BIN: Penusuk Wiranto Terafiliasi JAD

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Jumat, 11 Oktober 2019 - 15:13:40 WIB   |  dibaca: 885 kali
BIN: Penusuk Wiranto Terafiliasi JAD

DIPASANG GARIS POLISI : Rumah kontrakan pelaku penusukan Wiranto digeledah polisi, Kamis (10/10).

Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan menjelaskan, pelaku Syahril Alamsyah (31) bersama Fitri Andriana (20) Binti Sunarto warga kelahiran Brebes, terafiliasi dengan JAD. Muncul kemungkinan, aksi ini bukan sekadar insiatif dari pelaku. Tapi ada indikasi digerakan ini sudah direncanakan.

”Abu Rara teridentifikasi dengan JAD. Dulunya bergabung dalam kelompok JAD Kediri. Selanjutnya Abu Rara berpindah dan bergabung dengan sel JAD Bekasi, lalu berpindah ke Bogor dan sekarang bergabung dalam JAD Menes. Abu Rara pindah ke Menes setelah difasilitasi Abus Samsudin, JAD dari Menes untuk tinggal di sana. Beberapa kegiatan bersangkutan memang sudah terpantau,” ungkapnya.

Ditambahkan Budi Gunawan, beberapa kegiatan JAD pun sudah diidentifikasi. ”Ini upaya yang mereka sebut amaliyah. Motifnya, membuat kondisi negara tidak stabil dalam negeri,” jelasnya.Terpisah, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Pasetyo, selain mengamankan kedua pelaku, Polri juga melakukan pemeriksaan terhadap keluarga Syahril Alamsyah yang beralamat di Jalan Alfakah V, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Medan, kemarin (10/10). Adapun keluarga yang diperiksa yakni kakak ipar dari pelaku yang bernama Trisna. "Angota polsek Medan Labuhan sudah melakukan pemeriksaan di sana," terangnya.

Terpisah, Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan peristiwa penusukan terhadap Wiranto menjadi peringatan bahwa cara kekerasan harus dihentikan, dan pentingnya penguatan pengamanan terhadap pejabat publik."Dari kejadian tentu menjadi warning bagi kita semua bahwa cara-cara kekerasan harus dihentikan dan siapapun yang melakukan itu harus ditindak setimpal. Hukum harus ditegakkan bagi para pelanggarnya," kata Siti.

Fenomena penyerangan terhadap pejabat bisa dimaknai antara lain karena kekecewaan terhadap kebijakan yang diambil pejabat sehingga membuat pelaku frustasi dan melakukan tindakan nekad.

Menurut Siti, di negara demokratis penegakan dan kepastian hukum harus terjaga agar penegakan keadilan juga terasa. Meskipun demikian munculnya penggunaan kekerasan bukan berarti tidak dimungkinkan. Negara sebesar Amerika Serikat juga mengalami peristiwa di mana presidennya yakni John F. Kennedy mati ditembak. Beberapa pemimpin negara mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan karena dilempar sepatu atau dipukul dan sebagainya.

Siti menuturkan, penggunaan cara-cara kekerasan tidak patut dilakukan, apalagi ini terjadi di Indonesia di mana seorang Menkopolhukam yang sedang menjalankan tugasnya dan ingin menyapa masyarakat malah diserang. (fin)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook