nigeria Ditangkap

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Selasa, 25 Juni 2019 - 16:15:34 WIB   |  dibaca: 292 kali
26 WNA Nigeria Ditangkap

DARI LAPORAN WARGA : Petugas Imigrasi mengamankan laptop, modem, HP berbagai merek, dan puluhan kartu perdana dari 26 WNA yang diamankan, Senin (24/6).

KOTA TANGERANG- Kantor Imigrasi Kelas 1 Tangerang menangkap sebanyak 26 warga negara asing (WNA) di apartemen Great Western Resort (GWR), Jalan Raya Pakulonan, Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Di dalam kamar apartemen tersebut, aparat imigrasi mengamankan 14 laptop, modem, puluhan kartu perdana, dan puluhan telepon seluler berbagai merek. Diduga 26 WNA tersebut melakukan kejahatan cyber.

Kepala Kantor Kelas 1 Tangerang Herman Lukman mengatakan, pihaknya melakukan razia terhadap 26 WNA di Apartemen GWR berdasarkan informasi dari masyarakat yang merasa resah dengan keberadaan WNA tersebut.

Saat dilakukan penggeledahan, petugas imigrasi menemukan puluhan laptop, puluhan kartu perdana sejumlah operator seluler, seperti XL, Tri, dan Axis. Perdana itu sudah dipersiapkan untuk digunakan dalam ratusan perangkat modem eksternal lengkap dengan perangkat komputer dan networking.

“Penangkapan 16 WNA asal Negeria tindak lanjut dari laporan masyarakat. Sebagai bentuk tindakan preventif terhadap keamanan Iingkungan. Mereka diduga terlibat kejahatan daring dan melanggar undang-undang keimigrasian,” kata Herman kepada wartawan saat menggelar jumpa pers di halaman Kantor Imigrasi Kelas 1 Tangerang, Senin (24/6).

Untuk penyelidikan lebih lanjut, kata Herman, instansinya masih akan mendalami dugaan tersebut. Jika terbukti melakukan kejahatan cybercrime, kasusnya akan dilimpahkan ke kepolisian atau deportasi. “Kita akan lakukan proses penyelidikan kalau cukup bukti kita bisa serahkan ke kepolisian atau bisa juga dideportasi,” terangnya.

Menurut Herman, 16 WNA dari 26 WNA ini juga tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian. Sementara 10 orang lainnya diketahui sudah melebihi masa izin tinggal atau over stay.  “Dari 26 WNA, hanya sepuluh orang yang punya paspor itupun over stay. Sisanya tidak punya paspor,” katanya.

Herman menjelaskan, puluhan WNA diketahui baru tinggal sekitar dua pekan, namun ada juga yang sudah tinggal sejak 2017 lalu. Mereka yang diamankan itu disebut berpindah-pindah tempat tinggal sebelum ke Kota Tangerang. “Anehnya, 26 WNA ini saat ditanya tidak saling mengenal. Mereka memang modusnya berpindah pindah. Berkelompok atau tidak, kita sedang mendalaminya,” jelasnya.

Ia menyampaikan, dari pengakuan para WNA yang ditangkap, mereka datang ke Indonesia untuk berbisnis. Namun demikian, pihaknya akan mendalami apa yang sebenarnya tujuan mereka datang ke Kota Tangerang. “Mereka masuk lewat Bandara Soekarno Hatta. Belum ada keluarga, kawan atau orang-orang terdekat yang mengunjungi mereka hingga saat ini. Untuk selanjutnya kita akan dalami apa sebenarnya tujuan mereka datang ke Kota Tangerang,” ungkapnya.

Herman menambahkan, 26 WNA tersebut masih diamankan di Kantor Imigrasi Kelas 1 Tangerang untuk pemeriksaan Iebih Ianjut. “Dalam kesempatan ini, saya apresiasi terhadap peran aktif masyarakat dalam menyampaikan informasi terkait keberadaan warga negara asing kepada pihak Imigrasi,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Imigrasi Kemenkumham Banten Martahan Hutapea mengatakan, pihaknya sudah dan secara terus menerus mengawasi orang asing dan mencegah orang asing yang tidak diinginkan datang ke Indonesia. “Kami juga selalu koordinasi dengan instansi terkait untuk memonitor dan mengetahui kegiatan orang asing,” kata Martahan.

Menurut Martahan, sepanjang Januari hingga Juni 2019, pihaknya sudah mendeportasi WNA sebanyak 80 WNA. Dari jumlah itu mayoritas merupakan WNA asal Cina. Terkait penangkapan 26 WNA asal Negeria ini, pihaknya akan melakukan pengembangan karena mereka melakukan kegiatan cyber. “Kita masih dalami, hingga saat ini belum ada pihak keluarga menghubungi pihak imigrasi," tuturnya.

Martahan meminta masyarakat aktif memantau WNA. Masyarakat diminta melapor jika menemukan WNA yang mencurigakan. Laporan ke kepolisian atau pemda ini akan dilanjutkan ke tim Pemantau Orang Asing Divisi Imigrasi. "Pengawasan orang asing bukan hanya tugas aparatur pemerintah, tetapi partisipasi masyarakat juga," katanya. (imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook