Balon Bupati Kritisi Kinerja Irna-Tanto

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Senin, 21 Oktober 2019 - 11:16:51 WIB   |  dibaca: 60 kali
Balon Bupati Kritisi Kinerja Irna-Tanto

DISKUSI: Bakal calon Bupati Pandeglang, Tani Fathoni (dua dari kiri), mengemukakan pendapatnya dalam diskusi mingguan yang digelar Fakultas Hukum dan Sosial (FHS) UNMA Banten di Kecamatan Saketi, Sabtu (19/10) lalu.

PANDEGLANG, BANTEN RAYA - Empat bakal calon (balon) Bupati Pandeglang, yakni Toni Fathoni Mukson, Aap Aptadi, Oji Fachruroji, dan Muhammad Nabil Jayabaya yang diwakili oleh Agus R Wisas mengkritisi kepemimpinan petahana Irna Narulita-Tanto Warsono Arban.  Hal ini mereka ungkapkan dalam diskusi mingguan bertajuk Lorong Diskusi yang digelar Fakultas Hukum dan Sosial (FHS) UNMA Banten di Kecamatan Saketi, Pandeglang, Sabtu (19/10) lalu. Lorong diskusi kali ini dihadiri juga oleh sosiolog Banten Suwaib Amirudin, Dekan FISIP Unma Said Ariyan, dan sejumlah mahasiswa.

"Salah satu masalah yang dihadapi Kabupaten Pandeglang adalah pendapatan asli daerah (PAD) yang minim, namun pelaksanaan program pembangunan tidak sesuai skala prioritas," kata Oji Fachruroji, salah satu bakal calon Bupati Pandeglang yang akan maju melalui jalur perseorangan saat diberikan kesempatan berbicara di depan forum.

Masalah lain, kata alumni FH UNMA Banten tahun 2005 ini, kepala daerah kurang memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengisi jabatan di sejumlah perusahaan di Pandeglang. Serta masalah lain, yakni masih minimnya peran pemerintah daerah dalam mengoptimalkan potensi.

"Kita bisa lihat di PLTU Labuan, untuk jabatan-jabatan strategis masih diisi oleh bukan warga lokal. Sementara warga lokal baru pada posisi sekuriti atau cleaning service, ini menjadi masalah yang harus diselesaikan," kata Oji.

Agus Wisas yang mewaliki Nabil Jayabaya mengatakan terpanggil untuk memperbaiki Kabupaten Pandeglang yang dinilai tidak banyak berubah di bawah kepemimpinan Irna Narulita.  “Kenapa keluarga Jayabaya ikut dalam Pilkada Pandeglang? Itu mungkin pertanyaannya.

Seandainya Pandeglang maju, masyarakatnya sejahtera, daerahnya kondusif dalam berinvestasi, kami pasti tidak akan ikut campur. Karena mengurus daerah itu butuh energi besar. Kami maju di Pandeglang, karena sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat Pandeglang,” ujar Agus Wisas.

Balon calon bupati legendaris Aap Aptadi dalam diskusi ini mengungkapkan, tidak kapok untuk kembali maju pada Pilkada Pandeglang meski sudah dua kali kalah.  “Yang bisa menghentikan saya nyalon bupati itu satu kalimat, innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Aap saat membuka paparan, seraya disambut gelak tawa hadirin.

Menurut Aap, membangun Pandeglang tidak hanya berbicara anggaran, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun Dana Alokasi Umum (DAU). Namun salah satu yang penting adalah bagaimana daerah mampu menggali potensinya dengan optimal untuk kepentingan masyarakatnya.

“Membangun Pandeglang itu bukan bicara DAK atau DAU, tapi bagaimana kita menggali potensi. Di Lebak, ada pabrik dengan gaji karyawannya sesuai UMP. Namun di Pandeglang baru muncul pabrik Mayora saja sudah didemo, bagaimana mau maju,” tegas Ketua DPD Partai Perindo Pandeglang ini.

Dalam diskusi ini, Ketua DPC PKB Pandeglang yang juga bacalon bupati Toni Fathoni Muskon berjanji akan menjadikan desa sebagai tampak muka pembangunan Pandeglang dengan melibatkan mahasiswa, membangun jalan di depan Kampus UNMA, dan akan memberdayakan para sarjana untuk membangun desa. “Pembangunan di Pandeglang belum merata. Jika kelak terpilih saya siap memeratakan pembangunan dan dinikmati semua kalangan,” katanya.

Sementara, akademisi UNMA Banten, Ali Nurdin berpesan kepada masyarakat untuk tidak mempercayai janji politisi, namun harus melihat dari rekam jejak dan dedikasi terhadap daerah. “Yang bisa dilakukan oleh kita, jangan percaya janji atau omong kosong, tapi lihat track record-nya. Apa yang sudah dia perbuat untuk Pandeglang,” pesannya.

Dalam diskusi tersebut Ali Nurdin menyentil, dari beberapa kandidat, tidak satu pun yang membahas soal efisiensi anggaran. Diakuinya, isu tersebut memang tidak populis. “Negara kita hampir bangkrut karena menutupi biaya pejabatnya dan APBD Pandeglang masih tinggi untuk belanja pegawai dibanding belanja pembangunan,” tandasnya. (muhaemin)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook