Ekonomi Banten Melambat

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Sabtu, 02 November 2019 - 11:54:21 WIB   |  dibaca: 143 kali
Ekonomi Banten Melambat

MENCERAHKAN : Kepala Perwakilan BI Banten Erwin Soeriadimadja (depan kedua dari kiri) bersama para pembicara dan undangan Temu Responden BI Banten, Jumat (1/11).

KOTA TANGERANG, BANTEN RAYA - Pertumbuhan ekonomi Banten melemah di tahun 2019 dibandingkan 2018. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan, hingga semester I 2019, pertumbuhan ekonomi Banten tercatat sebesar 5,39 persen atau melambat dibandingkan tahun 2018 sebesar 5,81 persen. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten masih lebih tinggi dibandingkan angka nasional pada periode yang sama sebesar 5,06 persen.

Hal itu terungkap dalam kegiatan temu responden yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Banten di Ballroom JHL Solitaire, Tangerang, Jumat (1/11). Kegiatan ini mengusung tema Mengenai Dunia Usaha di Era Revolusi 4.0 Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah Acara dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja,

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Purwanto, Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Banten Doddy Panggaribuan, dan tamu undangan lain. Temu responden menghadirkan narasumber ekonom Aviliani dan CEO General Electric Indonesia Handry Satriago dengan moderator komika Pandji Pragiwaksono.

Meski pertumbuhan ekonomi melambat, kata Erwin, ekspor Provinsi Banten pada semester I mampu tumbuh 1,47 persen. Basis industri yang besar dalam struktur perekonomian Provinsi Banten mendorong komponen ekspor mampu tetap tumbuh positif.

Bank Indonesia dalam kesempatan itu juga menyoroti perihal inflasi di Banten yang berada di atas rata-rata nasional 3,13 persen. Inflasi Banten hingga triwulan III 2019 tercatat sebesar 3,64 persen atau meningkat dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2018 yang tercatat 3,42 persen.

Tingginya tekanan inflasi selain disebabkan oleh kelompok volatile food atau fluktuasi harga pangan, juga disebabkan oleh kelompok inti, salah satunya komponen perumahan. “Kondisi geografis Provinsi Banten yang berdekatan dengan DKI Jakarta mendorongnya menjadi salah satu daerah penopang ibukota. Hal ini berimplikasi pada semakin tingginya harga aset dan rumah di wilayah provinsi Banten khususnya Tangerang Raya," kata Erwin.

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter mengeluarkan bauran kebijakan yang mampu memberikan daya dukung terhadap tiga aspek permasalahan yakni pertumbuhan ekonomi, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan. 

Sepanjang tahun 2019, kata Erwin, dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi dunia, Bank Indonesia telah melonggarkan kebijakan moneter. Bank Indonesia telah melakukan penurunan BI-7day reverse repo rate sebanyak empat kali dari 6,00 persen menjadi 5,00 persen di tahun 2019.

Tidak hanya itu, untuk lebih mendorong mesin pertumbuhan ekonomi lebih cepat Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian GWM sebesar 50 bps untuk menambah ketersediaan likuiditas bank umum dan bank umum syariah sehingga diharapkan kemampuan intermediasinya dapat semakin besar.

Pengamat ekonomi Aviliani menuturkan, melihat kondisi perekonomian global yang sedang terkontraksi, maka Indonesia perlu aktif untuk melihat peluang pengembangan sektor prioritas. Hilirisasi industri harus menjadi prioritas kebijakan untuk memperbaiki kondisi neraca perdagangan.

Pentingnya hilirisasi industri antara lain untuk percepatan pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, penghematan devisa melalui substitusi impor, peningkatan nilai tambah di dalam negeri, peningkatan penerimaan devisa, percepatan penyebaran industri, serta pendalaman dan penguatan struktur industri.

Selain itu, pariwisata, ekonomi kreatif dan e-dagang, dapat menjadi sumber – sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini sejalan dengan revolusi industri 4.0, yaitu peralihan dari old industrial economy ke knowledge driven economy dimana e-commerce makin berkembang. Pemerintah Indonesia menargetkan akan menjadi pusat digital di Asia Tenggara tahun 2020 dengan penerbitan roadmap e-commerce. "E-commerce Indonesia masih berprospek cerah, diperkirakan tahun 2020 nilai e-commerce di Indonesia mencapai Rp141 triliun dan akan mencapai Rp676 trilliun pada tahun 2030," katanya.

CEO General Electric Indonesia Handry Santriago menyampaikan, untuk menghadapi tantangan dunia usaha di era revolusi industri 4.0, Indonesia memerlukan pemimpin yang aware terhadap perubahan dan dapat mengikuti perkembangan jaman.

Dalam era sekarang angkatan kerja didominasi oleh generasi milenial dengan ide yang baru dan persistent dengan ide tersebut. "Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari generasi milenial ini. Peningkatan skill generasi milenial terutama bagi low skill untuk juga perlu dipikirkan agar tidak beresiko tergantikan dengan mesin," tuturnya.

Sekedar diketahui, kegiatan yang digelar BI Perwakilan Banten dihadiri oleh 200 orang dari dari berbagai instansi pemerintahan, perbankan, akademisi dan pelaku usaha yang menjadi responden survei Bank Indonesia. (*/mg-ipul/fikri)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook