Roti Khas dari Kabupaten Serang Pernah Dilirik Bogasari

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Kamis, 18 Juli 2019 - 15:12:40 WIB   |  dibaca: 625 kali
Roti Khas dari Kabupaten Serang Pernah Dilirik Bogasari

ROT I GULACIR : Proses pembuatan roti gulacir, Selasa (16/7). Qudsi menunjukkan roti gulacir hasil produksinya yang siap untuk dipasarkan.

KABUPATEN SERANG – Rasanya manis dan gurih menjadi ciri khas roti gulacir. Produk industri rumahan yang pernah berjaya di tahun 1990-an itu menjadi makanan favorit bagi masyarakat yang tinggal di Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang dan sekitarnya.

Aroma harum roti gulacir keluar dari rumah cat berwarna hijau hingga ke jalan raya. Di rumah berukuran sekitar 9x9 meter tersebut diproduksi makanan yang sudah turun temurun yakni, roti gulacir. Roti berwarna kecoklat-coklatan itu cukup dikenal di Kecamatan Waringinkurung, Kramatwatu, Mancak, Gunungsari, dan beberapa kecamatan lainnya. Roti gulacir juga dijual secara luas di pasaran.

Bertempat di Kampung Gulacir, Desa Sukabares, Kecamatan Waringingkurung, Kabupaten Serang, roti gulacir di produksi. Pemilik industri rumahan tersebut bernama Tb Qudsi. Dalam memproduksi rotinya, Qudsi dibantu empat orang tetangganya yang juga sekaligus menjadi karyawannya. Di belakang rumah Qudsi terdapat tumpukan kayu yang menjadi bahan bakar pembuatan roti gulacir.

Sambil menyuguhkan beberapa potongan roti gulacir dan dua air mineral gelas merek Gunung, Qudsi menceritakan secara detail kapan roti tersebut mulai dibuat dan bagaimana proses pembuatannya, dan berasal darimana, serta bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan. “Silakan dimakan roti kampungnya,” ujar Qudsi memulai pembicaraan.

Sambil duduk di kursi pelastik berwarna hijau, pria berbadan kurus itu mencoba mengingat-ngingat kapan awal mula roti gulacir dibuat.  Menurutnya, roti gulacir berasal dari Palembang, Sumatera Selatan dan pertama dibuat oleh kakeknya sekitar tahun 1950-an. Qudsi sendiri merupakan generasi ketiga yang membuat roti gulacir. “Saya berusaha mempertahankan warisan keluarga ini,” katanya, Selasa (16/7).

Roti gulacir hanya diproduksi keluarga Qudsi dan adik perempuanya, selain itu tidak ada lagi warga yang memproduksi roti yang hanya berbahan gula pasir, terigu, dan soda tersebut. Sebenarnya roti gulacir lebih menyerupai kue yang pembuatannya menggunakan loyang, namun warga sudah terlanjur menyebutnya roti.

Berbeda dengan roti dan kue pada umumnya, proses pembuatan roti gulacir tidak menggunakan oven. “Pembuatannya pakai tungku, pernah nyoba pakai oven tapi enggak jadi. Apinya harus benar-benar panas, makanya kalau tidak biasa enggak kuat dengan panasnya,” tuturnya.

Proses pembuatan roti gulacir sendiri memakan waktu sehari semalam sejak adonan dibuat sampai adonan dimasukan ke tungku. Untuk sekali buat, Qudsi hanya menghabiskan terigu 40 kilogram terigu dan 40 kilogram gula pasir serta soda secukupnya. “Tidak pakai bahan pengawet sama sekali. Tapi yang menjadi kelebihannya walaupun tidak pakai bahan pengawet bisa bertahan sampai 30 hari,” ungkapnya.

Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan 40 kilogram terigu dan gula pasir tersebut tidak begitu besar hanya berkisar Rp100.000 sampai Rp150.000. Sedangkan untuk penjualannya Qudsi tidak menjualnya langsung namun pedagang keliling yang datang sendiri. “Masyarakar sekitar wilayah Mancak, Gunungsari, Kramatwatu, Cilegon sudah banyak yang tahu. Kami biasa membuatnya tiga kali dalam seminggu,” ujarnya.

Berbeda dengan roti dan kue pada umumnya yang diserbu pembeli saat menjelang Idul Fitri atau hari raya besar lainnya, roti gulacir banyak diburu pembeli ketika musim buah-buahan seperti musim mericin, rambutan, duren, dan buah-buahan lainnya. “Kalau lagi lebaran sepi, tapi kalau lagi musim buah-buahan ramai yang beli, maklum namanya roti kampung. Mungkin masyarakat lagi pada punya uang,” katanya.

Adapun untuk harga, Qudsi menjualnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan masyarakat kampung yakni, untuk satu loyang Rp7.500. Selain itu, Qudsi juga menjual dengan cara dibungkus untuk dikirim ke warung-warung yaitu, satu bungkus Rp700 yang kemudian oleh pedagang di warung dijual Rp1000. “Kami tidak berbicara untung. Yang penting usaha leluhur ini tidak punah,” tutur pria 62 tahun itu.

Ratu Zulfa, salah satu anak Qudsi mengungkapkan, sebelum terjadi krisis moneter tahun 1997, usaha roti orangtuanya pernah dilirik oleh Bogasari dan bersedia memberi pinjaman modal untuk pengembangan usahanya. “Pernah dulu dari Bogasari yang siap mendampingi usaha roti bapak agar berkembang tapi bapak ingin usahanya berjalan sendiri,” katanya.

Untuk jenis dan bahan-bahan yang digunakan tidak pernah ada perubahan. Bahkan, tidak ada variasi tambahan apapun untuk mempercantik rotinya. “Sebenarnya bisa saja kita kasih cokelat, ceres atau keju, tapi kata bapak nanti tidak bisa disebut roti gulacir lagi. Kalau namanya sesuai nama kampung kurang tahu persis, tapi kata kakek biar nama gulacir dikenal dimana-mana,” tuturnya. (TANJUNG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook