Realisasi Belanja Modal BARU 21 Persen

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 10 Oktober 2019 - 14:33:22 WIB   |  dibaca: 46 kali
Realisasi Belanja Modal BARU 21 Persen

REKONSILIASI ASET : Suasana rekonsiliasi aset perolehan 2019 di Aula Kantor BPKAD Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (9/10).

SERANG, BANTEN RAYA – Realisasi belanja modal Pemprov Banten hingga triwulan III 2019 baru mencapai 21,11 persen atau senilai Rp379,9 miliar dari pagu Rp1,7 triliun. Terkait hal tersebut, kini Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun digenjot agar serapannya bisa lebih optimal.

Demikian terungkap dalam rekonsiliasi aset perolehan 2019 di Aula Kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (9/10).

Informasi yang dihimpun Banten Raya, adapun realisasi belanja modal per 4 Oktober terdiri atas belanja modal tanah dengan pagu Rp485 miliar terealisasi Rp82 miliar atau 16,89 persen. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menjadi OPD dengan persentase serapan terendah. Dari pagu Rp69 miliar baru terserap Rp55 juta atau 0,08 persen.

Belanja modal peralatan dan mesin Rp345 miliar terealisasi Rp52 miliar atau 15,14 persen. Sekretariat DPRD menjadi yang terendah, dari pagu Rp10 miliar baru terserap Rp312 juta atau 3,07 persen.Lalu belanja modal gedung dan bangunan Rp392 miliar terealisasi Rp68 miliar atau 17,34 persen.

Untuk belanja modal ini, ada tujuh OPD yang sama sekali belum menyerap. Mereka adalah Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dengan pagu Rp333 juta, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Rp2,3 miliar dan Dinas Komunikasi, Informatika, statistik dan Persandian (Diskominfotiksan) Rp110 juta.

Kemudian, Dinas Koperasi dan UKM dengan pagu Rp159 juta, Dinas Pariwisata Rp206 juta. Sekretariat DPRD Rp1,3 miliar. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rp200 juta serta Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Rp129 juta.

Belanja modal jalan, irigasi dan jaringan Rp492 miliar teralisasi Rp141 miliar atau 28,73 persen. Terdapat lima OPD dengan serapan nol persen. Mereka adalah Dinas Kesehatan (Dinkes) dengan pagu 1,5 miliar, Dinas Perhubungan (Dishub) Rp150 juta, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Rp118 juta. Selanjutnya, Dinas Pertanian Rp2,4 miliar dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Rp130 juta.

Untuk belanja modal aset tetap lainnya Rp81 miliar terealisasi Rp25 miliar atau 43 persen. Terdapat enam OPD dengan serapan nol persen. Diskominfotiksan dengan pagu Rp165 juta, Dinas Kepemudaaan dan Olahraga (Dispora) Rp193 juta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Rp295 juta. DKP Rp331 juta, Disperindag Rp7,6 juta dan Sekretariat DPRD dengan Rp260 juta.  

Adapun jenis belanja modal terakhir berupa aset lainnya dianggarkan Rp1,7 miliar, teralisasi 650 juta atau 37,73 persen. Tiga OPD tercatat belum menyerap anggarannya sama sekali. Disperindag dengan pagu Rp15 juta, Bapenda Rp453 juta dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dengan Rp27 juta.

Kepala BPKAD Provinsi Banten Rina Dewiyanti mengatakan, realisasi belanja modal yang dalam laporan realisasi anggaran (LRA) belanja  modal hingga triwulan III tercatat senilai Rp379 miliar. Capaian itu jika diprosentasekan kurang lebih 21,11 persen dari pagu anggaran.“Data yang telah masuk atau di input ke dalam atisisbada (aplikasi teknologi informasi siklus barang daerah) hingga 1 Oktober 2019 sebesar Rp279,5 miliar. Kurang lebih 73,57 persen dari pagu realisasi anggaran,” ujarnya.

Mantan Kepala BPKAD Kabupaten Lebak itu menuturkan, selain belanja modal pihaknya mencatat ada 13 OPD dengan serapan anggaran secara umum yang masih rendah. Menurutnya, hal itu merupakan hal yang tak perlu dikhawatirkan karena pada triwulan IV ini akan membaik.“Memang ada 13 OPD masih di bawah karena ada di siklus mereka penarikannya akan di triwulan IV. Itu sudah kita koordinasikan. Jadi memang kita tidak usah khawatir dan tetap optimis bahwa penyerapan akan sesuai dengan apa yang diharapkan,” katanya.

Sambil mengejar serapan anggaran, Rina mengimbau kepada OPD untuk tetap fokus pada laporan keuangannya mengingat akhir tahun anggaran sudah di depan mata. Agar pengelolaan keuangan dan aset baik maka dirinya dalam waktu dekat ini akan membentuk sebuah klinik konsultasi pengelolaan keuangan dan aset.

“Bisa menjadi wadah untuk konsultasi, ketika ada masalah langsung kita treatment. Sehingga ke depan mereka bisa lebih jelas arah pelaksanaannya seperti apa. Jadi dibangun komunikasi, saya lebih ingin sinergi kepada mereka sehingga mereka bisa terwadahi dengan klinik ini,” ungkapnya.

Rina menekankan, untuk pengelolaan aset, ketetapan jumlah, nilai dan bukti fisik dapat menimbulkan potensi permasalahan dalam pengelolaan aset dapat mengurangi kualitas akuntabilitasnya. Sehingga dirasakan sangat penting dan segera untuk melakukan pembenahan pengelolaan aset.“Pembenahan yang mendesak untuk dilakukan adalah meyakinkan bahwa aset tetap tersebut dapat disajikan dalam neraca tahun 2019. Disajikan secara wajar sesuai standar akuntansi pemerintahan (SAP),” tuturnya.

Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Banten Mahdani mengatakan, mengingat saat ini sudah masuk dalam pelaksanaan Perubahan APBD 2019 maka setiap OPD diminta bisa mengendalikan pekerjaannya. OPD diharapkan bisa betul-betul memastikan semua bisa rampung pada akhir November.

“Arahan Pak Gubernur terhadap kegiatan harus terus dikendalikan, per akhir November sudah tahu mana yang bisa kita beri pengecualian. Misal kalau ada sisa dan akan selesai dalam 10 hari maka bisa diberikan pengecualian. Kalau sudah dikasih waktu juga enggak selesai, mungkin langsung cut off. Masih sempat kita dorong ke APBD Murni 2020,” ujarnya.

Terpisah, Akademisi dari Untirta Suwaib Amiruddin menilai, seharusnya pemerintah sudah bisa mematangkan perencanaan saat penyusunan penganggaran sehingga program yang telah dicanangkan bisa terealisasi. Dia juga menyoroti adanya sejumlah OPD yang mengalami kekosongan pimpinan di pemprov yang memengaruhi kinerjanya."Satu hari kosong saja mengganggu, karena ada hal-hal yang strategis yang harus diambil," tuturnya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook