Makam Dibuldoser, Warga dan Satpol PP Bentrok

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Rabu, 16 Oktober 2019 - 15:38:26 WIB   |  dibaca: 69 kali
Makam Dibuldoser, Warga dan Satpol PP Bentrok

Puluhan warga dan Satpol PP Kota Tangerang bentrok saat penggusuran makam wareng di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, kemarin.

KOTA TANGERANG, BANTEN RAYA - Ratusan warga Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang terlibat bentrok dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Bentrokan itu terjadi lantaran warga menolak makam Wareng digusur oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang untuk dijadikan jalan di Jalan KS Tubun.

Pantauan  wartawan, Selasa (15/10) sekitar pukul 09.00 WIB, ratusan warga membuat barikade di pagar makam Wareng. Warga juga memasang tenda, serta memasang spanduk penolakan. Pengusuran dimulai sekitar pukul 11.00 WIB, ratusan petugas Satpol PP Kota Tangerang merangsek masuk. Warga dengan sekuat tenaga menghalangi mereka.

Tak lama kemudian puluhan Satpol PP membongkar tenda untuk membuka jalan buldozer. Saat itu bentrokan warga dan Satpol PP tidak terelakan. Petugas mengejar oknum provokator hingga ke perkampungan. Beberapa ditangkap dan dimasukkan ke dalam mobil polisi. Meski sempat terjadi bentrok, pembongkaran makam Wareng yang dikawal aparat gabungan TNI dan Polri ini dapat dilangsungkan.

Salah seorang warga Kelurahan Kaong Jaya, Kecamatan Karawaci Fakhrudin mengatakan, bentrokan terjadi karena Satpol PP memaksakan membongkar makam Wareng. Padahal, warga hanya bertahan menunggu negosiasi yang sedang berlangsung antara perwakilan warga dan Pemkot Tangerang. “Korban ada. Tadi luka-luka. Itulah yang tadi saya katakan dari pihak warga tidak ada yang menyerang. Kami hanya mempertahankan makam Wareng," kata Fakhrudin kepada wartawan di tempat lokasi.

Menurut Fahrudin, alasan warga menolak penggusuran karena makam Wareng sudah ada sejak jaman kolonial. Pemkot Tangerang belum memiliki lokasi makam baru untuk memindahkan jasad yang dikubur di makam tersebut. "Lahan ini pada zaman dulu memang sudah ada untuk warga kita. Mungkin pada zaman dulu semua dokumen atas lahan ini ada, tetapi karena wilayah ini sempat dibumihanguskan dahulu dan hilanglah semua dokumen itu," tuturnya.

Fahrudin menilai, tindakan pengusuran itu tidak mencerminkan negara hukum. Warga yang sedang mempertahankan hak tidak dihiraukan. “Warga akan musyawarah terlebih dahulu untuk memutuskan apakah mengambil jalur hukum atau tidak,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Tangerang Agus Henra Fitrahiyana mengatakan, sebelum penggusuran makam dilakukan, pihaknya sudah melayangkan surat peringatan ketiga dalam rencana eksekusi. Bahkan, dialog-dialog dalam melakukan persetujuan bersama pun telah dilakukan.

Tapi, eksekusi makam Wareng yang rencanakan digunakan untuk mengurai kemacetan di Jalan KS Tubun ini, tidak ada titik terang. "Kami sudah melalui beberapa tahapan dari mulai tahap pertama sampai ketiga. Dialog juga sudah. Dan hari ini (kemarin -red) sesuai dengan rencana yaitu penertiban di pemakaman Wareng," ungkapnya.

Agus menambahkan, Satpol PP terpaksa membongkar makam Wareng karena warga tak dapat memperlihatkan dokumen resmi kepemilikan lahan pemakaman tersebut. “Membongkar makam untuk dibangun  jalan ini bukan untuk kepentingan pribadi, tapi kepentingan masyarakat,” katanya. (imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook