Krakatau Steel Sulit Berkinerja Baik

nurul roudhoh   |   Bisnis  |   Kamis, 07 November 2019 - 10:52:12 WIB   |  dibaca: 11 kali
Krakatau Steel Sulit Berkinerja Baik

GENJOT PRODUKSI: Pekerja Krakatau Steel melakukan pengecekan produksi plat baja.

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk (KS) saat ini tengah berjuang menyelamatkan perusahan dari jeratan utang yang menumpuk. Kendati demikian, upaya keras itu tidak akan membuahkan hasil. Artinya kinerja perusahaan pelat merah itu masih tetap buruk.

Dalam laporan keuangan per September 2019, KS masih membukukan kerugian sebesar 211,91 juta dolar AS atau sekitar Rp2,96 triliun pada 9 bulan tahun ini dari periode yang sama tahun sebelumnya 37,38 juta dolar AS atau Rp523,32 miliar, naik lima kali lipat.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menilai, perusahaan BUMN itu akan sulit menunjukkan kinerja baik. Sejak awal pendiriannya sudah diproyeksikan akan merugi.“Karena sejak dalam pendiriannya pun sudah diprediksi akan mengalami kerugian. Hal ini terjadi sampai sekarang,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Selasa (5/11).

Huda menduga, keberadaan KS bukan bertujuan untuk mencari untung namun hanya sekadar diakui saja keberadaannya.“Nampaknya tujuan KS bukan nyari untung namun hanya untuk eksistensi sektor strategis,” kata Huda.

Terkait utang perusahaan negara itu, Direktur Utama KS, Silmy Salim mengatakan, harapannya bisa menuntaskan restrukturisasi utang senilai 2,2 miliar dolar AS pada tahun ini. Atau, restrukturisasi utang telah mencapai 78 persen dari utang restrukturisai 2,2 miliar dolar AS.Ungkap Silmy, pada pada 30 September 2019, KS telah melakukan penandatanganan perjanjian kredit restrukturisasi dengan para kreditur.

Kreditur itu adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank ICBC Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank), PT Bank Central Asia Tbk.Kata Silmy, perseroan akan menuntaskan restrukturisasi utang 22 persen itu pada akhir tahun ini. “(Restrukturisasi utang) 78 persen dari 2,2 miliar dolar AS,” ujar Silmy di Jakarta, Selasa (5/11).

Lanjut Silmy, setelah setelah restrukturisasi selesai, KS akan fokus pada transformasi untuk membenahi kinerja yang merugi sejak 2012 itu. Silmy optimistis hasil restrukturisasi bakal tercermin pada perolehan laba pada kuartal I/2020. Pihaknya menyebut perlu waktu 3-5 tahun untuk membuat KRAS kembali sehat, setelah rugi sejak 2012.(din/fin)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook