Pedagang Tolak Pasar Rau Dipindah

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 11 September 2019 - 15:44:22 WIB   |  dibaca: 223 kali
Pedagang Tolak Pasar Rau Dipindah

SERANG, BANTEN RAYA – Wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Serang untuk mengalihfungsikan dan memindahkan Pasar Induk Rau (PIR) ke Lingkungan Sidapurna, Kelurahan Teritih, Kecamatan Walantaka, mendapat penolakan dari pedagang PIR. Selain lokasinya yang tidak strategis karena berada di pinggir kota, para pedagang pun mengkhawatirkan pendapatannya akan berkurang karena harus beradapatasi dari awal.

Salah seorang pedagang sayur di PIR, Ahmad, mengatakan, belum mengetahui rencana pemerintah yang akan memindahkan pasar induk tradisional ke Kelurahan Teritih. Akan tetapi dirinya mengaku tak setuju jika itu sampai terjadi.  “Dengar-dengar mah iya mau dipindah katanya ya. Tapi kalau bisa mah mending di sini. Di sini mah strategis,” kata Ahmad, kemarin.

Meski begitu, ia mengaku apapun alasan pemerintah memindahkan pasar induk tradisional, dirinya yakin pedagang lain pun tidak setuju karena jaraknya akan tambah jauh dari pusat kota. “Kebanyakan pedagang itu dari Taktakan dan Warung Jaud. Kalau dipindah ke sana kejauhan. Sekarang aja pengeluaran saya buat ongkos udah Rp 10 ribu sehari. Apalagi kalau pindah kesana jaraknya jauh ongkosnya juga nambah,” ucap bapak yang dikarunia tiga anak ini.

Selain itu, Ahmad juga khawatir bila jadi direlokasi ke Teritih, pemasukannya akan berkurang karena harus menyesuaikan terlebih dahulu. “Waktu Pasar Rau baru pertama kali buka aja. Gak langsung rame. Harus nunggu tahunan. Apalagi di sana yang lokasinya di pinggir kota,” katanya.

Pernyataan menolak pun terlontar dari Ahmad Farudin. Menurut pedagang selimut dan sarung bantal ini, jika PIR direlokasi ke Teritih, maka secara otomatis akan kehilangan pelanggannya yang sudah setia belanja kepadanya selama puluhan tahun. “Tetap gak setuju saya mah apapun alasan pemerintah. Karena kalau di sana pasti sepi gak langsung rame. Nanti pendapatan juga berkurang karena harus nyari-nyari pelanggan lagi dari awal. Mending di sini tengah-tengah strategis,” tukas Farudin.

Menurut dia, keberadaan PIR saat ini sudah sangat strategis karena mampu dijangkau oleh para pembeli dari berbagai daerah se Banten. “Kalau di sini pembeli yang dari Cilegon deket. Yang dari Pandeglang juga kesini. Yang dari Anyer juga dekat ke sini. Enaklah tengah-tengah. Kalau dipindah ke Teritih, nanti mereka nyari-nyari lagi penjualnya,” ungkap pria asal Unyur ini.

Farudin mengusulkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Serang agar gedung PIR saat ini direnovasi kembali, ia optimistis para pedagang akan mendukung bila harus melakukan pemutihan tempat. “Kalau kita setuju pemutihan gak apa apalah kita maklumi. Biasanya kan tiap 20 tahun sekali kita Pasar Rau kan pemutihan. Kalau pemutihan setuju,” usul dia.

Hampir serupa dikatakan pedagang topi dan kacamata, Rudi. Kata dia, jika sampai PIR jadi dipindahkan ke Teritih, selain jaraknya kejauhan dan kurang strategis, Rudi pun khawatir akan kehilangan pelanggannya.“Iya takut pelanggan saya pada hilang karena kan kejauhan. Sedangkan pelanggan saya sudah banyak ada yang dari Cilegon, Ciomas, dan Pandeglang. Kasihan mereka nanti,” ujar pria asal Rau Barat ini.

Karena itu, Rudi berharap kepada Pemkot Serang agar dapat mengkaji ulang rencana pemindahan PIR ke Kelurahan Teritih. “Kalau bisa mah dipikir-pikir dulu ya. Soalnya dampaknya bukan hanya soal pendapatan, tapi lain-lain,” katanya.  (harir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook