Tersangka Dugaan Korupsi JLS Bertambah

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Rabu, 09 Oktober 2019 - 15:33:25 WIB   |  dibaca: 381 kali
Tersangka Dugaan Korupsi JLS Bertambah

MASIH PROSES : Ruas JLS yang pernah ambruk menjadi salah satu ruas yang disidik oleh penegak hukum.

CILEGON, BANTEN RAYA - Tersangka kasus dugaan korupsi Jalan Lingkar Selatan Kota Cilegon kemungkinan besar bertambah. Hal itu diisyaratkan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilegon Andi Mirnawaty.  “Tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain selain dua itu. Kita lihat fakta hukum di lapangan, serta alat bukti yang ada,” ujarnya saat ditemui di kantor Kejari Cilegon, Selasa (8/10).

Sebelumnya, Kejari Cilegon telah menetapkan dua tersangka dalam kasus tersebut. Mereka adalah BN, mantan pejabat di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Cilegon, dan SM dari pihak swasta. Keduanya saat ini tak ditahan karena dinilai masih kooperatif.

"Tetapi, tidak menutup kemungkinan akan ada penahanan jika setelah pemeriksaan selanjutnya ada fakta hukum atau keterangan atau alat bukti yang bisa mendasari untuk dilakukan penahanan secepatnya. Saat ini kami akan fokus untuk pemeriksaan sebagai tersangka, karena sebelumnya pemeriksaan dilakukan sebagai saksi, dalam waktu dekat ini juga akan kembali kami periksa,” kata Mirna.

Lulusan Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar ini mengatakan, proyek yang ditanganinya merupakan proyek yang dibiayai oleh APBD Kota Cilegon 2013. Nilai proyek saat itu sekitar Rp12 miliar. Panjang jalan yang dikerjakan sekitar 2,5 kilometer. “Hasil perhitungan kerugian negara sekitar Rp 950 juta,” urainya.

Penghitungan kerugian negara tersebut, kata Mirna, yang membuat pihaknya cukup lama menetapakan tersangka tersebut. Sebelumnya, ia melibatkan tim ahli independen yang memang ahli dalam bidang konstruksi khususnya jalan dan jembatan. Di lapangan ditemukan adanya kekurangan spesifikasi dan volume jalan tersebut. “Kita sangat hati-hati dan melibatkan tim ahli di bidang konstruksi jalan dan pembetonan karena memang penyebab jalan ambrol itu karena faktor alam atau memang adanya pengurangan volume,” akunya.

Kasus JLS tak hanya diusut oleh Kejari Cilegon, tapi juga oleh Kejaksaan Tinggi Banten di ruas yang berbeda. Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten masih menunggu hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dalam kasus yang diusut Kejati ini, nilai proyek mencapai Rp14 miliar.

Kasi Penyidikan Pidana Khusus (Kasidik Pidsus) Kejati Banten Bambang mengatakan proses penyidikan dugaan korupsi proyek JLS Kota Cilegon tahun 2013 itu masih berlangsung, saat ini penyidik baru meminta keterangan ahli.“Kita belum mendapatkan apa hasil audit dari BPKP, dalam waktu dekat kita akan ekpose. Nanti kalau sudah ada, segera kami sampaikan," ungkapnya.

Sebelumnya, Kajati Banten Happy Hadiastuty mengatakan, kasus dugaan korupsi JLS Kota Cilegon mulai dilakukan penyelidikan oleh Kejati Banten pada 5 Juli 2019. Kasus itu naik ke tahap penyidikan pada 9 Juli 2019."Untuk titik lokasi JLS yang tengah kita lidik dari kilometer 5+19 hingga KM 8+66, jalur kanan," katanya.

Menurut Happy, penyidik Kejati Banten menduga ada ketidakberesan dalam proses lelang proyek, hingga pelaksanaan kegiatan proyek peningkatan lapis beton tahun 2013 tersebut. "Mulai dari pelelangan dari ULP (unit layanan pengadaan) sudah ada indikasi, dan pengerjaannya juga ada indikasi," ujarnya. (gilang/darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook