Diteror, Korban Pinjol Lapor Polisi

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Selasa, 24 September 2019 - 15:49:48 WIB   |  dibaca: 1344 kali
Diteror, Korban Pinjol Lapor Polisi

SERANG, BANTEN RAYA - LS (36), perempuan asal Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, melapor ke Polda Banten, Senin (23/9), setelah kerap mendapatkan teror dari aplikasi pinjaman online (pinjol). LS mengaku mulai meminjam uang melalui pinjol pada Juli 2019, karena terdesak kebutuhan ekonomi.

Namun lantaran tidak mampu menutupi utang pinjol, ia kembali meminjam melalui 31 aplikasi sekaligus guna menutupi utang-utangnya."Saya pinjam dari bulan Juli sampai September total ada 31 aplikasi dengan nominal total pinjaman sekitar Rp40 juta. Pinjaman rata-rata dua juta rupiah," katanya kepada Banten Raya, kemarin.

Menurut LS, dua pekan terakhir, pesan dari nomor mengatasnamakan pinjol mulai menagih utang melalui teman-teman yang ada di nomor kontaknya dan bukan dua nomor darurat yang diberikan sebelumnya. "Setiap pinjaman kan ada nomor darurat yang harus dimasukan dalam aplikasi, dan yang saya masukan paling nomor suami, ibu dan adik," ujarnya.

LS menambahkan, selain teror tagihan ke semua nomor kontaknya, penagih hutang juga membuat grup penggalangan dana untuk melunasi utang-utangnya di aplikasi whatsapp, dengan memasukan nomor kontak yang ada di handhponenya. "Isi pesannya terornya, ada yang kalimatnya ibu tidak membayarkan tagihan ini hingga jam 12 akan saya perluas penagihan. Kalau ibu tidak membayar hari ini kita akan membuat donasi ke kontak ibu. Ada dua aplikasi yang membuat grup donasi, pertama aplikasi kotak ajaib dan dana cash, yang lainnya hanya sms berantai," tambahnya.

LS menambahkan, penagihpinjol juga sudah melakukan penyadapan di handphonenya. Beberapa foto pribadinya juga diambil tanpa sepengetahuannya dan hal itu yang membuatnya takut, sehingga mendorong dirinya untuk melaporkan kasus itu ke Polda Banten. "Saya sudah lemes banget, seluruh foto di galeri diambil tanpa sepengetahuan. Kok tiba-tiba ada foto saya tanpa kerudung, coba itu keluar. Hari ini (kemarin -red) saya membawa sekitar 70 lembar bukti teror ke Polda Banten," tambahnya.

Sementara itu, perwakilan Lembaga Konsultasi Kajian dan Bantuan Hukum (LKKBH) Merdeka, Harry Rianda mengatakan, apa yang dialami oleh LS merupakan sebuah bentuk intimidasi, dan hal seperti itu cukup merugikan."Ini sudah masuk dalam ranah pidana. Ada empat point disini, pencemaran nama baik, Undang-Undang ITE, pemerasan karena korban di paksa untuk membayar uang perpanjangan utang, dan terakhir teror," katanya.

Harry mengungkapkan atas kejadian itu, LKKBH Merdeka mendorong instansi terkait menindak tegas aplikasi pinjol ilegal karena cukup meresahkan masyarakat. Sebab bukannya terbantu, tapi malah membebani masyarakat."Minimal ada pemblokiran. Jangan sampai ada korban lain yang terjadi seperti ini," ungkapnya.

Di lain tempat, Kasubbit V Siber Ditreskrimsus Kompol Wiwin Setiawan mengaku sudah banyak menerima informasi adanya korban intimidasi maupun teror dari aplikasi pinjol. Namun hingga kini tidak ada satupun korban yang melapor ke Polda Banten."Sampai saat ini tidak ada (laporan korban pinjol). Kalaupun ada masyarakat bisa diarahkan ke Subdit V untuk melaporkan hal itu," katanya. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook