Banten Terapkan Teknologi Deteksi Warna Air

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 10 Juli 2019 - 13:07:20 WIB   |  dibaca: 143 kali
Banten Terapkan Teknologi Deteksi Warna Air

KERJA SAMA : Sekda Banten Al Muktabar (kedua dari kanan) memberikan cinderamata kepada perwakilan PICES Mitsutaku Makino di Ballroom Bappeda Banten, Kota Serang, Selasa (9/7).

SERANG – Pemprov Banten mulai menerapkan teknologi hydro colour and fish geographic information system (GIS) dalam proses tangkap ikan di laut. Teknologi itu akan berfokus pada deteksi warna dan kualitas air laut serta lokasi strategis ikan sehingga mudahkan para nelayan untuk menangkapnya.

Hal tersebut terungkap dalam workshop internasional kaji terap teknologi hydro colour dan fish GIS di Ballroom Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Selasa (9/7).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten Suyitno mengatakan, penerapan teknologi hydro colour and fish GIS merupakan inovasi yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Banten diklaimnya menjadi pilot project dalam penerapan teknologi tangkap ikan tersebut. “Ini salah satu terobosan, mungkin yang pertama di Indonesia sebagai pilot project dengan kaitan penggunakan teknologi hydro colour and fish GIS,” ujarnya.

Mantan Penjabat (Pj) Walikota Cilegon itu menjelaskan, cara kerja teknologi tersebut adalah dengan mendeteksi warna air laut. Dari deteksi tersebut akan diketahui terkait kualitas air sehingga dapat diperoleh titik-titik keberadaan ikan.“Nanti kan bisa dideteksi warna air laut seperti apa, ada ikan atau tidak karena kan berkaitan itu. Tercemar atau tidak tercemar bisa diindikasikan dengan warna-warna tadi. (Indikatornya) dengan fitoplankton, dengan klorofil, itu semua menandakan kualitas air. Mudah dideteksi nanti, ternyata ini tercemar, ini ada ikannya dan lainnya,” katanya.

Melalui penerapan teknologi tersebut diharapkan bisa meningkatkan produksi ikan di Banten yang pada 2018 mencapai sekitar 107.000 ton. Sebab, selama ini nelayan di Banten sebagian masih menggunakan peralatan tangkap konvensional.“Konvensional dari membaca bintang, suasana alam, pakai galah bagaimana suasana air. Tetapi ada alat bantu juga seperti fish finder, GPS (global positioning system) ada, mengembangkan juga (alat untuk deteksi) kapal ada dimana, sedang apa kapal itu, hasilnya apa,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan Suyitno, penerapan teknologi hydro colour and fish GIS telah disosialisasikan sejak kemarin. Sementara untuk praktik penggunaannya akan dilakukan pada hari ini. “Jadi dengan ini tidak hanya meningkat produksi tapi pelestarian lingkungan juga,” tuturnya.

Sekda Banten Al Muktabar mengatakan, penerapan teknologi tersebut atas kerja sama Bappeda Banten dnegan sejumlah lembaga. Terdiri atas Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari kerja sama itu  mengundang unsur terkait seperti DKP, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kelompok nelayan serta para pakar dari berbagai negara seperti Jepang dari Universitas Tokyo, Kanada, China, Korea dan Amerika Serikat.

“Iya kita berencana kemaritiman di Banten lebih diperhatikan. Semoga kita bisa menghasilkan teknologi baru seperti yang sudah dibahas tadi. Agar dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama nelayan,” katanya.

Menurutnya, potensi kelautan dan perikanan di Banten sangat tinggi namun selama ini nelayan Banten masih banyak menggunakan tenaga manual. “Sayangnya teknik kita belum maksimal. Semoga hasil workshop ini menghasilkan teknologi yang memermudah para nelayan," tuturnya.

Ditempat yang sama, perwakilan organisasi North Pacific Marine Science (PICES) dari Jepang Mitsutaku Makino mengapresiasi antusias pemprov dan nelayan Banten terkait penerapan teknologi hydro colour and fish GIS. "Untuk dua hari ke depan mari kita gali keilmuan dan teknologi dari workshop ini," ujarnya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook