SMAN 2 Leuwidamar Disegel Ketua Komite Sekolah

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Kamis, 07 November 2019 - 13:42:51 WIB   |  dibaca: 94 kali
SMAN 2 Leuwidamar Disegel Ketua Komite Sekolah

TERGANGGU : Siswa SMAN 2 Leuwidamar menunjukan ruang kelasnya yang disegel oleh Ketua Komite Sekolah, kemarin.

LEBAK, BANTEN RAYA - Dua ruang kelas, dan satu ruang guru SMA Negeri 2 Leuwidamar, Desa Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, disegel menggunakan kayu oleh Ismail Karis yang mengaku sebagai pemilik tanah. Ismail Karis yang juga Ketua Komite SMAN 2 Leuwidamar menyatakan bahwa aksi itu dilakukan karena sekolah dan Pemprov Banten belum melunasi sisa pembayaran lahan seluas 2.000 meter.

Ia menceritakan bahwa di 2018, sekolah kekurangan kelas sampai siswa harus belajar darurat di lantai. "Lalu dari pihak sekolah mengajukan tambahan lokal dan dapat bantuan tiga lokal, satu ruang guru dan dua ruang kelas. Bantuan dapet tapi lahan tidak ada. Akhirnya saya selaku warga asli merasa prihatin dan bersedia melepas lahan untuk dibangun," katanya, kemarin.

Bantuan ruang kelas berasal dari pemerintah pusat. Pemerintah pusat memberikan bantuan fisiknya namun tidak dengan tanahnya. "Akhirnya pada waktu itu saya sepakati silakan bangun tapi nanti harus dilunasi. Kesepakatan dibuat karena memang dari provinsi juga memiliki program pengadaan lahan untuk perluasan sekolah dan oleh pihak sekolah sudah diajukan dan saya juga sudah ikut ke provinsi namun sampai akhir tahun 2018 lalu tidak ada kejelasan kapan mau dibayar," katanya.

Ismail mengatakan, ia sudah menerima uang Rp 165 juta dari pihak sekolah dengan cara dicicil. "Uang sebagian memang sudah saya terima, namun tuntutan saya ialah kapan mau bayar sisa lahan. Luasnya kan 2.000 meter dan saya menjualnya minta harga Rp200 ribu karena mengikuti harga pasaran saat ini," katanya.

Pada 11 Oktober lalu, kata Ismail, ia menemui kepala sekolah dan menyatakan akan menyegel ruang kelas jika lahan miliknya tak juga dilunasi. "Saya beri waktu sampai 1 November, pas tiba waktunya yaitu pada hari Jumat saya datang ke sekolah namun kepala sekolah tidak ada. Akhirnya karena tidak ada penyelesaian pada hari Sabtu, 2 Oktober saya tutup disaksikan penjaga sekolah," katanya.

Wakasek Kurikulum SMAN 2 Leuwidamar Rahmat Arif menuturkan, ruang kelas disegel sejak Sabtu (2/11). "Kalau pada hari Sabtu ya gak terasa dampaknya karena memang hari libur. Tapi begitu di hari Senin barulah kita merasakan dampak atas adanya penyegelan terhadap dua ruang kelas siswa dan satu ruang guru," katanya.

Rahmat mengungkapkan, penyegelan berdampak terganggunya kegiatan belajar mengajar."Seharusnya siswa belajar di dua ruang kelas, ini disatukan di satu ruangan. Itu mungkin agak mengganggu tapi kalau KBM tetap berjalan bisa diselesaikan dengan melakukan penggabungan kelas X IPS 1 dan 2 digabung saru kelas lalu untuk kelas X IPA 1,2, dan IPA 3 digabung di dua kelas," katanya.

Rahmat menjelaskan, sebenarnya lahan yang digunakan untuk pembangunan kelas dan ruang guru tidak sampai 2.000 meter. "Sekitar 600 meter, yang saat ini sudah dibangun tiga lokal yaitu dua ruang KBM dan satu ruang guru.

Cuman pemilik berkeinginan semua lahan seluas 2.000 meter itu dibayar sama provinsi, jadi tolong dari pihak provinsi agar bisa membantu sekolah untuk bisa menyelesaikan dan membayarkan lahan sekolah ini adalah milik provinsi.  Jadi tolong provinsi untuk bisa menyelesaikan masalah, sehingga anak didik ini tidak jadi korban daripada adanya penyegelan ini," katanya.

Rahmat mengungkapkan, pihak sekolah sudah menyicil pembayaran Rp165 juta. "Keinginan dibeli semua menguat karena pada tahun 2018 lalu tim dari provinsi sudah datang dan melakukan pengukuran lahan mau dibebaskan. Namun ternyata pembebasannya batal dilakukan sehingga membuat pemilik menuntut segera dilakukan pelunasan dengan harga penawarannya minta Rp 200 ribu per meter," katanya. (purnama)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook