Menikmati Keindahan Alam dari Atas Sebongkah Batu

nurul roudhoh   |   Hiburan  |   Sabtu, 31 Agustus 2019 - 11:47:16 WIB   |  dibaca: 132 kali
Menikmati Keindahan Alam dari Atas Sebongkah Batu

Pemandangan persawahan dan perkampungan dilihat dari atas Batu Gede. Pemandangan ini sangat menarik saat musim tanam tanaman padi.

Kecamatan Taktakan di Kota Serang sebagai daerah perbukitan memiliki aneka lokasi indah yang bisa dijadikan tempat wisata keluarga atau sekadar swafoto (selfie). Salah satunya adalah Batu Gede Sayar.

Batu Gede Sayar berada di Kampung Batu Gede, Kelurahan Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten. Dinamakan batu gede karena di areal perbukitan kampung tersebut terdapat batu besar yang sangat menonjol di antara rimbun pepohonan. Batu ini seperti menyembul dari pepohonan yang rindang. Bahkan dilihat dari jalan raya batu ini akan terlihat menonjol.

Menurut Sofyani, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesona Alam 45 Sayar, ia yang pertama kali mengunggah foto-foto dari Batu Gede Sayar ke media sosial seperti Facebook, Instagram, bahkan Youtube. Setelah itu, banyak pelajar yang mendatangi lokasi lalu berfoto dan membagikan kenangan mereka di media sosial. Akhirnya Batu Gede Sayar pun banyak didatangi orang.“Mulai terkenalnya sejak tahun 2017,” kata Sofyani saat berbincang dengan Banten Raya di atas Batu Gede Sayar, Jumat (30/8).

Sebelum itu, kata Sofyan, ia naik ke Batu Gede bersama pamannya, Radi untuk menebang pohon weru yang akan digunakan untuk membangun rumahnya. Radi yang merupakan jawara di kampung, seperti biasa, membawa-bawa golok di pinggang. Sofyani pun mengutarakan ide agar jalan menuju Batu Gede Sayar dibersihkan dari semak belukar agar dapat dilalui dengan nyaman oleh pengunjung.

Sofyani meyakinkan Radi bila jalanan menuju puncak Batu Gede bersih dan banyak pengunjung, maka Radi pula yang akan diuntungkan. Rumah Radi yang berada persis di kaki bukit Batu Gede bisa dijadikan tempat parkir pengunjung.

Radi pun mendengar ide yang disampaikan Sofyani. Sedikit demi sedikit semak dan rerumputan dibersihkan sampai terlihat lekuk batu pada bukit tersebut seperti yang terlihat saat ini. Setelah itu Sofyani mempromosikan Batu Gede di media sosial dan dalam waktu singkat langsung viral.“Saya tenarin di Facebook, Instagram, dan Youtube terus anak-anak sekolah pada dateng. Awalnya banyak semak-semaknya,” katanya.

Akses Menuju Lokasi Bagi warg Luar Kota Serang yang ingin datang ke Batu Gede Sayar dapat mengakses lokasi tersebut dengan menggunakan angkutan kota. Bila sudah sampai Kota Serang, cukup naik angkot berwarna biru dan minta turun di perempatan Cikulur. Dari Cikulur, pengunjung dapat naik angkot atau naik ojek yang banyak mangkal di perempatan tersebut.

Ongkos angkot sampai gapura Batu Gede Sayar sekitar Rp5.000. Sementara bila menggunakan jasa ojek sekitar Rp15.000. Dari gapura pengunjung harus berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor sekitar 400 meter. Saat ini akses jalan dari gapura rusak. Meski sebelumnya pernah dibangun menggunakan aspal.

Ketika sampai di kaki bukit, pengunjung langsung mendaki sampai ke puncak Batu Gede Sayar. Pengunjung yang membawa sepeda motor akan dikenai uang masuk plus parkir sebesar Rp5.000. Meski demikian, ada juga pengunjung yang hanya memberi uang Rp3.000 atau Rp2.000 dan tetap diperbolehkan naik ke atas bukit oleh Radi yang setiap hari menjaga parkir.

Tidak ada warung di atas bukit. Karena itu pengunjung yang ingin naik harus membeli bekal, baik makanan maupun minuman, sebelum naik ke tas bukit. Tempat ini akan ramai setiap Sabtu dan Minggu, terutama sore hari. Waktu yang paling baik untuk menghasilkan foto yang indah dari atas bukit adalah saat sore hari.“Paling bagus sore dan saat tanam padi,” katanya.

Selain keindahan areal persawahan yang berundak yang bisa dinikmati dari atas bukit, pengunjung juga bisa menikmati suasana perkampungan dengan melihat hewan-hewan seperti kerbau, kambing, ayam, bahkan petani yang sedang panen bila masa panen sudah tiba.

Lurah Sayar Iwan Wicaksono mengatakan bahwa pengembangan Batu Gede Sayar oleh pemerintah daerah terkendala kepemilikan lahan yang dikuasi pribadi. Karena itu pemerintah daerah, melalui kelurahan, hanya pasif. (*)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook