Perlawanan Makin Menguat

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Selasa, 01 Oktober 2019 - 15:13:06 WIB   |  dibaca: 80 kali
Perlawanan Makin Menguat

MAKIN EKSIS : Sejumlah pelajar turut serta dalam unjuk rasa bersama mahasiswa menuntut Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perppu UU KPK di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/9).

JAKARTA - Unjuk rasa mahasiswa dan pelajar menuntut agar Presiden Joko Widodo mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang (Perppu) UU KPK, membatalkan RUU KUHP, dan sejumlah RUU bermasalah lain terus membesar. Kemarin, unjuk rasa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, berakhir dengan kericuhan.

Unjuk rasa mahasiswa dan pelajar SMA/STM yang awalnya dilakukan di depan gedung DPR/MPR RI, bergeser ke depan Markas Polda Metro Jaya, Senin (30/9) malam. Massa yang umumnya para pelajar SMK/SMA tersebut menyerang Polda Metro Jaya karena diduga tak terima teman-temannya ditangkap.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aksi menyerang kantor Polda Metro mulai terlihat menjelang Magrib. Diawali dengan lemparan batu. Aksi ini memaksa polisi menembakan gas air mata ke arah massa yang berada di Jalan gatot Soebroto tepat di depan Polda Metro Jaya.

Ratusan aparat Brimob dan petugas kepolisian lain yang berada di Polda Metro Jaya kemudian bergerak ke luar untuk mengejar massa pelajar. Suara letusan penembakan gas air mata terdengar mengiringi peristiwa itu.

Sementara itu, akibat kejadian di lokasi sejumlah aktivitas warga di jam sibuk pulang kerja pun turut terkena imbasnya, setelah kendaraan-kendaraan yang biasa memenuhi jalan di depan Polda Metro tak terlihat melintas disana, bahkan hal itu terus berlanjut sampai malam, sekitar pukul 19.30 wib.

Bukan saja di jalan itu saja, tetapi arus kendaraan di ruas Tol Dalam Kota pun ikut lumpuh alias sepi dari kendaraan, karena massa pelajar yang menyerang kantor kepolisian berlarian di ruas jalan tol, guna menghindari kejaran aparat polisi.

Adapun di tengah upaya aparat polisi untuk memburu para pelajar sendiri, nampak terlihat berbuah hasil. Satu-persatu anak pelajar itu ditangkap-tangkapin oleh petugas, baik oleh aparat berseragam maupun pakaian preman untuk kemudian di bawa masuk ke Polda Metro Jaya."Nah...Naah...jagoan-jagoannya nih, masuk lu. Mau jadi jagoan luh," teriak sejumlah aparat polisi saat melihat para pelajar digiring masuk petugas ke markas polisi daerah ibukota tersebut.

Bahkan, tak sedikit dari para aparat polisi yang melihat para pelajar itu diamankan ikut meluapkan emosinya, dari yang terang-terangan memukuli para pelajar hingga yang secara diam-diam curi kesempatan untuk luapin kekesalan atas ulah para pelajar tersebut.

Namun sayangnya, emosi para aparat ini tidak bisa dikontrolnya setelah sejumlah awak media pun ikut terkena sasaran kemarahannya. Termasuk kami yang hendak mengabadikan foto salah satu anggota provost jatuh pingsan di depan pintu masuk Polda Metro Jaya."Heii...Heii...Siapa luh, ngapain luh foto-foto apus, jangan macem-macem luh disini. Kalau mau liput jangan begitu caranya," kata salah satu petugas Dalmas seraya merampas handphone saya dan menghapus sejumlah foto-foto yang sempat berhasil mengabadikan situasi dilokasi.

Aksi intimidasi itu sendiri, ternyata tak cuma dirasakan wartawan kami, tapi juga beberapa wartawan lain yang biasa meliput di Polda Metro Jaya."Iya-iya udah bang, situasinya emang lagi panas mereka. Saya juga tadi begitu, yang lainnya juga ada bang, ya udah kita di sini saja mau diapain lagi," ungkap salah satu rekan media online.

Di sisi lain, sejumlah pelajar juga masih terus terlihat lalu-lalang dibawa masuk petugas ke kantor Polda Metro Jaya. Bahkan tidak sedikit dari para pelajar itu dalam kondisi berdarah-darah.Sebagai informasi terakhir, hingga berita ini dikirim tindakan anarkis dan bentrokan aparat dengan massa masih berlanjut layaknya tawuran yang kerap dilakukan para pelajar SMA/STM. Hanya saja, tawuran pelajar ini tak lagi antar sekolah tapi dengan aparat kepolisian.

Dalam situasi ini, banyak di antara para pelajar terlihat lari ke dalam Mal Semanggi saat dikejar aparat yang juga tak henti-hentinya melepaskan gas air mata. Terlihat, dampak situasi itu arus lalu lintas di depan Mal Semanggi pun nampak lumpuh, kendaraan di lokasi tak bergerak sama sekali.

Sementara di Palmerah, massa mulai melakukan aksi pembakaran. Ratusan massa yang didominasi para pelajar membakar aneka benda mulai dari kardus, triplek di Jalan Tentara Pelajar, arah Kebayoran Lama, tepatnya di dekat Gedung Menara Kompas, Palmerah, Jakarta Barat, Senin malam.Beberapa titik api terlihat masih menyala tinggi. Demonstran pelajar tersebut masih bertahan di sekitar lokasi, sambil menyanyikan lagu-lagu nasional.

Dalam pengamanan aksi ini, polisi mengerahkan 20.500 personelnya. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari TNI-Polri dan Pemprov DKI Jakarta. "20.500 personel gabungan diturunkan untuk amankan demo," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memaparkan dampak negatif pelemahan KPK, salah satunya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan diselewengkan."Dana APBN diselewengkan mulai dari proses di tingkat perencanaan, legislasi. Di Indonesia in sudah menjarah ke seluruh penjuru korupsi itu," ujar dia di Jakarta, Senin (30/9).

Tak sampai di situ, lanjut dia, akan banyak perusahaan milik negara bakal dijarah atau BUMN. Di perusahaan pelat merah itu nantinya akan diisi oleh petinggi-petinggi yang tidak kompeten karena di tempat itu lahan basah.Dampak lainnya, iklim investasi tidak bakal menggeliat, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak bergerak di angka 5 persen. Idealnya, harus di angka 6 persen.

Sementara lanjut Faisal, pemerintah tidak bisa mendorong perekonomian ke arah yang lebih baik. Dunia usaha banyak bertumbangan. Ujung-ujungnya, pemerintah mengandalkan utang dana luar negeri."Kita akan menghadapi gejolak eksternal. Untuk itu Pak Jokowi harus tuh bikin peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) terkait UU KPK baru," ujar dia. (fin)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook