Terduga Teroris Tak Kenal Wiranto

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Sabtu, 12 Oktober 2019 - 11:59:11 WIB   |  dibaca: 71 kali
Terduga Teroris Tak Kenal Wiranto

SUDAH LEBIH BAIK : Kapolsek Menes Kompol Dariyanto masih dirawat di RS Sari Asih yang kena lima tusukan dari terduga teroris, Jumat (11/10).

JAKARTA - Penikaman terhadap Menko Polhukam Wiranto di depan pintu gerbang kampus Universitas Mathla'ul Anwar (Unma), pada Kamis (10/10) siang, dilakukan secara spontan. Kedua pelaku, Syahril Alamsyah (SA) dan Fitriana Diana (FD) tak mengenal Wiranto. Pasutri ini hanya tahu target yang diserangnya adalah pejabat tinggi negara.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, para pelaku melakukan serangan secara spontan atau tak direncanakan. Begitu melihat ada helikopter mendarat di lapangan alun-alun Menes, Pandeglang dan banyak warga berkumpul, keduanya baru menyiasati penyerangan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, saat melihat hal itu, barulah Abu Rara dan istri terpikir untuk melakukan aksi penyerangan. Keduanya kemudian mempersiapkan segala sesuatunya, serta berbagi tugas di rumah yang berjarak sekitar 300 meter dari Alun-alun.

"Yang punya ide spontan ini pelaku SA alias Abu Rara. Dia mengatakan kepada istrinya, kalau akan menyerang orang yang ada di kapal (helikopter) itu, lalu minta istrinya siap-siap ikut dan memberi tugas untuk menyerang polisi yang paling dekat dengannya, setelah dia melakukan penyerangan," kata Dedi saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (11/10).

"Untuk persiapan aksi, keduanya itu masing-masing membawa senjata, Abu Rara bawa pisau kunai dan istrinya bawa gunting. Senjata itulah yang akan digunakan untuk melakukan aksinya itu," sambungnya.

Keduanya, lalu berangkat ke lokasi untuk melakukan apa yang disebut kelompok teroris itu sebagai bagian dari amaliyah. Dan saat itu, mereka turut membawa anaknya yang masih kecil. Tujuannya untuk mengelabui aparat agar bisa mendekat seperti warga lain yang ingin selfie dan berjabat tangan dengan Wiranto.

"Jadi, keduanya ikut kumpul bareng warga lain di lokasi untuk bisa mendekat dengan Pak Wiranto. Sempat juga dihadang petugas agar tak mendekat, tapi yang namanya pejabat biasa kan menyapa warga dan berfoto. Jadi akhirnya, mereka bisa mendekat bersama warga lainnya, dan ketika itu juga serangan dilakukan keduanya," terangnya.

"Tapi korban yang kena duluan adalah H Fuad, baru Pak Wiranto. Sedangkan, Kapolsek Menes yang melakukan istri Abu Rara dengan menggunakan gunting. Bahkan, istrinya kembali mau menyerang Kapolda, tapi sama Kapolda ditangkis dengan tongkat komando hingga dia pun ditangkap," ujarnya.

Ketika melihat sang istri ditangkap, Abu Rara yang sudah diamankan lebih dulu berontak. Saat itu, pisau kunai masih melekat di sela-sela jarinya dan sempat melukai ajudan Dandim, sebelum akhirnya kembali berhasil diredam dan diamankan petugas. Selanjutnya, keduanya pun dibawa ke Polres Pandeglang."Tapi untuk saat ini keduanya sudah dilimpahkan ke Densus 88. Kini mereka pun masih diperiksa dan dikembangkan," imbuh Dedi.

Dedi menyebut keduanya mengaku tak mengetahui jika korban yang mereka serang adalah Wiranto. Yang ada di pikiran mereka, orang yang turun dari helikopter merupakan pejabat tinggi negara."Jadi, mereka tak tahu sama sekali yang diserang itu Pak Wiranto. Yang jelas pikirannya, ini adalah kesempatan untuk melakukan amaliyah sesuai paham dan doktrin radikal yang mereka pelajari sebagai bagian jihad, dengan harapan dari aksi itu mereka dapat mati syahid ditembak petugas. Ini pengakuan mereka, dan Abu Rara pun memberikan motivasi itu ke istrinya," jelas Dedi.

Dikatakan Dedi, aksi nekat Abu Rara dan Fitria merupakan buah dari doktrin dan pembelajaran yang didapatkan dari sosok Amir JAD Bekasi Abu Zee. Mereka diketahui, sempat direkrut Abu Zee. Bahkan Abu Zee menjadi tokoh panutan keduanya, mereka pun dinikahkan oleh Abu Zee."Abu Rara ini sempat direkrut oleh Abu Zee dan sempat dibina untuk masuk jaringannya. Namun belum sempat masuk karena dia tak mengikuti tahap berikutnya, yakni Idad atau latihan lapangan seperti perang. Hal itu karena, dia pergi ke Menes setelah dinikahi dengan Fitria oleh Abu Zee. Jadi, Abu Rara ini baru sebagai simpatisan saja," jelas Dedi.

Untuk motif, Dedi menyebut Abu Rara dan istrinya stres dan takut karena tahu Abu Zee ditangkap bersama 8 orang lainnya ditangkap pada 23 September 2019 lalu. Dia berpikir, akan segera ditangkap Densus 88. Hingga kemudian dia pun telah lama menanti momen untuk merencanakan amaliyah.

"Ya, motif penyerangan oleh Abu Rara ini, karena stres dan takut ditangkap setelah sosok tokoh JAD yang dianggap amirnya itu tertangkap. Dan sejak itu juga dia merencanakan lakukan amaliyah. Kemarin itulah, dia menganggap moment yang tepat. Dengan harapan yang tadi kami sampaikan, bisa ditembak mati petugas sehingga dianggap mati syahid setelah melakukan amaliyah," tuturnya.

Terakhir, Dedi mengatakan kasus ini tak ada kaitannya dengan ancaman pembunuhan yang sempat disematkan ke Wiranto dan didalangi Kivlan Zen. Namun, kasus ini murni tindakan kelompok teroris dalam rangka menciptakan kegaduhan dan ketidakamanan kamtibmas secara nasional.

"Dan aksi kelompok ini pun berafiliasi dengan ISIS, dimana yang menjadi sasaran amaliyahnya itu pejabat negara dan aparat karena menganggap, thogut dan kafir. Terlebih, 17 tahun kelompok ini kita berantas dengan tindakan preventif strike yang tentu memicu kebencian kelompok radikal di negeri ini. Oleh sebab itu, kami mengajak semua masyarakat ikut berperan melawan terorisme," pungkasnya. (fin)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook