Pedagang Tinggalkan Pasar Kepandean

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 18 Juli 2019 - 14:05:42 WIB   |  dibaca: 77 kali
Pedagang Tinggalkan Pasar Kepandean

SEPI: Warung di Kepandean tampak sepi dan tidak digunakan untuk berjualan, Rabu (17/7).

SERANG- Pasar Kepandean semakin sepi. Pasar yang semula diniatkan menjadi pasar yang bisa menampung pedagang kaki lima (PKL) justru makin banyak ditinggalkan pedagang. Banyaknya preman dan wanita malam disebut menjadi penyebabnya.

Salah seorang pedagang yang masih bertahan di Kepandean yang tidak mau diungkap identitasnya mengatakan, pasar Kepandean hanya ramai selama dua bulan pertama sejak diresmikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Serang.

Setelah itu pasar semakin sepi karena tidak banyak pembeli yang datang ke sana. Para pedagang pun satu per satu tidak lagi berjualan di pasar Kepandean.“Ramenya cuma 2 bulan. Setelah itu sepi,” kata pedagang ini kepada Banten Raya, Rabu (17/7).

Pedagang ini mengatakan, penyebab sepinya pasar Kepandean adalah karena ada preman yang mengusasi pasar tersebut. Preman-preman ini tidak hanya meminta uang keamanan, melainkan juga membuat onar dan kerap mengancam pedagang. Akhirnya pedagang pun tidak betah dan memilih untuk tidak berjualan di sana.“Pedagang yang baru yang belum ada penglaris aja langsung dimintai uang keamanan. Pas enggak dikasih marah-marah dan ngancam,” katanya.

Tidak hanya itu, bahkan seorang pedagang yang tidak meminjamkan piringnya kepada salah satu preman harus menelan kenyataan pahit warungnya dibakar. Pedagang yang masih bertahan pun tidak luput dari kekuasaan preman. Setiap bulan para pedagang diharuskan setor Rp 300 ribu, sementara untuk pemilik mainan anak harus setor Rp100 ribu per bulan.
“Itu juga setiap harinya mereka dimintai uang keamanan Rp10.000 per lapak,” katanya.

Tidak hanya itu, ulah preman ini juga membuat perusahaan swasta yang menggelar acara di pasar Kepandean kapok. Ia mencontohkan pernah ada perusahaan menggelar dangdut sebagai hiburan namun acara rusak karena preman yang nyawer biduan memeluk dengan pelukan seronok.“Yamaha waktu Sabtu Minggu kemaren ngasih service grtais juga sepi karena orang pada enggak mau ke sini,” katanya.

Selain preman, kata pedagang ini, setiap malam juga wanita malam kerap terlihat menjajakan diri. Bahkan di salah satu bangunan yang dijadikan kios kerap terdengar suara lelaki-perempuan sedang melakukan hubungan intim.

Selama wanita malam ini ada di sekitar Kepandean, maka ia yakin pasar Kepandean tidak akan pernah ramai. Sebab tidak akan pernah ada orang tua yang ingin datang ke Kepandean bila akhirnya akan memberikan efek negatif pada anak mereka.“Ya namanya orang tua kan pasti enggak mau anaknya melihat hal-hal semacam itu,” tuturnya.

Karena itu, bila pasar Kepandean ingin ramai dikunjungi pengunjung dan ramai ditempati pedagang, maka menurutnya preman dan wanita malam harus dilenyapkan dari Kepandean.
Pedagang lain yang juga tidak mau mengungkapkan identitas mengatakan ia membayar uang sewa sebesar Rp 300 ribu per bulan. Meski jumlah itu sangat berat namun ia tidak memiliki banyak pilihan karena mata pencahariannya adalah berjualan.

Ia juga sependapat dengan pedagang lain bahwa citra (image) Kepandean yang lekat dengan dunia prostitusi bisa menjadi salah satu penyebab sepinya pasar Kepandean. Sebab orang akan enggan datang ke pasar tersebut karena khawatir akan citra buruk yang bisa melekat pada pengunjung itu.
 
Faktor lain adalah Kepandean secara lokasi tidak strategis bila dibandingkan dengan Stadion Maulana Yusuf Ciceri dan Alun-alun Serang yang berada di pusat kota. Fasilitas di stadion dan alun-alun juga relatif lebih lengkap sehingga cocok menjadi lokasi berkumpul masyarakat.

Sebab menurutnya orang yang membeli sesuatu yang dijual di stadion maupun alun-alun sebenarnya tidak secara sengaja datang ke lokasi itu untuk membeli sesuatu. Biasanya mereka hanya datang untung santai atau jalan-jalan mengajak keluarga dan ketika melihat ada barang yang cocok mereka membelinya. (tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook