Pelaku Pungli 60 Guru Divonis 14 Bulan Penjara

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 10 September 2019 - 14:12:21 WIB   |  dibaca: 54 kali
Pelaku Pungli 60 Guru Divonis 14 Bulan Penjara

SIDANG: Terdakwa pungli puluhan guru Kecamatan Taktakan menjalani sidang pembacaan putusan, di PN Serang, kemarin.

SERANG, BANTEN RAYA- Terbukti melakukan pungli kepada 60 guru berstatus aparatur sipil negara (ASN), guru SD di Kecamatan Taktakan Adang Suganda, dan bendahara UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan Edy Purwanto divonis empat belas bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Serang, Senin (9/9).
 
Majelis Hakim yang diketuai Muhammad Ramdes mengatakan, terdakwa Adang Suganda dan Edy Purwanto telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi, melanggar pasal 11 undang-undang nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pembarantasan korupsi, junto pasal 55 ayat 1 ke1 KUHP, junto pasal 64 ayat 1 KUHP.

"Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Adang Sugandan dan Edy Purwato dengan pidana penjara selama empat belas bulan penjara, dengan perintah agar tetap ditahan, dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan," kata majelis hakim disaksikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Serang Subardi dan kedua terdakwa.

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan JPU. Sebelumnya kedua terdakwa dituntut satu tahun enam bulan kurungan dan membayar denda Rp 50 juta. Apabila tidak dibayar diganti dengan kurungan penjara selama tiga bulan.

"Hal-hal yang memberatkan perbuatan terdakwa dilakukan saat pemerintah sedang gencar-gencarnya memberantas tindak pidana korupsi. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan, terdakwa belum pernah di hukum, terdakwa mengakui perbuatannya dan terdakwa tulang punggung keluarga," jelasnya.

Berdasarkan fakta persidangan, pungli berkedok biaya administrasi itu terungkap saat operasi tangkap tangan (OTT) digelar petugas Satreskrim Polres Serang Kota, 23 Oktober 2017. Sesuai surat dakwaan, perkara itu bermula pada 17 Oktober 2017.

Awalnya, salah satu guru SD bernama Mujeni berniat mengajukan pinjaman ke BJB. Mujeni menemui bendahara pembantu gaji UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan Edy Purwanto di kantornya. Edy kemudian mengarahkan Mujeni agar berkoordinasi dengan Adang.
 
Keesokan harinya, Adang Suganda menemui saksi Mujeni untuk mengonfirmasi permohonan kredit. Saksi Mujeni mengutarakan niatnya untuk mengajukan pinjaman Rp 220 juta, dengan mendatangi kediaman Adang sambil membawa berkas persyaratan pinjaman.
 
Adang kemudian menyerahkan blangko pinjaman bank untuk diisi oleh Mujeni. Sembari mengisi blanko, Mujeni menanyakan biaya administrasi yang harus dikeluarkan. Adang Suganda mengatakan untuk biaya administrasi Rp 1,5 juta. Namun Mujeni merasa keberatan dan meminta agar nilainya dikurangi.
 
Saat proses pencairan kredit, Adang Suganda dihubungi Edy Purwanto untuk mengingatkan biaya administrasi, dan Adang menemui Mujeni di luar kantor BJB KCP Rau. Dia menagih biaya adminsitrasi kepada Mujeni sebesar Rp 1,5 juta.

Praktik pungli tersebut ternyata telah berulangkali dilakukan kedua terdakwa. Berdasarkan data pengajuan kredit di BJB, KCP Rau periode Januari-Oktober 2017, ada 60 ASN yang berprofesi sebagai guru SD mengajukan pinjaman.
 
Puluhan ASN itu juga terkena pungli berkedok biaya administrasi. Nilainya bervariasi mulai dari Rp 800 ribu hingga Rp 1,7 juta. Total uang pungli yang terkumpul sebesar Rp 53 juta lebih. Dari hasil pungli itu Adang menerima bagian sebesar Rp 43 juta lebih.

Sedangkan Edi sebesar Rp10 juta.Setelah mendengarkan putusan dari majelis hakim, JPU Kejari Serang Subardi, kedua terdakwa Adang Suganda serta Edy Purwanto mengaku pikir-pikir atas vonis tersebut. "Pikir-pikir yang mulia," kata JPU dan terdakwa. (darjat/rahmat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook