Ditpolairuda Bangun Crisis Center

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Kamis, 19 September 2019 - 16:17:00 WIB   |  dibaca: 88 kali
Ditpolairuda Bangun Crisis Center

PUSAT KOORDINASI : Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir meletakan batu pertama gedung Crisis Center, Rabu (18/9).

CILEGON, BANTEN RAYA- Direktorat Kepolisian Air dan Udara (Ditpolairuda) Polda Banten mendirikan gedung crisis center sebagai pusat koordinasi jika keadaan darurat di laut terjadi. “Kita ketahui bersama di Selat Sunda jalur sibuk setiap jamnya ada empat kapal yang menyeberang ke Sumatera, ditambah lagi banyak lalu lintas kapal tangker, serta aktivitas kapal yang bongkar muat di pelabuhan barang serta TUKS,” kata Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir kepada awak media usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung crisis center di Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Rabu (18/9) pagi.

Tomsi menjelaskan, selain lalu lintas kapal yang tinggi, di sekitar perairan Selat Sunda juga banyak pipa serta kabel di bawah laut. Sebagai bentuk antisipasi hal yang tidak diinginkan, selain membangun gedungnya, Ditpolairuda Polda Banten juga harus memunyai standar operasional prosedur (SOP) yang jelas ketika terjadi laka laut.“Di Banten juga banyak obyek vital serta perusahaan BUMN maupun swasta yang investasinya tinggi, ada 57 TUKS, aktivitas kapal cukup tinggi. Ketika terjadi suatu hal buruk harus ada upaya mengurangi kerugian materiil,” jelasnya.

Direktur Ditpolairuda Polda Banten Kombes Pol Nunung Syaifuddin mengatakan, gedung crisis center diharap nantinya akan memudahkan kerja Ditpolairuda Polda Banten. Gedung Crisis Center dibangun sebagai tempat koordinasi ketika ada keadaan darurat seperti laka laut, kejahatan penyelundupan barang melalui laut, serta bencana alam. “Gedung Crisis Center dengan luas 9x18 meter dua lantai. Nantinya gedung ini akan ada dilengkapi ruang Komando dan Pengendalian, serta aula untuk rapat,” jelasnya.

Kata Nunung, pembangunan Gedung Crisis Center ditarget selesai dalam waktu tiga bulan. “Awalnya dibangun gedung ini karena waktu penanganan kebocoran gas milik PT CNOOC itu kita koordinasi di atas kapal milik PT CNOOC dan itu tidak efektif. Jadi, ketika ada kejadian di laut nanti koordinasi di darat, kemudian di laut hanya tinggal action saja,” tutupnya. (gillang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook