Belum Ada Laporan Darurat Kekeringan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Sabtu, 24 Agustus 2019 - 12:30:31 WIB   |  dibaca: 220 kali
Belum Ada Laporan Darurat Kekeringan

BAGI AIR: Kapolres Pandeglang AKBP Indra Lutrianto mengisi bak dengan air bersih di Desa Surakarta, Kecamatan Pagelaran, Jumat (23/8).

SERANG, BANTEN RAYA – Pemprov Banten hingga kini masih belum menerima laporan dari kabupaten/kota di Banten yang menyatakan status darurat kekeringan. Meski demikian, pemprov siap memberikan suplai bantuan mengingat sejumlah wilayah terpantau mulai kesulitan mendapat air bersih.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, per 21 Agustus di Banten terdapat 21.488 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan dan 4.553 diantaranya mengalami puso atau gagal panen. Rinciannya, Kabupaten Pandeglang seluas 11.711 hektare terdiri atas 3.106 hektare rusak ringan, 2.091 hektare rusak sedang dan 2.950 hektare rusak berat. Sementara yang mengalami puso 3.564 hektare.

Kabupaten Lebak, 2.847 hektare terdiri atas rusak ringan 1.067 hektare, rusak sedang 787 hektare, rusak berat 513 hektare dan puso 2.847 hektare. Kabupaten Tangerang 1.803 hektare terdiri atas rusak ringan 729 hektare, rusak sedang 466 hektare, rusak berat 348 hektare serta puso 260 hektare.

Kabupaten Serang yang mengalami kekeringan 2.864,5 hektare dengan yang rusak ringan 1.662 hektare, rusak sedang 608,5 hektare, rusak berat 402 dan puso 192 hektare. Kota Cilegon 29 hektare dengan rusak ringan 10 hektare, rusak sedang 10 hektare, rusak berat 3 hektare dan puso 2 hektare. Terakhir, Kota Serang seluas 2.234 hektare, rusak ringan 1.819 hektare, rusak sedang 333 hektare, rusak berat 27 hektare serta yang puso 55 hektare.

Sekda Banten Al Muktabar mengatakan, untuk mengatasi kekeringan, pemerintah kabupaten/kota menjadi otoritas pertama dalam mengambil tindakan penanggulangan. Hingga saat ini, pemprov belum menerima laporan adanya kabupaten/kota yang menetapkan status darurat kekeringan.

“Sampai saat ini belum terima, tapi nyatanya di masyarakat sudah ada (yang mengalami kekeringan). Kekurangan air bersih terutama, tapi kalau sampai diajukan kabupaten/kota belum,” ujarnya kepada awak media di Masjid Raya Albantani, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Jumat (23/8).

Mantan Ketua Ikatan Widyaiswara Indonesia itu menuturkan, lantaran sudah ada beberapa wilayah yang mengalami kekeringan, pemprov senantiasa untuk memberikan bantuan sesuai kewenangannya. Terlebih, jika dampak dari bencana itu terjadi pada lintas kabupaten/kota.

“Itu basis dasarnya kabupaten/kota dan apabila meluas antar kabupaten/kota maka dia menjadi kewenangan provinsi. Seperti juga bencana, provinsi bisa bertindak secara leluasa bila dia menjadi tanggap darurat provinsi. Kita punya BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kalau saya cek itu, kemarin saya berkunjung ke sana, kesiapannya siap,” katanya.

Selain menggunakan sumber daya yang dimilikinya, kata dia, pemprov juga akan mengoptimalkan dana corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan. Bahkan, beberapa perusahaan sudah siap untuk memberikan bantuan.

“Kita coba melihat umpamanya mengoptimalkan CSR oleh saudara kita, para pengusaha yang bisa care (peduli-red) terhadap itu. Bentuknya nanti silakan mereka yang membantu sendiri. Ada yang sudah komunikasi ke saya, jadi mereka siap berapa tangki (air bersih) dan seterusnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan Al Muktabar, ketahanan pangan meski kini Banten sudah memasuki musim kemarau namun pasokannya terbilang masih aman. Hal itu bisa dipastikan jika melihat skema pangan nasional. Selanjutnya, pemprov juga akan mengoptimalkan peran Bulog.  

“Pasti arah kebijakannya ke sana dan nasional pasti sangat memerhatikan juga. Kita berjenjang kabupaten/kota provinsi nasional sudah ready soal itu. Saya secara detail jumlah pertonnya belum cek, tapi secara umum lihat Bulog nasional pada dasarnya siap,” tuturnya.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi pada Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Yanuar Hendri mengatakan, beberapa wilayah di Banten terpantau tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari. Dengan kata lain, Banten dan sekitarnya kini sudah memasuki puncak musim kemarau.

Dari kondisi tersebut, timbul beberapa potensi dampak yang harus diwaspadai seperti berkurangnya kapasitas air bersih. Kemudian juga meningkatkan potensi polusi udara, terutama di wilayah padat kendaraan.“Banyak kendaraan akan meningkatkan polusi udara juga. Biasanya yang akan menetralkan atmosfer itu hujan. Akan Tetapi karena perkiraannya tidak hujan maka polusinnya menumpuk di atmosfer,” ungkapnya.

Meski demikian, curah musim hujan minim yang terjadi saat ini terbilang masih normal. Pihaknya memprediksi musim kemarau akan berakhir seiring masuknya musim hujan pada Oktober mendatang.“Musim hujan untuk Banten nanti paling cepat di akhir Oktober. Dari Agustus sampai Oktober ini kan masih ada sekitar dua bulan lagi. Imbauannya lebih kepada (suplai) air bersih akan menurun, defisit kapasitasnya, mungkin bisa lebih kepada penghematan air bersih,” tuturnya. (dewa)

 

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook