Kejati Garap Dugaan Korupsi JLS

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 23 Juli 2019 - 12:35:23 WIB   |  dibaca: 395 kali
Kejati Garap Dugaan Korupsi JLS

BERDEDIKASI : Kajati Banten Happy Hadiastuty memberikan penghargaan kepada jaksa senior dalam peringatan HUT Adhyaksa, Senin (22/7).

SERANG- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten mulai menggarap kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Kota Cilegon senilai Rp 14 miliar yang dianggarkan melalui APBD Kota Cilegon tahun anggaran 2013.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten Happy Hadiastuty mengatakan, kasus dugaan korupsi JLS Kota Cilegon mulai dilakukan penyelidikan oleh Kejati Banten pada 5 Juli 2019. Kasus itu naik ke tahap penyidikan pada 9 Juli 2019."Untuk titik lokasi JLS yang tengah kita lidik dari kilometer 5+19 hingga KM 8+66, jalur kanan," jelas Happy didampingi Aspidsus Kejati Banten Sekti Anggraini, disela-sela kegiatan HUT ke-59 Adhyaksa, di Kajati Banten, Senin (22/7).

Menurut Happy, penyidik Kejati Banten menduga ada ketidakberesan dalam proses lelang proyek, hingga pelaksanaan kegiatan proyek peningkatan lapis beton tahun 2013 tersebut."Mulai dari pelelangan dari ULP (unit layanan pengadaan) sudah ada indikasi, dan pengerjaannya juga ada indikasi," ujarnya.

Happy mengungkapkan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap pejabat di Dinas Pekerjaan Umum (DPU), pelaksana kegiatan hingga pejabat lainnya yang diduga terlibat dalam kasus tersebut."Sudah 80 persen (orang-orang yang terlibat) kita periksa. Mulai dari PA (pengguna anggaran), KPA (kuasa pengguna anggaran), PPK (pejabat pembuat komitmen), pejabat pengadaan dan rekanan. Total semuanya ada 8 orang," ungkapnya.

Happy menegaskan, meski sudah naik ke tahap penyelidikan, kerugian negara dalam dugaan korupsi tersebut belum diketahui. Rencananya Kejati Banten akan menggunakan audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)."Kalau audit dari Inspektorat sudah ada, tapi temuannya hanya biaya perjalanannya saja. Untuk di sini kita akan melakukan audit fisiknya," tegasnya.

Selain JLS, Happy menegaskan ada lima kasus dugaan tindak pidana korupsi lainnya yang tengah dalam tahap penyelidikan. Namun pihaknya masih enggan membeberkan ke lima kasus tersebut, lantaran penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti. "Totalnya ada enam, 1 JLS dan 5 masih tahap penyelidikan. Kalau sudah tahap penyidikan nanti kita informasikan kembali," tegasnya.

Disinggung terkait HUT Adhiyaksa, Happy memerintahkan kepada seluruh jajarannya untuk meningkatkan profesionalitas, memupuk semangat solidaritas untuk mampu bekerjasama, meningkatkan keberanian dan kejujuran."Kemudian mengukuhkan jiwa korsa sebagai landasan utama kebersamaan insan Adhyaksa dan mempersiapkan diri untuk mengabdi dan bekerja sepenuh hati demi kemajuan, keunggulan dan keutuhan negeri," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cilegon Muhammad Ridwan saat hendak dikonfirmasi wartawan via ponselnya tidak menerima panggilan wartawan Banten Raya hingga tiga kali.

Terpisah, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Cilegon Andi Mirnawati juga mengatakan bahwa pihaknya mendalami kasus dugaan korupsi JLS sepanjang dua kilometer. Kasus itu kini telah memasuki tahap penyidikan.

Dugaan korupsi di jalan yang membentang dari Kecamatan Cibeber hingga Kecamatan Ciwandan itu bermula dari laporan masyarakat pasca ambrolnya jalan yang berada tepat di Kelurahan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil, pada April 2018. Jalan itu ambrol setelah dihantam banjir.

"Penyidikan yang dilakukan tidak hanya pada lokasi ambrol, melainkan keseluruhan ruas jalan yang masuk dalam satu paket pengerjaan. Dalam paketnya, pengerjaan itu sepanjang dua kilo lebih,” ujar Mirnawati kepada wartawan di kantor Kejari Cilegon.

Menurutnya, pengambilan keterangan sudah dilakukan sejumlah pihak dari DPUTR hingga pihak ketiga yang mengerjakan proyek jalan tersebut. Saat ini, menurut Mirnawati, pihaknya sedang menunggu penghitungan kerugian negara oleh Badan Pemerikan Keuangan (BPK).

Ia melanjutkan, pihaknya sendiri saat ini telah mengantongi sejumlah nama yang terindikasi terlibat dalam kasus tersebut. Namun ia mengaku belum bisa membeberkan identitas nama-nama tersebut sebelum seluruh tahapan selesai dilakukan. Namun Mirnawati memberikan isyarat jika nama yang terindikasi terlibat kasus korupsi jalan yang kini bernama Jalan Aat-Rusli (JAR) tersebut lebih dari satu orang. “Kalau sudah P21 (lengkap) ada penetapan tersangka, penyebutan nama gak masalah,” ujarnya. (darjat/gilang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook