Petani Sobang Tolak Mesin Panen Padi Moderen

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Sabtu, 20 Juli 2019 - 11:33:43 WIB   |  dibaca: 267 kali
Petani Sobang Tolak Mesin Panen Padi Moderen

TOLAK COMBINE : Sejumlah petani di Kecamatan Sobang berunjuk rasa menolak keberadaan mesin combine di Mapolsek Panimbang, Jumat (19/7).

PANDEGLANG -  Puluhan petani dan buruh tani dari Desa Teluklada, Kecamatan Sobang menggelar unjuk rasa di depan Kantor Polsek Panimbang, Jumat (19/7).  Unjuk rasa dipicu karena ada sejumlah petani yang dimintai keterangan Polisi terkait tuduhan pengerusakan alat pertanian berupa mesin pemanen padi modern atau yang disebut combine yang dinilai akan menghilangkan mata pencaharian buruh tani.

Pantauan di lokasi, unjuk rasa berlangsung pukul 10.00 WIB. Puluhan petani yang terdiri dari kaum perempuan dan laki-laki yang didampingi Lembaga Hukum Tridharma Indonesia tiba di Polsek Panimbang, dengan membawa poster yang bertuliskan 'Tolak combine' dan 'dampak jika combine beroperasi masyarakat menjerit'. Tidak hanya itu, para petanipun langsung melakukan orasi menumpahkan unek-uneknya.

Bambang Ferdiansya, dari Lembaga Hukum Tridharma Indonesia yang mendampingi para pendemo mengatakan, demonstrasi para petani merupakan aksi solidaritas karena ada beberapa petani yang tengah menjalani yang diperiksa pihak Polsek Panimbang terkait kasus dugaan pengerusakan alat tersebut.

"Perlu kami luruskan, petani bukan melakukan pengerusakan combine hanya menolak combine dioperasikan di area pertanian saat musim panen karena membuat buruh tani kehilangan pekerjaan," ungkapnya, kemarin.

Diterangkan Bambang, para petani bukan menolak  moderenisasi bidang pertanian. Namun adanya alat combine yang digunakan saat panen padi, membuat buruh tani kehilangan mata pencahariannya. 

Di sisi lain pemerintah tidak memberikan solusi kepada buruh tani yang jumlahnya cukup banyak dan menggantungkan hidup sebagai buruh."Penggunaan alat pertanian berupa combine memang efektif dan efisien. Namun nasib para burih tani mau bagaimana, soalnya buruh tani banyak yang nganggur," jelasnya.

Soal dugaan pengerusakan combine yang melibatkan sejumlah petani, Bambang juga mendesak polisi menghentikan pemeriksaan. "Karena mereka (petani-red) bukan merusak. Hanya melarang combine itu masuk ke Desa Teluklada," ujarnya.

Salah seorang pendemo, Sukaesih mengatakan, semenjak adanya alat pertanian combine, buruh tani tidak punya pekerjaan. Padahal di pedesaan pengolahan sawah hingga panen melibatkan manusia atau buruh tani. "Kalau masa panen ini diganti dengan mesin combine, lalu kami mau makan apa. Satu-satunya mata pencaharian kami adalah bertani," terangnya. (muhaemin)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook