Festival Pesisir Hanya Eksploitasi Nelayan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 08 November 2019 - 12:25:00 WIB   |  dibaca: 137 kali
Festival Pesisir Hanya Eksploitasi Nelayan

BELUM SENTUH SUBSTANSI: Warga nelayan di Kelurahan Banten, Kecamatan Serang, berpartisipasi dalam Festival Pesisir tahun lalu.

SERANG - Festival Pesisir yang merupakan agenda rutin tahunan Disparpora Kota Serang, disebut hanya eksploitasi nelayan. Para nelayan hanya sebagai pelengkap semata, dan nelayan pun tidak diberikan kesempatan untuk terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, para nelayan pun mengkritisi kinerja panitia penyelenggara dalam pelaksanaan Festival Pesisir pada tahun lalu. Pasalnya pada pelaksanaan sebelumnya terdapat catatan buruk karena sempat terjadi tindakan nepotisme, dalam perlombaan kapal hias. Tindakan itu berupa penetapan pemenang lomba berdasarkan kedekatan dengan panitia.

Kepala kampung nelayan Karangmulya Widri mengatakan, setiap kampung nelayan diwajibkan mengirim 10 peserta lomba dalam Festival Pesisir ini."Dari pihak panitianya, itu mewajibkan setiap kampung mengirimkan 10 peserta. Karena di tempat saya itu ada 60 perahu, makanya untuk peserta kami undi," kata Widri, saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Kamis (7/11).

Ia berharap seharusnya pihak panitia dalam hal ini Disparpora Kota Serang, tidak hanya menggandeng nelayan untuk mengirimkan pesertanya saja, akan tetapi juga dilibatkan dalam membuat konsep hingga teknis acara."Semua ini kan diatur oleh Dinas, sementara nelayan gak bisa ngomong. Palingan kami hanya diminta untuk mencarikan perahu, 10 per kampungnya. Sedangkan acara nelayan yang sebenarnya itu gak ada tuh," ucap dia.

Widri menjelaskan, apabila para nelayan dilibatkan dalam Festival Nelayan, maka panitia penyelenggara tidak perlu repot mewajibkan adanya 10 perwakilan di setiap kampung nelayan. Karena dengan sendirinya para nelayan akan turut serta meramaikan."Ya dengan catatan, kami dilibatkan. Karena kan dalam masyarakat nelayan, ada juga yang namanya ritual Nadran. Cuma ya ada perbedaan persepsi antara kami dengan penyelenggara.

Kalau memang kami dilibatkan, dan konsep Nadran benar-benar dilakukan dalam Festival Pesisir ini, dinas tidak perlu mikirin gimana biar nelayan ikut berpartisipasi. Sudah pasti semua ikut. Bahkan kami berani ngutang untuk menghias perahu-perahu kami," jelasnya.

Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan festival pesisir sebelumnya sempat terjadi tindakan nepotisme yang dilakukan oleh panitia. Hal ini dikarenakan pada saat itu, salah satu peserta lomba dari kampungnya, berhasil memenangkan lomba hias perahu."Namun ketika ingin mengambil hadiahnya, tiba-tiba pemenangnya itu bukan dia. Tapi dari kampung lain, yang ternyata dekat dengan panitia," ungkap Widri.

Oleh karena itu, masih kata Widri, pihaknya pun berharap, dalam Festival Pesisir tahun ini, para nelayan dapat dilibatkan secara aktif, bukan hanya sebagai pelengkap semata."Ya harus lebih baik lagi. Jangan sampai seperti tahun kemarin, kami disebut sebagai panitia, tapi benar-benar gak dilibatkan," tegas dia.

Sementara itu, salah satu warga, Hatipah, membenarkan adanya tindakan nepotisme. Karena, ia merupakan orang yang menjadi korbannya."Saya ditelepon sama pak Widri, kalau perahu saya menang. Terus saya disuruh datang ke lokasi pengambilan hadiah. Waktu itu sudah nunggu dari pagi sampai sore, tiba-tiba yang memegang (memenangkan) hadiah ternyata dari kampung lain yang dekat sama panitia," akunya.

Melihat kondisi tersebut, keluarga Hatipah menyarankan untuk tidak perlu dipermasalahkan, namun Hatipah menolak saran tersebut."Awalnya teteh saya itu bilang gak usah dipermasalahkan, karena kami ini orang kecil. Tapi saya gak mau, karena itu hak saya. Akhirnya dibantu sama pak Widri, saya bisa mendapatkan hak saya," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Disporapar Kota Serang, Akhmad Zubaidillah, mengatakan bahwa tidak dilibatkannya nelayan dalam hal konsep dikarenakan minimnya anggaran."Karena memang kami anggarannya terbatas ya, jadi kami ini lebih kepada pemberdayaan masyarakat. Selain itu juga menonjolkan dari sisi kepariwisataannya," ungkap Zubaidillah, ditemui setelah pembukaan acara turnamen futsal Piala Pelajar Kota Serang, kemarin sore.

Ia juga berjanji, kejadian nepotisme seperti tahun lalu tidak akan terulang kembali, karena saat ini berbagai lembaga dilibatkan sebagai dewan juri."Insya Allah tidak ada lagi yang namanya nepotisme. Karena juri dari Polda ada, dari Polsek ada, dari kecamatan ada. Jadi ini independen ya, tidak ada kecenderungan terhadap satu pihak lagi," tandasnya. (harir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook