Napi Diminta Bayar Rp5 Juta - Rp10 Juta

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Selasa, 23 Juli 2019 - 12:16:03 WIB   |  dibaca: 294 kali
Napi Diminta Bayar Rp5 Juta - Rp10 Juta

Lapas Pemuda Kelas II A Tangerang nampak sepi dari pengunjung, Minggu (21/7). Lapas yang berlokasi di Kelurahan Buaran Indah, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang tersebut mencuat dugaan pungutan liar (Pungli).

KOTA TANGERANG - Pungutan liar (pungli) dan bisnis pemindahan atau populer disebut penerbangan warga binaan pemasyarakatan (WBP) diduga terjadi di Lapas Pemuda kelas IIA Tangerang, Kelurahan Buaran Indah, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Dugaan praktik ilegal tersebut dijalankan oleh tahanan pendamping (tamping) kepercayaan bagian register Lapas Pemuda berinisial SU alias RI dan TAS alias BO.

Salah seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, alur pungli pemindahan WBP Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang dilakukan oleh tamping berinsial SU dan TAS atas suruhan bagian registrasi Lapas Pemuda.

Awalnya, dua tamping itu mendatangi WBP yang namanya masuk dalam daftar pemindahan sesuai dengan data dari bagian register Lapas Pemuda. Data itu, bisa dipastikan diperoleh dari bagian registrasi. “Jika ingin bertahan di Lapas Pemuda, WBP itu harus bayar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Nantinya, uang disetor oleh kedua tamping itu ke bagian regiser Lapas Pemuda,” katanya melalui pesan yang dikirim kepada wartawan, Sabtu (20/7).

Selain pungutan pemindahan WBP, lanjut dia, praktik ilegal juga dilakukan kepada keluarga WBP yang berkunjung ke Lapas Pemuda. Pungutan yang masih melibatkan dua orang tamping tersebut, akan menawarkan harga khusus kepada pihak keluarga yang ingin mendapatkan tambahan waktu dan lokasi kunjungan yang berbeda dari WBP lainnya.

Fasilitas itu berupa saung yang berada di depan ruang register. “Keluarga yang sudah bayar Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta akan mendapatkan waktu berkunjung sekitar 4 jam. Jika ada petugas yang bertanya, mereka beralasan bahwa itu pengacara WBP, bukan kunjungan keluarga biasa,” ungkapnya.

Menurutnya, jual beli fasilitas kunjungan khusus tersebut dapat dibuktikan dengan masih adanya WBP yang menerima kunjungan keluarga di saung depan ruang register tersebut. Padahal, berdasarkan aturan yang ada, semua WBP harus menggunakan ruang aula yang telah disediakan. “Itu bisa dibuktikan dengan WBP yang masih ada berkunjung di saung dengan waktu lebih lama, seperti dari jam 09.00 WIB hingga 13.00 WIB. Lamanya waktu kunjungan disesuaikan dengan ,” tuturnya.

Dia mengatakan, untuk melancarkan pungli dan bisnis penerbangan WBP, tamping kepercayaan bagian register Lapas Pemuda kerap menjual nama Kepala Lapas (Kalapas) Pemuda Tangerang Jumadi kepada para WBP dan keluarga para WBP. “Pak Kalapas selalu dicatut untuk memuluskan pungutan-pungutan. Padahal, saya yakin Kalapas tidak tahu,” tuturnya.

Dia menambahkan, masih banyak pungli yang dilakukan oleh dua tamping itu. Misalnya, keluarga WBP diminta biaya bila mengurus justice collborator (JC) melalui petugas register. Padahal, keluarga bisa sendiri mengurus JC langsung ke kejaksaan. Selain itu, ada juga biaya pergaulan. Namun demikian, dia tidak mengetahui besaran biaya pengurusan JC dan biaya pergaulan tersebut. “Sulit dipercaya, kalau petugas register tak mengetahui pungli yang dilakukan oleh tamping kepercayaannya,” tutupnya.

Dugaan pungli dan bisnis penerbangan di Lapas Pemuda IIA Tangerang ternyata sedang dilakukan penelusuran oleh Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Banten. Menurut Kepala Ombudsman Banten Bambang P Sumo, meski belum ada laporan resmi, indikasi pungli di Lapas Pemuda IIA Tangerang, pihaknya sedang menelusuri pungli yang dilakukan WBP senior kepada WBP yunior. “Indikasi pungli selalu ada, kami sedang menelusuri aliran pungli yang dilakukan WBP senior. Itu yang sedang dicermati,” kata Bambang melalui telepon.

Bambang menambahkan, pihaknya masih menemukan maladministrasi di Lapas IIA Tangerang, diantaranya, ada laporan terkait penolakan napi kejaksàan yang harus eksekusi penahanan karena alasan kesehatan. “Tapi kasusnya sudah selesai. Yang bersangkutan dimasukkan penjara,” ungkapnya.

Senada disampaikan mantan WBP Lapas Pemuda IIA Tangerang Ubed Jubaedi. Ia mengungkapkan, pungli fasilitas kunjungan keluarga dan bisnis penerbangan WBP di Lapas Pemuda Tangerang bukan rahasia umum. Pungli dilakukan oleh Tamping kepercayaan oknum petugas.

“Bukan rahasia umum bang (Ubed Jubedi menyebut wartawan_red) kasus itu mah, ya pasti suruhan petugas. Sekarang gini, tamping itu punya data nama-nama WBP yang akan dipindahkan dari mana kalau bukan dari petugas,” kata WBP kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) ini saat ditemui di rumahnya.

Ubed menjelaskan, WBP asli Tangerang atau yang sudah betah tinggal di Lapas IIA Tangerang lebih memilih mengeluarkan biaya ketimbang harus dipindahkan ke lapas atau rutan yang lain. Hal itu menjadi ladang bisnis oknum petugas melalui tamping kepercayaan. Untuk membuktikan bisnis itu, kata Ubed, memang sulit karena biaya dibayarkan langsung ke ruangan registrasi, tidak melalui rekening. “Hidup di dalam penjara lebih besar (biayanya) ketimbang hidup di luar. Makanya jangan mau masuk penjara,” celotehnya.

Ubed berharap, tidak ada lagi pungli di dalam lapas atau rutan karena tidak semua WBP berasal dari keluarga mampu. Kepada petugas, diharapkan selalu menjalankan tugas dan fungsi (tupoksi) dengan baik sebagai pegawai yang melakukan pembinaan kepada WBP, agar WBP menjadi penjara sebagai tempat introspeksi dari kesalahan yang telah diperbuat.

“Ya harapan saya, jadikan penjara jadi tempat introspeksi diri oleh WBP. Jangan ada pungli-pungli lagi, jika pungli masih marak. Saya yakin ada WBP yang tidak kapok masuk penjara lagi. Istilahnya, tidak masalah masuk penjara yang penting banyak uang. Toh di dalam bisa mendapatkan fasilitas asal bayar,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Registrasi Lapas Pemuda kelas IIA Tangerang Syamsul Hidayat AR membantah telah memerintahkan tamping untuk memungut biaya "penerbangan" dan memungut tambahan fasilitas pertemuan keluarga dengan WBP.

Namun demikian, Syamsul membenarkan memiliki delapan tamping yang diantaranya berinisial SU alias RI dan TAS alias BO. “Tidak benar, tamping register saya itu, RI, BO, FE, KE, TE, NA, NAZ, dan AS. Adakah di antara tamping-tamping itu,” kata Syamsul saat dikonfrmasi melalui telepon.

Syamsul menambahkan, pungli dan bisnis penerbangan WBP di Lapas Pemuda IIA Tangerang tidak boleh dilakukan. Untuk itu, pihaknya akan melakukan penulusuran informasi tamping yang melakukan pungli dan bisnis penerbangan tersebut. “Saya juga butuh informasi dari mas (Syamsul menyebut wartawan_red) siapa tamping yang minta uang "penerbangan" dan minta uang duduk di saung taman. Siapa WBP yang menjadi korban,” tutupnya. (imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook