Kedepankan Jurnalisme Empati

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 22 Oktober 2019 - 13:12:30 WIB   |  dibaca: 36 kali
Kedepankan Jurnalisme Empati

ISI MATERI: Endah Lismartini (kiri) saat menjadi pembicara lokakarya penulisan pemberitaan HIV dan AIDS bagi jurnalis se-Provinsi Banten yang digelar KPA Banten, di Hotel Horison Ultima Ratu Serang, Senin (21/10).

SERANG, BANTEN RAYA- Setiap jurnalis diminta mengedepankan jurnalisme empati ketika meliput orang dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA rentan mendapat stigma dan pengucilan, karena itu wartawan harus memiliki empati ketika akan memberitakan mereka.

Ketua Bidang Gender Anak dan Kelompok Marjinal pada Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Endah Lismartini mengatakan, jurnalisme empati lebih menekankan sisi human interest dalam proses produksi berita sejak dari mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Jurnalisme empati mengajarkan untuk melihat, mendengar, dan merasakan dan sisi narasumber. Bukan mencari dan memberikan berita sesuai dengan keinginan pembaca maupun jurnalis sendiri.

“Mengapa jurnalisme empati? Agar para pembaca dapat melihat, mengerti, dan merasakan apa yang narasumber rasakan,” kata Endah saat menjadi pembicara lokakarya penulisan pemberitaan HIV dan AIDS bagi jurnalis se-Provinsi Banten yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten, di Hotel Horison Ultima Ratu Serang, Senin (21/10).

Endah menyatakan bahwa empati tidak sama dengan kasihan. Empati lebih menekankan pada ikut merasakan dan memahami sebagai sesama manusia. Ketika berempati, jurnalis masih dapat membuat berita secara objektif. Sementara ketika kasihan berita yang dihasilkan akan subjektif.“Fungsi media massa sesuai undang-undang pers adalah sebagai media pendidikan. Empati bagian dari fungsi edukasi pers,” kata redaktur kanal indepth VIVAnews.com ini.

Ketika mengedepankan peliputan dengan pendekatan jurnalisme empati, maka narasumber yang banyak diangkat adalah mereka yang tersingkirkan atau marjinal. Mereka itu adalah para penderita HIV/AIDS, LGBT, korban kejahatan, dan korban bencana alam.

Ketika meliput ODHA, maka yang harus dilakukan wartawan adalah berempati, mendengar, memahami, dan memberikan fakta.“Yang tidak boleh dilakukan adalah menghakimi, menilai, membantah, dan melibatkan opini,” ujar Endah seraya menambahkan bahwa memberitakan ODHA juga sebaiknya menghilangkan stigma yang selama ini melekat, seperti ODHA memiliki penyakit kutukan, melakukan perbuatan tercela, menakutkan, dan berbahaya.

Kepala Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten Yanuar Sadewa mengatakan bahwa tren penggunaan narkotika saat ini bergeser dari opiat ke stimulus. Perubahan ini membuat penularan HIV pun berubah. Dahulu, orang menggunakan narkotika seperti putaw yang cara pemakaiannya harus disuntikkan ke tubuh dengan menggunakan jarum suntik. Ketika banyak orang menggunakan jarum suntik secara bergantian, perilaku beresiko menularkan virus HIV tinggi bila ada salah satu pengguna jarum suntik yang positif HIV.

Saat ini, karena penggunaan narkotika untuk tujuan stimulus, maka narkotika yang digunakan lebih banyak jenis sabu-sabu dan ineks. Efeknya, orang bisa bersemangat dan segar bugar selama berhari-hari termasuk kuatnya dorongan melakukan seks. Karena itu, saat ini penularan HIV lebih banyak terjadi akibat seks bebas, karena pengguna jarum suntik sudah tidak ada.“Kalau orang pakai sabu-sabu dorongan seksnya kuat. Dia enggak peduli sama wajah, asal mau pasti disikat,” katanya.

Yanuar mengungkapkan bahwa di Banten saat ini terdapat 174.000-an pecandu narkotika. Dari jumlah itu hanya 7-8 persennya saja yang ikut rehabilitasi. Kendala masih sedikitnya pecandu narkoba direhabilitasi karena empat hal, yaitu takut hukum, stigma, akses informasi, dan biaya.

Faktor takut hukum terjadi karena pecandu narkotika takut bila melapor bahwa ia kecanduan akan ditangkap. Padahal, setiap pecandu tidak akan ditangkap karena hanya akan direhabilitasi. Terkait stigma, para pecandu takut dengan stigma negatif pecandu yang kerap dianggap sampah masyarakat dan semacamnya.

Untuk akses informasi, banyak pecandu yang tidak tahu ketika ingin direhabilitasi harus ke mana. Padahal, di Banten ada sejumlah lembaga yang menerima penanganan rehabilitasi, seperti BNN Provinsi Banten, BNN Kota Cilegon, dan BNN Kota Tangerang. Sementara RSUD sampai saat ini belum melayani pecandu. Terakhir, karena pecandu menganggap rehabilitasi memakan biaya tinggi, padahal ini dilakukan gratis, termasuk ketika harus menginap.“Pecandu bukan pelaku tindan pidana,” katanya. (tohir/rahmat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook