Dibuat Ketika ada Pesanan, Pertahankan Tradisi Leluhur

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Senin, 22 Juli 2019 - 12:01:15 WIB   |  dibaca: 290 kali
Dibuat Ketika ada Pesanan, Pertahankan Tradisi Leluhur

TETAP BERTAHAN : Rojat, warga Kampung Pelabuhan Bulan, Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu sedang membuat gribik di halaman rumahnya, belum lama ini.

SERANG - Usaha kerajinan anyaman bambu berupa pembuatan geribik dan welit tetap ditekuni oleh warga Kecamatan Kramatwatu walaupun mereka harus bersaing dengan material yang lebih modern seperti wallpaper, gypsus, dan genteng dari beton.

Bagi mereka yang sering melewati Jalan Raya Serang-Cilegon, tepatnya di samping Kantor Basarnas Kelas B Banten, Kampung Pelabuhan Bulan, Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu, kita akan melihat tumpukan geribik dan welid di pinggir jalan. Geribik dan welit tersebut dibuat oleh warga setempat, selain sebagai sumber mata pencaharian juga untuk menjaga tradisi leluhur yang sudah turun temurun.

Selain di Desa Wanayasa, pembuat geribik dan welid juga dapat ditemukan di Kampung Kemertan, Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu. Tidak banyak pembuat geribik dan welid di dua desa tersebut hanya beberapa kepala keluarga (KK) saja, seperti di Desa Pejaten pembuat geribik dan welit hanya lima KK.

“Kalau geribik dibuatnya dari kulit bambu tapi kalau welid dari daun pohon embulung (rembulung-red),” kata Naim, salah seorang pembuat geribik dan welit di Desa Pejaten, Minggu (21/7).
Para pembuat geribik dan welid tersebut bukan tidak menyadari akan ketatnya persaingan usaha bahan bangunan rumah yang mereka jalani. Namun mereka masih optimis jika banyak masyarakat yang membutuhkan hasil kerajinan tangannya seperti pemilik rumah makan, pemilik resto, dan pelaku usaha pembuatan saung.

“Iya sih sekarang untuk plafon sudah ada gypsun, terus genteng sekarang bagus-bagus, kemudian untuk tembok saja banyak yang pakai wallpaper. Makanya kita hanya membuat kalau ada yang pesan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Rojat, pembuat geribik dan welid lain di Desa Wanayasa menuturkan, pembuatan geribik dan welid memakan waktu kurang lebih satu minggu karena untuk bambu harus direndam dilupur sebelum kemudian dikeringkan.

“Untuk bahan bakunya dapat dari sekitar danau Wulandira. Kebetulan milik sendiri jadi enggak beli kecuali bambu. Kalau harga tergantung ukuran tapi kita enggak mengambil untung besar. Ini kan juga mempertahankan tradisi orangtua dulu,” katanya.(TANJUNG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook