Keluarga Berperan pada Perilaku Anak

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Jumat, 06 September 2019 - 15:06:56 WIB   |  dibaca: 604 kali
Keluarga Berperan pada Perilaku Anak

SADIS : Kapolda Banten menunjukkan barang bukti yang digunakan pelaku dalam membunuh korban, Jumat (5/9).

SERANG, BANTEN RAYA - Maraknya pembunuhan di kalangan remaja tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga di mana mereka tinggal. Sebab peran keluarga cukup vital dalam tumbuh kembang anak dan remaja.

Konselor Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten Hindun Muassamah mengatakan bahwa maraknya pembunuhan di kalangan remaja bisa terjadi karena faktor internal dan eksternal. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang terlahir jahat. Semua anak diciptakan Tuhan dalam keadaan suci dan baik.“Kalau ada anak yang melakukan kejahatan, perlu dipertanyakan bagaimana peran orangtuanya,” kata Hindun, Kamis (5/9).

Hindun menyatakan bahwa yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana pola asuh orangtua selama ini. Apakah anak-anak cukup mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan yang paling penting apakah orang tua sudah menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai agama pada anak.

Yang menjadi masalah adalah apabila orangtua menerapkan pola asuh otoritarian atau menerapkan disiplin sangat kaku dan terkadang penuh kekerasan. Sebab tidak jarang anak mengalami pengasuhan yang buruk, kasar, dengan menyia-nyiakan mereka bahkan terjadi kekerasan di dalam keluarga, baik verbal maupun fisik.

“Bila diasuh dengan pola seperti ini anak akan tumbuh dengan harga diri rendah, mudah marah, dan mudah menyakiti orang lain. Ketika anak mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya berarti dia akan mencontoh bagaimana memperlakukan orang lain dengan kekerasan juga,” katanya.

Sementara anak yang mendapatkan kasih sayang dan cinta dari orang tua, kata Hindun, akan belajar bagaimana menghargai dan berempati kepada orang lain. Bila anak tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtua, maka dia akan mencari perhatian di luar dengan cara-cara yang salah untuk mendapatkan pengakuan.“Nilai agama adalah pondasi anak dalam menjalani hidup. Anak diajarkan mana yang salah dan mana yang benar. Juga diajari bahwa Tuhan selalu mengawasi,” ujarnya.

Faktor lain yang juga mempengaruhi anak adalah faktor eksternal. Tontonan mengandung kekerasan yang mampu dengan mudah diakses anak lewat media sosial atau interet akan menjadi contoh bagi anak. Anak yang melihat tayangan-tayangan yang mempertontonkan kekerasan, pemerkosaan, baik yang diakses lewat game atau video, bisa menjadi contoh bagi mereka. Dalam belajar sosial, fungsi role model sangat penting bagi anak.

Namun saat role model yang tampil di media-media elektronik maupun media sosial mempertontonkan perilaku negatif yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat, misalnya menampilkan adegan seks bebas, perselingkuhan, kekerasan, transgender, pembunuhan, dan kriminalitas, maka akan menjadi faktor pendorong bagi anak untuk mencoba-coba atau menirunya.

“Selain itu, perilaku negatif yang terus menerus ditampilkan di media massa, juga dapat dianggap sebagai perilaku yang benar secara sosial dan dan menjadi model peran yang ditiru anak,” tutur Hindun.

Saat ditanya apakah ini karena sistem pendidikan yang keliru, Hindun mengatakan bahwa menurutnya bukan sistem pendidikan yang keliru melainkan ia lebih melihat pada porsi pendidikan tersebut. Menurutnya sistem pendidikan saat ini lebih mengedepankan aspek akademis daripada pendidikan karakter. Walaupun saat ini sudah banyak program-program pendidikan karakter di sekolah namun menurutnya hal itu belum cukup.

Sebab saat penilaian prestasi anak, yang mendapatkan rangking adalah yang memiliki nilai tinggi. Anak yang pintar juga selalu identik dengan anak yang memiliki nilai matematika atau bahasa Inggris 100.

"Belum ada sekolah yang memberikan rangking berdasarkan perilaku terpuji. Contoh si A dapat rangking karena dia jujur, suka menolong anak lain, suka membersihkan kelas, atau perilaku-perilaku terpuji lain,“ ujarnya.

Solusi atas masalah ini menurutnya adalah ada pada orang tua. Sebab setiap orang dibentuk dari rumah. Anak mengalami berbagai macam gangguan paling awal dari rumah. Itu berpotensi kemudian menimbulkan gangguan dalam masyarakat. Oleh karena itu orang tua semestinya pulang dan kembali kepada anak-anak mereka.

Sebab banyak orang tua yang hanya memberi makan dan materi kepada anak tanpa memberi atau kurang memberi kebutuhan psikologis anak seperti cinta, kasih sayang, dan perhatian. Anak-anak sendiri, terutama yang hidup saat ini, butuh didengarkan dan dimengerti oleh orang tua mereka.

Orang tua semestinya tidak bersikap selalu merasa benar kemudian mengabaikan apa yang dimaui anak. Ayah juga harus ikut aktif dalam pengasuhan anak, bukan hanya kerja sebagai pencari nafkah tanpa terlibat dalam pengasuhan anak.“Selain itu, sistem pendidikan kita harus diperbanyak dengan pendidikan karakter berbasis pada keunggulan dan keunikan masing-masing anak. Tidak melulu harus mendewakan sisi akademis,” tuturnya.

Saat ditanya mengapa ada remaja yang begitu sadis memperkosa dan membunuh, ia mengatakan hal itu harus ditelaah kasus per kasus, tidak bisa digeneralisasi. Biasanya pemerkosa yang membunuh untuk menghilangkan jejak. Tetapi ada juga kasus-kasus pembunuhan atau pemerkosaan karena sebelumnya menyimpan dendam pada korban. Misalkan karena ditolak cinta kemudian membunuh dan memperkosa sehingga dendamnya terlampiaskan kepada korban.

“Biasanya masalah perkosaan dan pembunuhan banyak terjadi karena konflik yang sudah lama dan bukan hanya satu pemicunya dan dilakukan oleh orang dekat atau minimal mengenal baik korban,” kata Hindun.

Kemungkinan lain adalah pelaku mengidap psikopat. Pada kasus seperti ini, pengidapnya sering kali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Karena pelaku psikopat sadar betul terhadap apa yang diperbuatnya. Ciri-ciri psikopat adalah suka berbohong, tidak merasa bersalah dan menyesal terhadap perbuatannya, suka melanggar norma hukum dan agama, dan anti sosial.“Jadi harus dilihat dulu kasus per kasus karena setiap kasus kejahatan memiliki motif yang berbeda-beda,” tutur Hindun. (tohir/dewa)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook