Kesulitan Air, Petani Terancam Gagal Panen

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Sabtu, 20 Juli 2019 - 11:50:46 WIB   |  dibaca: 193 kali
Kesulitan Air, Petani Terancam Gagal Panen

PANEN DINI : Surnarti (52), petani di Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang terpaksa memanen dini padinya akibat sawahnya kesulitan air, Jumat (19/7).

KAB. TANGERANG - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang menyebutkan petani di Kabupaten Tangerang sedang kesulitan air untuk mengaliri area sawahnya. DPKP memprediksi bila bulan depan tidak turun hujan, banyak petani akan mengalami gagal panen atau puso.

Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan DPKP Kabupaten Tangerang, Kustri Windayani mengatakan, kondisi saat ini para petani di Kabupaten Tangerang memilih untuk memajukan waktu tanam selagi ada ketersediaan sumber daya air (SDA).

Namun, kata Kustri, hal itu sangat berisiko bilamana ketersediaan air habis karena berpotensi gagal panen. “Kondisi saat ini di lapangan, petani ada sebagian memulai garap dan sebagian sudah mulai tanam, ada juga yang baru menabur benih. Sebulan kedepan jika tetap kemarau, dampaknya petani kekurangan air dan bisa gagal panen," kata Kustri kepada wartawan saat ditemui di DPKP Kabupaten Tangerang, Jumat (19/7).

Kustri menjelaskan, gagal panen petani lokal akan berimbas terhadap penurunan stok beras dari petani lokal. Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang sudah menyiapkan pasokan beras dari luar daerah. “Stok cadangan beras di Bulog juga masih aman sampai saat ini. Musah-mudahan untuk level Kabupaten Tangeang ketahanan pangan masih aman,” jelasnya.

Menurut Kustri, pihaknya perlu meningkatkan ketahanan pangan di level rumah tangga atau keluarga, untuk menghadapi dampak kekeringan ini. Pasalnya, yang perlu diperhatikan dalam level rumah tangga adalah daya belinya. “Level ini sangat bergantung dari pendapatan keluarga yang berpengaruh terhadap daya geli. Walapun bahan pangan cukup tersedia, masyarakat tidak bisa mengakses karena tidak cukup uangnya,” tuturnya.

Ditemui terpisah, Surnarti (52), petani Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang mengatakan, sejumlah petani terpaksa memilih memajukan masa panen karena sumber air mulai mengering. Dampak dari panen dini, kata Surnati, berdampak pada kualitas gabah kering. “Petani di sini (Desa Ciakar red), terpaksa mempercepat panen karena sudah kesulitan air,” kata Surnarti di area persawahnya.

Surnari menambahkan, pilihan mempercepat masa panen lebih baik daripada gagal panen yang mengakibatkan kerugian para petani. Meskipun panen dini bisa berakibat kualitas gabah kering kurang begitu bagus. “Dampak mempercepat panen ini, ya kualitas gabahnya sama berasnya kurang bagus karena yang seharusnya tiga bulan, ini hanya dua bulan,” pungkasnya. (imron)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook