Milenial Dijajah Gadget

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Senin, 19 Agustus 2019 - 16:07:37 WIB   |  dibaca: 236 kali
Milenial Dijajah Gadget

SERANG - Tantangan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun semakin besar. Selain soal ekonomi yang banyak disorot, juga soal sosial masyarakat yang kadang terlupakan, salah satunya mengenai begitu tergantungnya generasi kita dengan  smartphone, atau gadget atau gawai.

Seperti dituturkan Ade Ria Fitriani (17), siswi SMKN 1 Pandeglang. Ia mengaku tak bisa lepas dari gawai dan hampir 24 jam menggunakannya. "Kalau gak pegang gadget, suka jenuh dan gak enak begitu," kata Ade, Minggu (18/7).

Gadis cantik ini mengatakan, dalam satu bulan ia harus mengeluarkan biaya puluhan ribu untuk membeli kuota internet, dimana uangnya diberi orangtua. "Kuota yang dipakai satu bulan 3 gb (gigabyte), kalau dalam bentuk uang yang dikeluarkan setiap bulan Rp50 ribu," ujarnya.Menurutnya, kuota internet yang dibeli digunakan untuk mengakses media sosial. "Suka buka Whatsapp, Youtube sama Instagram," ujarnya.

Ade menyebutkan, dirinya sering kali mengakses informasi di media sosial yang mendidik dan tidak pernah membuka situs terlarang, seperti situs pornografi. "Gak pernah. Jangan lihat begituan," ucap siswi jurusan administrasi perkantoran ini.

Ade mengakui, saat ini masyarakat dan pelajar sudah sangat tergantung oleh gadget. "Kenapa kita sudah dijajah karena semua sudah pegang gadget, hampir semua sibuk pakai handphone," jelasnya.Senada dikatakan Lastri siswi SMAN 1 Pandeglang. "Sudah kebiasaan pegang handphone. Gak pegang handphone suka gak karuan, suka inget saja sama handphone," katanya.

Gawai bagi generasi muda atau milenial khususnya bukan lagi hanya sebatas untuk kebutuhan komunikasi. Selain menjadi gaya hidup, keberadaan gadget juga sudah mempengaruhi kehidupan mereka. “Kalau saya memegang gadget dalam satu hari satu malam kurang lebih sampai 18 jam, tapi kadang kurang dari itu. Dalam satu bulan untuk membeli kuota bisa menghabiskan uang sebesar Rp100.000 lebih,” ujar Mufiyah, mahasiswa UIN Banten.

Mahasiswi jurusan ekonomi syariah itu mengaku paling banyak mengakses Instagram dan Facebook. “Kalau enggak megang handphone kayak ada yang hilang. Sering sih selfie sama teman-teman. Kalau mengupload makanan ke medsos pernah. Kalau mengakses situs negatif enggak pernah,” katanya.

Mufiyah mengaku setuju dengan istilah generasi millenial dijajah gadget, kerena generasi saat ini temasuk anak-anak, hidupnya terlalu asyik dengan gadgetnya. “Sekarang kan anak-anak dalam situasi dan kondisi apapun selalu megang gadget. Mungkin kita harus lebih bijak dalam menggunakan gadget,” tuturnya.

Nika, mahasiswi jurusan Perbankan Syariah UIN Banten menyadari bahwa penggunaan gadget berlebihan mengganggu interaksi individu masyarakat. “Dengan keluarga dan teman sendiri kita jarang ngobrol padahal kita sedang berdekatan. Semua sibuk dengan gadgetnya,” ujarnya.

Aldi Firman Fauzi, mahasiswa FKIP Universitas Banten Jaya (Unbaja) jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) menuturkan, hampir tiap hari ia menggunakan gawai sebagai penunjang informasi baik itu informasi dari media sosial (medsos) ataupun seputar informasi lainnya. “Hampir tiap waktu soalnya itu dibutuhkan banget untuk membantu menunjang informasi dari berbagai daerah dan grup,” katanya.

Karena hampir tiap waktu menggunakan gadget, ia mengaku per bulan mengeluarkan biaya untuk membeli kuota mencapai Rp 65.000. Biaya senilai Rp65.000 itu ia anggap wajar karena dirinya pun mendapatkan kepuasan informasi dari pembelian kuota untuk gadgetnya. “Yang paling sering diakses itu saya pakai WA (Whatsapp). Di WA itu saya pakai untuk keperluan diskusi dan informasi dari grup WA lainnya. Kalau IG (Instagram) cakupannya itu kita bisa lihat view gitunya gambarnya. Kita bisa lihat destinasi dari instagram. Dan juga bisa buat bisnis,” ucap dia.

Ia pun tak memungkiri bahwa melalui kecanggihan ponsel cerdar, dirinya pernah membuka situs porno. Namun ia beralasan hanya sebatas mencari informasi semata bukan untuk konsumsi sehari-hari. “Pernah waktu masa SMA dulu. Tapi sekedar tahu aja bukan untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa bahaya nanti,” akunya.

Oleh karenanya, Aldi pun mengakui secara jujur bahwa dirinya sejak mengenal gadget sudah dijajah oleh alat elektronik tersebut. “Setuju karena gara-gara gadget hubungan antar manusia menjadi kurang. Walaupun kita sedang berkumpul tapi sejak ada gadget untuk berinteraksinya pun jadi berkurang,” tutup mahasiswa semester V ini.

Hampir senada dikatakan mahasiswi Unbaja FKIP PBI lain Devi Amalia Kusuma Dewi. Menurut Devi, hampir tiap waktu dalam sehari dirinya memegang gadget. Tapi bila tidak penting, Devi bisa seharian tidak memegang gadget. “Kalau lagi penting bisa tiap waktu, tapi kalau tidak penting bisa seharian tidak megang gadget,” ujar Devi.

Ia pun mengeluarkan kocek hingga Rp 65.000 dalam per bulan untuk mendapatkan kuota.  “Sebulan pengeluaran saya Rp 65.000. Itu jauh lebih murah karena saya pakai operator yang murah yang bisa mengontrol penggunaan gadget saya,” kata dia.

Devi mengakui sekali di era 4.0 ini bila tidak memegang gadget akan terasa asing dan salah tingkah, terlebih dirinya berstatus mahasiswi yang cukup aktif di kampusnya. “Kalau tidak megang gadget itu rasanya sepi karena sudah biasa mencet-mencet. Tapi kalau misalkan tidak pegang gadget saya bisa beralih ke yang lain megang laptop mengerjakan tugas, nonton tivi atau melakukan pekerjaan rumah,” tuturnya.

Saat ditanya setuju tidak dengan pernyataan bahwa sekarang kita seperti dijajah oleh gadget? Dengan lugas Devi menjawab, “Setuju sih. Setuju banget. Karena hampir tiap orang selalu megangnya gadget. Entah itu lagi ngumpul sama temannya atau janjian sama siapaun pasti yang dipegang gadget,” tuturnya.

Mala Agustina, mahasiswi semester VII Ilmu Komunikasi Untirta menyadari betul soal ketergantungan terhadap gawai. Ia mengaku tidak memegang handphone jika hanya saat tidur saja. “Setuju (terjajah gadget-red) dan menyadari jika kita sudah dijajah gadget. Saya bangun tidur saja yang dilakukan membaca Whastapp,” katanya.

Untuk media sosial, Mala mengaku paling sering mengakses Instagram. Ia menilai Instagram lebih lengkap dan mudah untuk untuk belanja online. “Mainnya lebih sering Instagram, berita gampang dan online shop juga banyak. Untuk selfie bareng teman-teman jarang dan makanan juga sama,” kata wanita yang saat ini magang di Dinas Komunikasi Informatika Sandi dan Statistik (Diskominfosantik) Kota Cilegon ini.

Erna Maulidiah, rekan sekelas Mala memiliki pengakuan yang sama. Dalam sebulan Erna menghabiskan Rp150 ribu untuk belanja kuota. “Seringnya Instagram karena mencari orang gampang dibanding yang lain. Lumayan untuk beli kuotanya setiap bulan sih paling diisi Rp150 ribu,” katanya.

Meski demikian, ada juga kalangan milenial yang mencoba untuk tidak didikte smartphone. Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al Khairiyah Cilegon Isnayanti Amalia misalnya, mencoba menekan penggunaan gawai hanya 8 jam. “Kalau ngegame online memang saya tidak pernah. Saya pegang hape buat ngobrol sama teman via medsos sama jualan kerudung, kalau baca-baca yang tidak penting juga tidak pernah. Kalau selfie sama teman, biasanya yang teman dekat atau teman lama tidak ketemu saja,” katanya.

Mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Bernadette Cyan Gainara mengaku menggunakan gadget 15 jam dalam sehari untuk mengupdate informasi di sosial media. Selain itu, gadget juga digunakan sebagai alat mencari bahan untuk mengerjakan tugas kuliah. “Kalau tidak pegang gadget saya sudah pasti ketinggalan informasi dan tidak bisa berkomunikasi dengan teman kuliah,” katanya kepada wartawan saaat di temui di gedung A Kampus UMN, Sabtu (17/8).

Dalam sebulan, kata perempuan yang akrab dipanggil Cyan, ia dapat menghabiskan kuota sebanyak 25 gb atau sebesar Rp250 ribu. Pasalnya, gadget saat ini juga dapat digunakan untuk mencari bahan tugas yang diberikan oleh para dosen. “Kan lewat gadget sekarang kita juga bisa download buku elektronik. Jadi saya tidak perlu repot-repot ke toko buku,” ungkapnya.

Menurut salah satu finalis Miss UMN 2019, gadget sudah menjadi kebutuhan pokok setiap mahasiswa. Artinya, bila dalam sehari tidak menggunakan gadget, bisa dipastikan aktivitas khususnya dalam perkuliahan akan terganggu. “Penting banget pegang gadget. Soalnya semua sekarang sudah bisa kita akses melalui gadget. Bahkan, dosen memberi informasi tugas atau tidak ada aktivitas kuliah juga melalui gadget,” ungkapnya.

Selain untuk kebutuhan perkuliahan, lanjut Cyan, gadget juga digunakan untuk mengakses media sosial. “Saya sering mengakses Instagram. Biasanya saya sering upload aktivitas sehari-hari termasuk saaat saya sedang kuliner,” ujarnya.

Cyan menambahkan, selain mengupload makanan, aktivitas di medsos yakni sering mengupload foto selfie ataupun bersama teman-teman. “Enggalah. Instagram setau saya memblokir situs-situs porno. Jadi saya tidak pernah mengakses situs porno,” tutupnya.

Senada disampaikan, Ganta, mahasiswa UMN lainnya. Ia mengatakan bahwa gadget sudah menjadi kebutuhan mahasiswa. Pasalnya, di era digital ini semua informasi dapat diakses melalui gadget dengan mudahnya. “Ya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi sekitar 22 jam. Sekarang ini kan semua informasi dibagikan melalui media sosial atau jika di kampus biasanya menggunakan email mahasiswa. Jadi jika kita tidak aktif menggunakan gadget maka otomatis akan ketinggalan informasi,” jelasnya.

Menurut Ganta, dalam sebulan ia hanya menghabiskan sekitar 20 GB atau jika diuangkan sebesar Rp 180 ribu. “Kuota hanya saya pakai jika di luar saja, kalau di rumah dan dikampus saya menggunakan fasilitas wifi, oleh karena itu, orang tua saya membatasi penggunakan kuota internet per bulannya,” tuturnya.

Konselor Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Serang Hindun Muasamah tak membantah jika generasi saat ini dijajah gadget. Indikasinya saat ini anak lebih senang bermain gadget dibandingkan dengan bermain di lingkungan dengan teman-teman sebaya mereka. Ini disebabkan karena anak sejak dini, bahkan saat usia 2 tahun, sudah diberikan gadget. Tetapi kunci dari masalah ini adalah orang tua.

Anak tidak mungkin bisa akrab dengan gadget bila tidak dikenalkan dan diizinkan oleh orang tua. Karena itu pengawasan dan kontrol orang tua tetap menjadi kunci. Orang tua sebaiknya jangan terlalu mudah memberikan gadget kepada anak.

Perilaku mudah memberikan gadget kepada anak disebabkan karena orang tua tidak mengenalkan permainan misalkan dengan menggunakan tubuh ayah dan ibu sebagai tempat bermain, seperti bermain kuda-kudaan, bergelantungan di kaki, menggendong, dan sebagainya. Selain itu ini juga buat dari orang tua yang sering membatasi lingkungan bermain anak dengan dalih tidak boleh keluar rumah khawatir sesuatu terjadi sehingga orang tua lebih suka melihat anak mereka diam anteng dengan gadget di tangan.

Padahal dengan membiarkan anak bermain bersama dengan teman sebaya akan ada pelajaran yang bisa didapatkan anak yang tidak bisa didapatkan dari gadget. Pelajar itu misalkan pelajaran bagaimana menyelesaikan masalah ketika ada konflik dengan teman, menghargai orang lain saat meminjam barang orang, dan lain-lain.

Hindun mencontohkan ia pernah menangani anak yang pada usia 8 tahun sudah kecanduan gadget. Setelah ditelusuri ternyata anak itu pada usia 7 tahun sering main game di gadget. Kebetulan anak itu sudah tidak memiliki ayah, sementara ibunya sibuk kerja sehingga sehari-hari diasuh oleh neneknya. Setiap pulang sekolah anak itu bermain game lalu berselancar di dunia maya menggunakan gadget.

“Awalnya adiksi sama game. Saat dia usia 8 tahun sudah adiksi gadget,” katanya seraya menambahkan untuk kasus di Kota Serang ia mengaku belum menemukan kasus anak yang sampai adiksi parah pada gadget.

Hindun menjelaskan bahwa orang tua yang memberikan anak mereka gadget adalah orang tua yang tidak mau ribet mengurus anak. Bisanya mereka tidak mau pusing mendengarkan tangisan anak sehingga agar anak cepat anteng dan tidak menangis maka diberikanlah gadget.

Atau karena tidak tahan anak mereka merengek ingin main gadget sehingga gadget tersebut diberikan kepada anak. Padahal, dengan cara seperti ini maka anak akan belajar bahwa setiap ia merengek akan diberikan gadget sehingga nanti ke depan si anak akan tetap merengek untuk bisa mendapatkan gadget.

Yang paling merusak dari gadget menurutnya adalah gadget akan merusak mata karena cahaya dari layar ponsel yang dilihat anak. Gadget juga merusak fokus anak karena anak hanya akan fokus pada gadget mereka bukan pada lingkungan.

Dampak negatif lain apabila anak sering mengakses gadget apalagi bila terhubung dengan internet anak bisa melakukan hal yang di luar kelaziman seorang anak. Ia mencontohkan kasus di Cilegon dan Cinangka ada anak yang diberikan keleluasaan menggunakan gadget biasa mengakses Facebook. Setelah itu ia kenal dengan teman di Facebook, janjian, pacaran, lalu berhubungan badan.

Sekretaris LPA Provinsi Banten Hendry Gunawan mengatakan, pada dasarnya penggunaan gawai pada usia anak-anak dan remaja adalah untuk memerluas pengetahuan melalui internet. Akan tetapi, sisi positif kemudahan akses internet terkadang disalahgunakan ke hal negatif hingga kecanduan.“Lagi-lagi sama seperti pisau, bisa digunakan memasak ya bisa tapi kemudian ketika salah digunakan sama seperti gadget (gawai-red),” ujarnya, Minggu (18/8).

Ia menuturkan, terpaparnya anak-anak terlihat dari setiap LPA menggelar sosialisasi ke beberapa SMP sederajat. Rata-rata mereka sangat lekat dengan gawai dan selalu berinteraksi dengannya. Karena hal itu juga mereka pada akhirnya tidak hanya digunakan untuk komunikasi tapi juga mengakses konten-konten yang tak sesuai dengan usianya.

“Pertanyaannya langsung kami putar apakah ada diantara anak-anak ruangan ini yang tidak pernah melihat video porno di HP-nya. Ditanya seperti itu, mungkin karena sulit menjawabnya, tidak ada yang tunjuk tangan, karena memang sudah terpapar,” katanya.

Temuan lain yang diperoleh LPA, kata dia, anak-anak terpapar konten pornografi salah satunya melalui grup WA. Di ruang percakapan digital itu, mereka bercengkrama tanpa memiliki batasan termasuk hal-hal dewasa ikut dibahas.

Untuk memastikannya, seorang anggota LPA Banten pernah menyadap gawai anaknya untuk melihat isi percakapan di grup WA yang diikuti buah hatinya. Dari hasil sadapannya, orang tua bisa membuktikan jika memang media sosial menjadi perantara masuknya konten porno ke anaknya.

“Isi percakapan ya tidak mencerminkan anak-anak SMP. (Anggota grup WA) umur 10-12 tahun ya umur-umur SD, di atas 12 tahun umur-umur SMP. Anak itu (yang disadap-red) masih SMP, isi percakapannya seperti sudah tidak ada batasan lagi. Itu menjadi konsen kami, anak-anak terpapar video porno dari situ,” ungkapnya.

Sosiolog dari Untirta Suwaib Amiruddin mengatakan, saat ini gawai seperti sudah menjajah anak-anak. Sebab selama ini, dari pantauannya antara gawai dan anak-anak sudah tak dapat dipisahkan. Hampir setiap tangan dari mereka selalu memegangnya.    

Dia menilai, kecanduan gawai selain karena kemudahan akses yang diberikan tapi juga pengaruh orang tua. Untuk usia anak-anak, peran orang tua dalam membentuk karakter anak sangat penting.“Anak-anak pasti lihat orang tuanya. Maka orang tua harus bisa memberikan contoh yang baik.

Orang tua harus bisa menjadi tempat anak menghabiskan waktu ketika di rumah. Ukuran teknologi tepat guna itu adalah menggunakan sesuai kebutuhan. Kalau pagi sampai malam pakai itu di luar kebutuhan,” tutur  pemegang gelar doktoral bidang studi sosiologi Universitas Padjadjaran ini.

Sama seperti Hendy, Suwaib meminta agar orang tua tak memberikan larangan menggunakan gawai secara eksplisit. Orang tua bisa mengarahkan penggunaan gawai ke arah positif. Contohnya, memasukan aplikasi pendidikan dengan tampilan yang menarik bagi anak-anak.

“Agak sulit kalau sudah di luar dari kebutuhan (kecanduan). Kalau diarahkan positif mungkin di HP itu diisi aplikasi yang bisa memberikan program pembelajaran. Anak-anak belajar online. Tetapi sekiranya aplikasi yang menarik bagi dia, agar bisa tersalurkan dengan baik,” ujarnya. (yanadi/uri/gilang/tanjung/imron/harir/tohir/dewa/fikri)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook