Untirta Diminta Manfaatkan Tenaga Nuklir

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Kamis, 03 Oktober 2019 - 15:45:39 WIB   |  dibaca: 258 kali
Untirta Diminta Manfaatkan Tenaga Nuklir

POTONG PITA : Gubernur Banten bersama Rektor Untirta Fatah Sulaiman dan undangan memotong pita kampus baru Untirta, Rabu (2/10).

SERANG, BANTEN RAYA – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) diminta untuk terus mengembangkan sumber daya manusia (SDM) dan berinovasi. Salah satunya menjalankan keamanan pangan atau food security dengan menfaatkan nuklir melalui iradiasi gamma.   Demikian terungkap dalam acara soft launching pembangunan kampus terpadu Untirta di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Rabu (2/9).

Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi pada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ali Ghufron Mukti mengatakan, dengan segala yang sudah dan akan dimiliki Untirta maka diharapkan sudah bisa menjalankan keamanan pangan. Tidak hanya optimalisasi produk pertanian, tapi juga pada pengembangan teknologi pertanian.

“Keamanan pangan, kehalalan pangan ini semua bisa dikembangkan. Nanti kalau laboratoriumnya belum terbangun kita sudah bisa memakai jaringan, termasuk yang kita kembangkan dengan  kementerian lain dan sebagainya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu pengembangan tekonologi pertanian yang bisa dicoba adalah dengan memanfaatkan nuklir melalui iradiasi gamma. Melalui penerapan teknologi tersebut akan membuat produk pertanian menjadi tahan lama atau tidak mudah busuk.

“Yang menarik adalah bagaimana perguruan tinggi seperti Untirta belum dan tidak perlu punya reaktor nuklir tapi bisa untuk menghasilkan iradiasi gamma. Jadi buah semangka (hasil pertanian-red) bisa berbulan-bulan awet, tidak busuk dalam waktu relatif singkat,” katanya.

Untuk pemanfaatan teknologi itu, kata dia, sangat dimungkinkan dan tentunya aman. Sebab, saat ini sebenarnya Indonesia setidaknya sudah memiliki tiga reaktor nuklir. Ketiga reaktor itu berada di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Tangerang Selatan, kemudian di Bandung dan Yogyakarta.

“Produk pangan pertanian mudah busuk, nanti dengan iradiasi gamma itu bisa dan aman. Ini yang banyak tidak diketahui. Maka kami ingin nanti dosen dan SDM-nya dan fasilitas yang sangat lengkap itu kapasitasnya juga meningkat,” ungkapnya.  

Lebih lanjut dipaparkan Ali, adanya reaktor nuklir dan teknologi iradiasi gamma sebenarnya bukan barang baru karena sudah ada dan dimanfaatkan sejak sekitar 10 tahun lalu. “Kita sudah mampu tapi banyak yang tak tahu. (Contoh pemanfaatan adanya reaktor nuklir) isotop 133, itu bisa renograf, suatu alat di rumah sakit yang bisa mendeteksi kelainan di ginjal dan penyakit kronik lainnya,” tuturnya.  

Ali menegaskan, inovasi menjadi sebuah hal yang diperlukan. Isotop 133 merupakan salah satu inovasi teknologi tersebut dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Kurangnya inovasi akan berdampak negatif.

“Ini yang menyebabkan BPJS (Badan Pelaksana Jaminan Sosial) defisit, yang tahun ini defisit Rp28 triliun. Maka kalau kita ada inovasi, ada perkembangan, SDM-nya bagus bisa lebih sehat dan mengurangi defisit yang tidak perlu,” ujarnya.

Sementara untuk pembangunan kampus Untirta, dia memberikan apresiasinya. Ali mengaku sangat terkejut dengan progres pembangunan yang terbilang sangat cepat.“Perkembangan yang luar biasa, dalam waktu yang relatif singkat (kemajuan progresnya signifikan). Kami berharap agar Untirta betul-betul menjadi center of excellent untuk keamanan pangan. Untuk kita bisa produksi pangan yang tidak saja keperluan Banten tetapi nasional bahkan bisa ekspor,” katanya.

Rektor Untirta Fatah Sulaiman mengatakan, harapan yang disematkan oleh Kemenristekdikti kepada Untirta merupakan sebuah mandat. Terkait hal itu, pihaknya sudah melakukan sejumlah persiapan sebagai pelaksanaannya.   “Kita harus menyiapkan diri menjadi pusat unggulan untuk ketahanan pangan. Terutama pusat inovasi pangan lokal. Kita sudah lakukan dan punya tim riset tentang itu,” tegasnya.

Dalam pengembangannya, pusat inovasi pangan lokal sepenuhnya dilakukan di Untirta. Pihaknya akan melakukan riset bagaimana pangan lokal tidak hanya untuk konsumsi tapi juga dimanfaatkan dalam bentuk material kimia lainnya.“SDM sudah ada, doktor-doktor dari beberapa negara, dari lima benua yang didanai Islamic Development Bank 21 orang. Untuk pembangunan kampus di Sindangsari ini kami targetkan selesai pada 2020,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim menyatakan, Pemprov Banten selalu mendukung apa yang dilakukan untuk Untirta, khususnya dalam rangka pengembangan pendidikan. Sebagai contoh, di bidang pendidikan pihaknya fokus melakukan pembenahan dengan menggelontorkan anggaran hingga Rp2 triliun lebih.

“Termasuk peningkatan guru, dari Rp200.000 honornya sekarang Rp2,7 juta. Saya bangun sekolahnya, saya gratiskan SMA dan SMK. Ini dalam rangka komitmen saya membangun pendidikan. Kalau mahasiswa bilang saya belum apa-apa wajar. Orang kurang infomasi, saya sudah jelaskan,” ujarnya. (dewa)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook