Kemarau, Ikan Laut Langka di Pasar

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 13 Agustus 2019 - 12:35:11 WIB   |  dibaca: 184 kali
Kemarau, Ikan Laut Langka di Pasar

SEPI: Penjual ikan di Pelabuhan Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang menunggu pembeli, kemarin. Dua pekan terakhir ikan laut langka.

SERANG, BANTEN RAYA- Ikan laut di Pasar Induk Rau (PIR), Kota Serang mengalami kelangkaan. Kelangkaan ikan laut ini terjadi karena pasokan ikan laut dari nelayan sulit. Diduga kelangkaan tersebut akibat cuaca kemarau. Akibatnya, peredaran ikan laut di pasaran pun kosong.

Pantauan di PIR sekitar pukul 10.00, banyak lapak-lapak pedagang ikan yang tutup. Sekali pun ada yang buka hanya menjual sisa stok ikan.
Pedagang ikan yang ditemui di Pasar Rau, Haidar menjelaskan, banyaknya lapak ikan yang tutup karena pasokan ikan laut dari nelayan lagi langka karena cuaca kemarau. Ditambah lagi masih suasana Lebaran Idul Adha, sehingga nelayan tidak melaut.

“Ikan tidak ada karena nelayan tidak melaut. Banyak juga yang nanya ikan laut tapi barangnya gak ada. Terus sekarang ini suasana masih lebaran haji, mungkin karena banyak yang kurban,” kata Haidar kepada Banten Raya, Senin (12/8).

Ia menyebutkan, untuk harga ikan laut seperti ikan tongkol ukuran kecil dan ikan cucut mengalami kenaikan harga mencapai Rp 25.000 per kilogram (kg).“Ikan tongkol, ikan cucut, naik tapi tidak terlalu tinggi cuma Rp 1.000 per kg. Kalau ikan kue masih standar Rp 45.000, tapi saya gak jual ikan tonkol, ikan cucut, dan ikan kue, kan barangnya gak ada,” ucap dia.

Hampir serupa dikatakan Rojak, pedagang ikan lainnya di Pasar Rau. Sejak beberapa pekan dia kesulitan untuk mendapatkan ikan laut. Selama ini pasokan ikan laut yang ia jual bukan berasal dari nelayan Karangantu, akan tetapi dari luar daerah seperti Jawa, Lampung, dan Karawang.“Kalau dari nelayan Karangantu susah. Gak ada ikannya. Ini juga saya jualan sisa stok aja,” ujar Rojak.

Di lapaknya, ia hanya menjual ikan bandeng, mujahir, dan tongkol. Harga ikan tongkol ukuran kecil di lapak Rojak dijual Rp 25 ribu per kg.“Biasanya saya jual ikan laut kayak kembung banjar, layang, kue, cumi, udang. Tapi karena ikannya lagi susah ya jualnya ikan yang ada aja. Ini juga sisa stok,” katanya.

Kondisi kelangkaan ikan laut pun dibenarkan oleh salah seorang nelayan Karangantu, Kecamatan Kasemen, Amir. Menurut dia, sejak beberapa pekan belakangan ini hasil tangkapannya berkurang drastis. Biasa dia mendapatkan hasil tangkapan ikannya mencapai 50 kilogram (kg) dalam sehari, kini sejak musim kemarau hasil tangkapan ikannya hanya mendapatkan lima per kilogram (kg) dalam sehari. Akibat kondisi tersebut, pendapatannya pun berkurang.“Cukup buat makan-makan doang. Biasanya 50 kg. Sekarang mah cuma lima kg. Jauh sekali,” ujar Amir ditemui di lokasi di Karangantu, Senin (12/8).

Ia mengungkapkan, sejak musim kemarau ikan-ikan yang akan dijaringnya berpindah ke tengah lautan. Karena demi kebutuhan dirinya pun harus mencari ikan hingga ke tengah lautan. Sementara modal untuk melaut dalam sehari ia harus merogoh kocek hingga Rp 350 ribu per hari.

“Kalau jarak melautnya semakin jauh, modalnya pun semakin besar. Karena selama musim kemarau ini ikan-ikannya pada lari ke tengah, beda kalau lagi pasang. Kita melautnya gak sampai ke tengah-tengah atau jauh-jauh. Cukup di sekitar Teluk Banten aja sudah dapat,” ungkap dia.

Selain keluhan soal cuaca, Amir pun mengeluhkan kondisi endapan lumpur yang ada di bantaran Muara Karangantu, karena ketika para nelayan hendak melaut, perahunya kesulitan untuk dioperasikan lantaran air muaranya yang surut.

“Waktu itu lima tahun sekali ada pengerukan lumpur. Sekarang sudah tidak ada lagi. Makanya kami juga berharap lumpur-lumpur ini dikeruk oleh instansi terkait. Kalau gak ada pengerukan kan minimal kalau gak minimal bisa ke laut. Kalau gak ke laut pisan kan gak ada sama sekali. Kalau gini kan susah boro-boro buat ngerokok. Buat makan aja susah,” keluhnya. (harir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook